Menjadi Raksasa Cara Herry Tjahjono

“April ini jadwal saya sudah penuh,” ujar Herry Tjahjono yang tiba-tiba laris diundang untuk memberikan training pengembangan diri. Apakah Direktur HR sebuah perusahaan properti yang dikenal luas sebagai corporate culture theraphist itu telah berubah profesi menjadi seorang motivator? Sama sekali tidak. Semua itu karena buku yang ditulisnya, The XO Way: 3 Giants & 6 Liliputs.

Terbit awal Maret ini, tak sampai sepekan buku ini langsung ludes di pasaran dan menurut penulisnya, saat ini tengah dalam proses naik cetak yang ketiga. Judulnya yang “aneh” dan cover-nya yang eye-chatching barangkali merupakan impuls tersendiri bagi siapapun yang melihatnya di etalase toko buku. Tapi, menilai karya Herry Tjahjono hanya lewat aspek yang “sesepele” itu, jelas terlalu sembrono.

Kendati, kalau dilihat dari sampulnya yang “ramai” orang memang dengan mudah akan memvonis buku ini tak ubahnya buku-buku kiat (self-helf) lainnya yang berjibun di pasaran. Namun, membaca isinya jelas tidak sama dengan menilai tampilan luarnya. Setelah membaca tuntas buku ini, Anda akan merasakan kelebihannya dibandingkan dengan buku-buku sejenis yang umumnya gagap.

Herry meramu kompetensinya sebagai praktisi berlatar pendidikan formal psikologi dengan keseriusannya sebagai seorang pemikir yang berwawasan luas. Ramuan itu lalu disajikan dalam formula khas cita rasa seorang budayawan sekaligus kolumnis. Hasilnya, sebuah paparan yang jauh dari kesan kering dan membosankan layaknya terjadi pada buku-buku yang berpretensi menjadi pedoman praktis.

Sebaliknya, buku ini menunjukkan kelasnya yang istimewa karena tampak sekali digarap dengan pendekatan yang “ilmiah”: Herry tidak hanya mengandalkan ide-ide kreatifnya, tapi sekaligus membingkainya dengan teori-teori yang kokoh.

Sejauh pengamatan saya, belum pernah dalam buku tuntunan seperti ini terlihat bertebaran nama-nama pemikir serius, dari Heidegger ke Deepak Chopra hingga Isaiah Berlin. Dan, semua itu bukan untuk gagah-gagahan atau kegenitan penulisnya agar pembaca mendapat kesan, “wah, bacaan penulisnya luas”. Melainkan, karena semuanya memang relevan, mendukung, menopang, membentuk jalinan pondasi yang mendasari setiap paparan.

Buku ini adalah jawaban bagi banjir buku kiat yang kebanyakan justru tidak membantu melainkan sekedar menyentuh emosi sesaat, mengobral jurus-jurus instan yang membuai, namun ujung-ujungnya hanya membuat pembaca terlena dalam bius hampa sihir kiat-kiat yang tidak membumi.

Dengan bahasa yang lugas, jernih, nyaris tanpa jargon, Herry mengawali paparannya dengan menjelaskan judul “aneh” yang dipilihnya. Dengan “X.O Way”, ia memaksudkannya sebagai extra-ordinary way alias jalan yang tidak umum. Sedangkan “3 Giants” dan “6 Liliputs”, yang kental beraroma dongeng itu, merupakan metafora dari 3 pedoman emas dan 6 teknik ampuh yang ditawarkannya untuk pengembangan diri, baik sebagai pribadi maupun profesional.

Dengan sistematika yang rapi, pembaca seolah diajak bertamasya, menziarahi masa tertentu, kisah-kisah inspiratif dan tokoh-tokoh besar yang telah tiada yang bisa dijadikan teladan. Gambar, foto, ilustrasi, kutipan dan lembar-lembar latihan membuat tamasya terasa lebih menyenangkan dan interaktif: kita seperti dipandu seorang instruktur dalam sebuah tatap muka yang berlangsung dua arah.

Mengikuti 3 pedoman emas yang disodorkan, buku ini dibagi ke dalam tiga bagian besar, masing-masing Giant Hope, Giant Paradigm dan Giant Goal. Herry mengkolaborasikan “3 raksasa” tersebut dengan “6 liliput” enam teknik super efektif untuk menjadikan individu sebagai the giant person, baik itu sebagai karyawan, bos, ibu rumah tangga, konsultan, pejabat, artis maupun bahkan presiden sekalipun. Salah satu teknik yang dianjurkan Herry adalah Teknik Landak.

Binatang tersebut mengajarkan kepada kita sebuah filosofi yang sangat penting dan mendasar, yaitu agar kita jangan terfokus untuk menjadi yang “terbaik dalam banyak hal”, baik di tempat kerja maupun dalam lingkungan masyarakat. Tapi yang lebih utama, adanya kesadaran dan pemahaman kita untuk menemukan hal terbaik apakah yang ada dalam diri kita. Intinya, bagaimana kita menemukan “the best in me” kita dalam menjalani kehidupan.

Seekor landak hanya tahu satu hal besar dalam hidupnya, yakni mempertahankan diri dengan durinya. Namun, itu demikian efektif untuk menjaga kelangsungan hidupnya sekaligus melumpuhkan lawan-lawannya. Masih ada lima teknik lagi yang bisa Anda temukan dalam buku ini, yang selain mudah dipahami juga bisa dipraktikkan oleh siapapun, untuk melahirkan kembali diri kita menjadi raksasa.

Dengan perspektif yang kaya dan pendekatan metaforik yang universal dan unik yang sepengetahuan saya belum pernah dilakukan penulis buku-buku pengembangan lain tak pelak nilai guna buku ini akan melampaui tujuan “utama”-nya untuk mengembangkan individu menuju kesejahteraan dan kemakmuran hidup. Yakni, mempertinggi kepekaan dan kearifan kita sebagai manusia.