Menyelami Profesi HR dari Hati


Dari judulnya kemungkinan besar kita akan menebak ini adalah buku mengenai Human Resource (HR) berdasarkan perspektif seorang praktisi. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah karena penulisnya memang seorang praktisi. Dan, yang berharap menemukan kecanggihan manajemen HR atau pun pendekatan-pendekatan HR yang terbaru dalam buku ini bersiaplah untuk kecewa karena tidak akan menemukan jawabannya.

 

 

 

 

 

Buku ini lebih tepat diklasifikasi sebagai buku self development atau how to berkarir sebagai praktisi HR yang sukses, terutama bila ingin membangun organisasi menjadi besar sekaligus mengembangkan nilai-nilai pribadi. Yang membuat buku ini berbeda dari buku-buku praktisi HR lainnya adalah isinya yang unik dan sudut pandang penulisnya yang kadang out of the box. Inilah yang memberikan nilai tambah. Bahkan, seorang ahli di bidang HR yang terkenal, Dave Ulrich, sebagaimana yang ia tulis di bagian komentar buku ini mengatakan this book touches not only the heart, but the mind and soul of the HR profession. It full of ideas with impact, tools, and tips for how to do HR, and wonderful stories. Readers will laugh and learn from one of the most respected HR leaders in the business. A superb book that will be a classic. Acungan jempol untuk Sartain yang berhasil memformulasikan pengalamannya selama puluhan tahun menjadi sebuah buku yang menarik.

 

 

 

 

 

Sartain menuliskan buku ini berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 25 tahun mengelola HR. Perusahaan-perusahaan besar yang pernah ditangani Sartain antara lain Southwest Airlines dan Yahoo!. Di dua perusahaan ini, Sartain berhasil membangun budaya perusahaan yang unik dan menjadikan kedua perusahaan ini berperingkat atas sebagai tempat kerja yang paling diinginkan oleh pencari kerja di Amerika. Namun demikian, buku ini tidak bercerita mengenai HR di kedua perusahaan tersebut melainkan berbicara mengenai apa dan bagaimana seorang HR itu sebenarnya.

 

 

 

 

 

Menurut Sartain, seorang profesional HR seharusnya bisa menciptakan hubungan yang saling terkait antara strategi organisasi dan individual passion. Kedua hal ini seharusnya berjalan konsisten dan pada saat yang bersamaan membangun organisasi kelas dunia sekaligus memberikan dampak positif terhadap semua pegawai, termasuk pegawai di kelompok terendah sekali pun. Kelihatannya sulit, namun bagi Sartain di sinilah kuncinya.

 

 

 

 

 

Jika seorang praktisi HR mampu menunjukkan dirinya yang otentik dalam menjalani karir HR, mereka pasti juga mampu mengembangkan pegawai-pegawai perusahaan untuk melakukan hal yang sama. Inilah kontribusi sesungguhnya HR terhadap tujuan strategis perusahaan. Jika seseorang yang bekerja di dunia HR tidak memiliki panggilan jiwa dan passion dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan HR dan tidak tahu bagaimana menemukan cara yang tepat untuk memenuhi passion tersebut, dipastikan ia tidak akan mampu membuat HR sebagai aset terbaik bagi perusahaan. Jadi, kuncinya bukan hanya kompetensi, tapi kompetensi dan passion.

 

 

 

 

 

Di sepanjang buku, tampak jelas terlihat bahwa Sartain sangat mencintai profesi HR. Dan, kecintaan terhadap profesi ini yang menjadi pendorong utama Sartain sehingga sukses berkarir. Sebagaimana diceritakan Sartain di bagian pembuka buku ini; HR is a Calling. Sartain mengundang kita untuk melihat profesi HR dari sudut pandang yang baru. Dari hati. Buku ini terdiri dari 44 bab, tiap bab berisi contoh yang inspiratif dan saran-saran praktis yang dikelompokkan menjadi dua bagian besar; Bagian I tentang Your Own Career is Your Best HR Asset dan Bagian 2 tentang HR is Your Company’s Best Asset. Judul di tiap bab juga ditulis dengan menarik, seperti pada bab 9, From the Heart Doesn’t Mean From the Bleeding Heart yang berisi tentang bagaimana bersaing dengan menggunakan hati. Competition isn’t about hurting anyone, it’s about capitalizing on your differentiation (hal. 45).

 

 

 

 

 

Selain kisah-kisah inspiratif, Sartain juga memberikan saran-saran praktis antara lain: jangan khawatir bila bertentangan dengan pucuk manajemen, khawatirlah jika harus berada dalam posisi yang memberikan dukungan terhadap pucuk manajemen. Jangan hanya bicara tentang peraturan HR, sebaliknya sering-seringlah bertanya dan mendengarkan masukan dari pegawai. Jangan hanya berpatokan pada kebijakan dan prosedur, tapi kembangkan manajer-manajer yang mampu mengelola orang. Jangan melihat perbedaan sebagai benar atau salah, tapi lihatlah yang lebih besar dari itu.

 

 

 

 

 

Mungkin satu-satunya yang menjadi kekurangan buku ini adalah tidak menjelaskan bagaimana jika orang yang berkarir di dunia HR bertipe introver, apakah saran-saran yang diberikan oleh Sartain berdasarkan pengalamannya juga dapat diterapkan? Dari kisah-kisah yang muncul dalam buku ini tampak gambaran bahwa Sartain seorang ekstrover yang periang dan mudah bergaul. Namun, lepas dari itu, buku ini tetap berbeda dari buku-buku praktisi HR lainnya. Selain karena membahas bagaimana meningkatkan ketrampilan pribadi dan kisah-kisah yang inspiratif, buku ini juga memberikan insight untuk siapa pun yang berada dalam dunia kerja, bukan hanya untuk orang-orang yang terjun di bidang HR saja.

 

 

(Penulis resensi ini adalah seorang praktisi psikometri di Jakarta)