Tiga Kesalahan Ber-Social Media

Mengelola social media sebagai alat komunikasi perusahaan bukanlah perkara mudah. Selain harus mengikuti platform untuk proses sign up, mau tidak mau kita juga harus update dengan fitur-fitur baru yang mereka tawarkan. Belum lagi pengelolaan dari segi konten, banyak hal yang harus diperhatikan agar pesan yang disampaikan perusahaan sampai dan dipahami sesuai maksud pembuatnya oleh konsumen.

Kabar baiknya adalah, kita masih dapat mempercayakan promosi kita melalui social media asalkan tahu bagaimana menyiasatinya.

Sebagai langkah awal, cobalah menghindari tiga kesalahan bermedia sosial berikut, seperti dilansir dari socialmediatoday.com:

1. Mempertanyakan hal yang tidak krusial

Mengelola facebook atau twitter, orang-orang mulai bertanya-tanya seberapa sering mereka harus men-tweet atau meng-update blognya. Padahal, jauh lebih penting dari semua itu adalah penyajian produk atau jasa yang kita pasarkan.

Jika kita menawarkan produk, buatlah produk itu seunik mungkin, sehingga produk kita tidak dianggap ‘pasaran’ dan orang akan lebih tertarik membeli. Demikian juga untuk jasa, berikan kepada konsumen pelayanan yang melebihi ekspektasi mereka.

Jadi, ketimbang kita sibuk dengan pertanyaan berapa hari sekali harus men-tweet atau update status, pikirkanlah juga mengenai kualitas produk kita. Seperti yang terjadi pada Red Bull dan Oprah, keduanya sukses dalam social media karena memang memiliki produk yang bagus, bukan karena men-tweet 15 kali sehari atau semacamnya.

2. Minimnya Fokus

Mengenai hal ini, mungkin kita bisa belajar dari apa yang pernah terjadi di Apple. Ketika Steve Jobs (mendiang) kembali lagi ke Apple pada tahun 1997, ia mendapati bahwa perusahaan tengah membuat berbagai macam versi untuk produk yang sama demi memenuhi permintaan pengecer.

Melihat itu, sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Steve, “Produk yang mana yang bisa saya rekomendasikan kepada teman saya?” Tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia pun segera memutuskan untuk mengurangi variasi produk hingga 70 persen.

Demikian halnya dengan bermedia sosial, pilihlah salah satu jejaring lalu kelolalah dengan optimal. Perlu diingat bahwa sebelum memutuskan untuk memakai sebuah jejaring, pastikan terlebih dahulu apakah sebagian besar target konsumen kita memiliki akun jejaring tersebut. Pertimbangkan juga tipe-tipe aktivitas apa yang mampu mendongkrak marketing ROI kita.

3. Menetapkan Ekspektasi yang tidak Realistis

Seth Godin, seorang pakar marketing menyatakan bahwa kesalahan terbesar yang dilakukan oleh seorang marketer adalah tidak mau bersabar (impatient). Maksudnya adalah, ketika kita menginginkan lonjakan penjualan minggu depan, tidak bisa kita melakukan marketing hari ini. Seharusnya, kita telah melakukannya tiga tahun sebelumnya. Sales dan marketing hanya akan memberikan dampak apabila kita dapat membuat konsumen percaya, dan kepercayaan itulah yang tidak mungkin didapatkan secara instan.

Memasang promosi atau iklan, layaknya kita menyewa perhatian konsumen (rent customer attention), sedangkan inbound marketing (pemasaran intensif melalui media online) seperti halnya kita mendapatkan perhatian konsumen (earn customer attention). Keduanya bisa saling menggantikan jika memang dua-duanya tidak bisa dilakukan bersamaan. Jika kita tidak memiliki banyak waktu dan energi untuk melakukan pemasaran, maka kita harus rela menginvestasikan lebih banyak uang. Sebaliknya, jika kita tidak memiliki banyak uang, mau tak mau, kita harus intensif mengelola sarana marketing kita seperti blog, website maupun social media untuk meraih atensi konsumen.

Tags: ,