Para Pemimpin, Jadilah Blessing!

Mengapa banyak orang yang kita kenal, ketika naik ke posisi puncak, sikapnya kemudian berubah? Kursi nomor satu seringkali menjadi kursi perubahan. Begitu duduk, seseorang dituntut untuk berubah. Dari bertanya menjadi menjawab. Dari menunjuk kesalahan menjadi ditunjuk kesalahan. Setiap kalimat pun harus dipikirkan dengan seksama. Tidak dapat lagi asal komentar karena setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan ‘sabda pandita ratu’ bagi teman diskusi yang kebetulan disebut karyawan.

Itu setidaknya salah satu fakta tentang kepemimpinan yang membuat kepemimpinan menjadi sebuah studi yang tak pernah kehilangan daya tarik. Kepemimpinan menyangkut kita semua; setiap orang dalam skala tertentu pastilah pernah memimpin. Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat buku ini jauh lebih membumi dibanding buku pertama Paulus Bambang WS, Built to Bless. Buku ini diperkirakan akan mencapai kesuksesan yang jauh lebih besar dibanding buku pertama yang telah dicetak ulang sebanyak 8 kali.

Selama ini, ilmu kepemimpinan yang mendominasi sekolah-sekolah manajemen maupun konsultan training di Indonesia adalah teori dari penulis asing. Padahal semua teori itu didasarkan pada pengalaman dan budaya yang sangat berbeda dengan budaya Indonesia. Berdasarkan pengalamannya di berbagai organisasi selama lebih dari 20 tahun, Paulus memaparkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda.

Be a blessing leader, and you can make the difference, demikian Pak Paulus pernah menuliskan kalimat ini untuk saya ketika menandatangani buku pertamanya. Ternyata pada saat itu beliau sedang mempersiapkan buku keduanya ini. Saya yakin tidak hanya kepada saya beliau menuliskan kalimat itu. Jadilah pemimpin yang menjadi berkat (blessing); saya rasa itulah pesan yang ingin disampaikan Pak Paulus kepada sebanyak mungkin orang.

Menyambung bukunya yang pertama, kunci untuk mewujudkan Built to Bless Company adalah pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tidak berfokus pada dirinya sendiri tetapi bertujuan mendatangkan berkat bagi yang dipimpinnya (lead to bless leader). Pemimpin ini berfokus pada dua tujuan yang saling melengkapi, yaitu perusahaan menjadi sejahtera (FIT dan PROSPER) dan karyawan menjadi bahagia (HAPPY). Konsep fit dan prosper serta happy yang dimaksud dijelaskan dengan sangat jelas dan practicable dalam buku ini.

Dari sisi HR, ini adalah pendekatan yang baru dalam memandang karyawan. Karyawan tidak lagi hanya dipandang sebagai human capital, tetapi sudah sebagai human being. Kepemimpinan yang seperti ini berfokus pada pemenuhan manusia seutuhnya untuk mencapai kemakmuran material dan bukan sebaliknya. Pemimpin lead to bless ini apabila dibedah terdiri dari hati (the heart) yang adalah karakternya, kepala (the head) atau talenta sebagai fondasi kompetensinya, tangan kirinya yang berfungsi sebagai the working hand, dan tangan kanannya yang berfungsi sebagai the loving hand.

Berdasarkan karakternya, ada pemimpin yang memiliki hati sebagai penjajah, sebagai penyamun, sebagai pengawas, dan sebagai petani. Di sisi lain ada juga pemimpin yang mempunyai hati penggembala, pelayan, dan juga sebagai orang tua (parent). Dilihat dari talentanya, Paulus membagi pemimpin menjadi tujuh, yaitu Sang Pemimpi (The Dreamer), Sang Perancang (The Architect), Sang Pembangun (The Builder), Sang Penajam (The Sharper), Sang Pemburu (The Reinverter), Sang Penuai (The Harvester), dan Sang Pelaksana (The Operator). Dalam kondisi tertentu dibutuhkan pemimpin dengan talenta tertentu, dan setiap tipe pemimpin akan lebih cocok dipasangkan dengan pemimpin tipe tertentu.

The Hand of a Leader adalah tangan yang mempraktekkan talentanya tersebut. Ini menunjukkan bagaimana seseorang berkiprah secara langsung untuk membuktikan bahwa di bawah kepemimpinannya perusahaan dan karyawan akan menggapai sukses. Tangan kiri (the working hand) mempunyai 10 fokus yang harus diperhatikan sebagai seorang pemimpin bisnis. Fokus pertama dan terutama adalah pelanggan (customer). Kemudian disusul oleh daftar C berikutnya, yaitu competitiveness, channel of distribution, core competence, culture and character, collaboration, commercial, community development, capital, dan control the destiny. Tangan inilah yang akan memastikan perusahaan sejahtera (FIT dan PROSPER).

Tangan kanan (the loving hand) akan memastikan karyawan bahagia. Tangan yang penuh belas kasihan dari pemimpin sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan luka batin yang dialami karyawan ketika berhubungan dengan pemasok dan pelanggan. Tangan kanan ini mempunyai peran sebagai Commander, Communicator, Conductor, Converter, dan Comforter; serta mempunyai tanggung jawab untuk memberikan Comprehension, Correction, Connection, Celebration, dan Compensation.

Menurut Paulus, hati, kepala, dan tangan haruslah membentuk suatu kesatuan. Tanpa kesatuan ketiganya, akan terjadi dualisme atau tigalisme yang membuat seorang pemimpin harus bermain sandiwara yang melelahkan karena ada bagian yang harus mengakomodasi bagian lain yang dimunculkan. Masing-masing hati, kepala, dan tangan didetilkan satu per satu dengan sangat jelas disertai contoh-contoh kasus yang khas perusahaan Indonesia.

Selain ditulis dengan bahasa yang menarik –penulis telah menulis lebih dari 500 artikel di berbagai media (termasuk di PortalHR.com) sehingga kemampuan dan energi penulis tidak perlu dipertanyakan lagi buku ini juga sangat praktis. Penulis telah memberikan Key Performance Indicator (KPI) masing-masing, serta memberikan studi kasus agar buku ini tidak hanya dibaca, tetapi dipraktikkan. Buku ini juga disusun dalam poin-poin sehingga mudah menjadi referensi ketika dibutuhkan.

Buku ini diharapkan mendorong lahirnya pemimpin Indonesia yang mampu menjadi blessing bagi perusahaan dan karyawannya. Sebuah buku yang luar biasa, yang mutunya tidak kalah dibanding buku-buku penulis luar negeri, dengan pendekatan kepemimpinan timur yang mungkin adalah jawaban yang kita butuhkan untuk mengatasi krisis ekonomi global saat ini.