Pelajaran Tentang Disiplin Menjalankan Sebuah Visi

Beberapa tahun yang lalu, saat masih kuliah, saya membaca buku Pour Your Heart into It karya Howard Schultz pendiri Strabucks, yang sangat inspirasional. Dan beberapa hari yang lalu, saya baru saja menyelesaikan buku  Bukan Sekedar Kop karya Howard Behar. Dia eksekutif senior Starbucks, ketika jaringan raksasa gerai kopi asal Amerika itu baru mempunyai 28 cabang, dan telah mengabdikan 30 tahun kariernya mengembangkan perusahaan tersebut hingga mempunyai ribuan cabang di seluruh dunia.

Buku ini, tanpa bertele-tele dan sangat sistematis, berbagi pengalamannya tentang 10 prinsip kepemimpinan berdasarkan pengalamannya di Starbucks. Buku ini sangat menarik, pertama, karena diangkat langsung dari pengalaman nyata menjalankan perusahaan. Kedua, karena buku ini ditulis dengan gaya bahasa dari hati ke hati. Seperti diungkapkan oleh Howard Schultz dalam kata pengantar, Howard Behar adalah seorang pemimpin yang menjalankan organisasi berdasarkan hati nurani.

Beberapa catatan menarik, dan pelajaran yang bisa diambil dari buku ini adalah sebagai berikut. Pertama, dalam buku ini Behar membagi pengalamannya yang sangat berharga dalam mengelola karyawan, yang diperlakukan bukan hanya sebagai aset perusahaan, tapi sebagai manusia. Menurut Behar, aset itu bersifat tetap sementara manusia selalu berubah dan berkembang manusia mempunyai perasaan,sehingga harus dihargai dan didengar.

Kedua, Behar adalah seorang motivator dan jeli melihat potensi seseorang. Howard menekankan bahwa bekerja bukanlah untuk mengejar CV dan dia bukanlah pemimpin yang melihat seseorang berdasarkan CV-nya yang mengagumkan. Melainkan, seseorang harus dilihat dari “passion” dan impian pribadinya yang harus sesuai dan sejalan dengan visi perusahaan.

Ketiga, tak sekedar “memamerkan” berbagi kisah sukses Starbucks, Berar juga mengungkapkan cerita-cerita “rahasia”, misalnya tentang pasang-surut hubungannya dengan Howard Schultz. Tak ketinggalan, ia juga mengungkapkan saat-saat yang harus dihadapinya ketika mengambil keputusan sulit, yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dan juga yang terpenting, bagaimana Starbucks diuji untuk tetap mempertahankan visinya memberikan gaji yang lebih tinggi di atas rata-rata walaupun itu akan menggerus keuntungan perusahaan.

Ini adalah sebuah buku yang sangat pas untuk praktisi HR, karena apa yang dituliskan bukan sekedar teori. Ini bukan sekedar konsep dan strategi untuk menempatkan manusia di atas variabel lainnya dalam bisnis. Namun, apa yang telah mereka yakini ternyata memang menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa seperti apa yang kita saksikan saat ini. Sebuah visi yang kuat, dengan eksekusi penuh kedisiplinan, menjadikan Starbucks bukan sekedar kedai kopi biasa, melainkan perpaduan antara kopi berkualitas dan pelayanan yang terbaik.