Prinsip Memenangkan Orang Lain

Tidak dapat dipungkiri bahwa karakteristik yang paling diperlukan untuk sukses di segala bidang adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain. Hal ini diucapkan dan dibuktikan oleh para direktur utama perusahaan yang sukses, pedagang ulung, para guru, dan orang tua karena mereka menyadari kehidupan bermula dari adanya interaksi dengan orang lain. Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang baik merupakan faktor utama yang tidak ternilai harganya dan akan menentukan seseorang sukses atau gagal.

Pemimpin yang sukses tahu bahwa mereka harus mendahului kepentingan orang lain dan menggunakan posisinya untuk melayani orang lain, dengan cara menjadi teladan, memberikan dorongan yang positif dan yang paling utama selalu memperbaiki hubungan dengan orang lain. Tingkat kematangan individual seseorang akan diuji ketika ia menerima tanggung jawab kepemimpinan.

Sebaliknya pemimpin yang tidak bertanggung jawab mementingkan dirinya terlebih dahulu dan menggunakan posisi mereka semata-mata untuk keuntungan pribadi. Padahal bila kita egois dan hanya mementingkan diri sendiri, maka satu-satunya orang yang bekerja untuk kita hanyalah diri kita sendiri. Sedangkan bila kita membantu sejumlah orang lain menghadapi masalah mereka, maka kita memiliki sejumlah orang bekerja bersama kita.

Buku ini terdiri dari lima bagian penting, yaitu kesiapan seseorang untuk memiliki hubungan dengan orang lain, kesediaan seseorang untuk memberikan fokus pada orang lain, kepercayaan terhadap orang lain, investasi dalam diri orang lain, dan hubungan sinergi yaitu untung sama untung. Setiap bagian memiliki prinsip-prinsip yang disertai contoh detil dan pemahaman yang riil untuk kemudian bisa membuka hati pembaca untuk menerapkannya secara nyata. Prinsip-prinsip hubungan ini digolongkan oleh penulis berdasarkan pengalamannya dan telah terbukti berhasil, tidak terbatas hanya pada lingkungannya saja, namun juga dapat diaplikasikan di seluruh dunia, karena prinsip yang ia tawarkan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Misalnya ketika membahas prinsip pertukaran alih-alih menempatkan orang lain pada tempat mereka, kita harus menempatkan diri sendiri pada tempat mereka disadari bahwa lawan dari cinta bukanlah benci melainkan terpusat pada diri sendiri. Jika fokus seseorang selalu pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah membangun hubungan positif.

Dalam satu lingkungan kerja yang positif, orang tidak melihat segala sesuatu dari satu sudut pandang semata. Melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain akan membantu seseorang berhasil dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya ketika seorang bawahan terlibat konflik dengan atasannya, sebaiknya ia tidak hanya berusaha untuk melihat persoalan dari sisinya sendiri, tetapi juga dari sisi atasannya.

Selain itu ada prinsip yang menarik yang dibahas dalam buku ini, yaitu prinsip pembelajaran, bahwa setiap orang berpotensi mengajarkan sesuatu. Namun bukan berarti setiap orang yang kita temui akan mengajari kita sesuatu, tetapi setiap orang memiliki potensi untuk melakukan hal itu apabila kita memberi kesempatan kepada mereka. Bahkan seorang kriminal pun bisa menjadi sarana tempat belajar.

Penulis mencontohkan pengalamannya ketika ia menghadiri suatu konferensi, ia berencana hanya akan mengikuti sesi yang diisi oleh pembicara senior yang sangat berpengalaman dan sukses. Ia tidak berkeinginan untuk mengikuti sesi pertukaran gagasan/diskusi bagi semua orang, karena ia menganggap hal itu tidak terlalu bermanfaat. Namun setelah akhirnya ia mengikuti sesi tersebut, ia menyadari bahwa ia telah mendapatkan lebih banyak hal dari sesi tersebut dibandingkan semua sesi pada hari itu digabung. Sikap merendahkan orang akan menutup kemungkinan kita untuk belajar.

Dalam prinsip karisma, penulis percaya bahwa orang akan tertarik pada orang yang tertarik padanya. Ia menjabarkan hal-hal praktis untuk membuat diri kita disukai orang lain, yaitu sungguh-sungguh tertarik pada orang lain dengan cara menunjukkan bahwa sebagai individu orang tersebut berarti bagi kita. Orang tidak akan peduli seberapa terpelajar diri kita, sampai mereka tahu seberapa besar kita memiliki hati. Selain itu penting untuk menghiasi wajah dengan senyuman untuk menarik hati orang lain dan memperlakukan orang lain dengan cara mereka ingin diperlakukan, dan lain sebagainya.

Seperti yang diungkapkan penulis dalam bukunya, Orang tanpa karisma memasuki suatu kelompok dan mengatakan Inilah saya. Orang dengan karisma mengatakanItulah Anda.”

Setiap perubahan dimulai dari diri sendiri. Untuk membuat perubahan kehidupan menjadi lebih baik dengan memperbaiki cara berhubungan dengan orang lain, maka buku ini sudah semestinya menjadi bacaan wajib.