Menjadi Pemimpin adalah Ibadah

Buku ini satu dari sekian banyak buku yang menceritakan tentang pentingnya menjadi seorang pemimpin. Namun bedanya, penulis buku ini, Suryo Danisworo, memasukkan roh nilai leluhur yang dapat diaplikasikan untuk para pemimpin dan calon pemimpin saat ini.

Menurutnya, terjadi pergeseran makna mengenai sosok pemimpin. Tidak sedikit calon pemimpin yang salah kaprah ingin menjadi pemimpin karena mendambakan kekuasaan. Suryo menilai, orang-orang seperti itu bukan pemimpin, karena pemimpin tidak sama dan sebangun dengan kekuasaan.

Suryo menyebutkan, pemimpin mampu memberikan nilai tambah tidak saja pada kelompoknya, tetapi juga pada lingkungan yang lebih luas. Suryo yang berdarah ningrat memproklamirkan nilai kesederhanaan untuk para pemimpin, dan mengatakan bahwa gaya hidup mencerminkan nilai seseorang. Nilai lebih pemimpin di mata orang lain adalah tidak memaksakan keadaan, melainkan menikmati kesederhanaan. Keberhasilan bukan identik dengan kemewahan.

Dalam sub bab Pemimpin Semu, Suryo cukup berani menyentil tipe-tipe pemimpin yang sering kita temui. Menurutnya, ada roh yang salah apabila pemimpin menyimpang dari tugas amanahnya, pemimpin adalah pelayan publik, kawulaning kawulu, pelayan rakyat. Apabila seorang pemimpin menikmati kedudukannya sebagai pemimpin karena menjadi pusat perhatian  bagaikan selebriti maka ada risiko dia tidak menomorsatukan tugas pokoknya, tetapi lebih mengutamakan penampilannya seolah-olah dia telah berbuat banyak. Secara ekstrim Suryo menulis, “Waktunya habis untuk cuci piring, sehingga dia tidak sempat berkarya.
Apa itu 7 T?

Buku ini menceritakan pengalaman Suryo selama berkarier. Suryo sangat ahli dalam manajemen, ini terlihat pada 7 prinsipnya yang ia kumandangkan sebagai Suryo Management. Apa isinya? Ialah Toto, Titi, Titis, Temen, Tetep, Tatag, dan Tatas. 7T merupakan ajaran Jawa yang ia peroleh dari kakeknya, almarhum KRMTA Poornomo Hadiningrat.

Coba sedikit kita jabarkan apa 7T itu. 3T yang pertama, Toto, Titi, Titis merupakan skill (keterampilan), sedangkan 4T berikutnya adalah suatu sikap.
Toto, artinya teratur. Mengapa kita memerlukan toto, karena menurutnya, banyak hal dalam hidup ini yang tidak konsisten, kita yang akan mengatur, membuat peraturan dan ketentuan, seperti menetapkan policy. Ada sekitar 20 halaman dalam pembahasan toto ini mulai dari SOP sampai kaderisasi.

Titi, artinya teliti. Titi dalam bisnis bermakna jangan terpaku pada profitnya saja, tetapi tanyalah risikonya apa? Dengan kata lain, titi berarti hati-hati dalam menentukan target. Setelah itu kita gunakan titis, yaitu tepat pada target yang dituju. Tidak hanya itu, titis juga berarti fokus. Dengan fokus kita akan memperoleh kedamaian, jalan untuk mencapai kebahagiaan.

Perlu jiwa besar untuk bersikap temen, yang artinya tulus dan jujur. Seperti yang
kita ketahui betapa mahalnya ilmu tulus dan ikhlas. Di sini Suryo membocorkannya dengan fasih. Selanjutnya, tetep, yaitu konsisten, tidak tergoda. Suryo juga menjadi saksi di mana pada 2007 ia mendapatkan pemimpin yang tidak tetep dalam menentukan ukuran keberhasilan. Pemimpin tersebut tidak mengikuti pedoman tetep dan menimbulkan dampak negatif.

Setelah semua usaha dilakukan, sikap ini sebaiknya kita miliki, yaitu tatag atau tabah. Tabah dapat diartikan sebagai sikap batin yang mantap untuk menerima apa pun hasil dan risiko dari suatu tindakan. Dan, yang terakhir dari formulanya adalah tatas yang berarti tegas. Dalam menjalankan tatas ia menyarankan jangan lupa terhadap prinsip tego larane, ora tego patine, yang artinya, tega melihat penderitaan orang, tapi tidak tega melihat kematian orang. Suryo menganalogikannya dengan pemimpin yang menangis mengeluarkan anak buahnya, namun hal itu dilakukan demi kebaikan bawahannya.

Sebenarnya, kalau boleh mengkritik, cara Suryo memaparkannya tidak cukup sistematis. Kita akan beberapa kali menemukan di mana judul tidak sesuai dengan paparannya. Walau begitu, Suryo pandai memasukkan kata-kata yang langsung bisa kita hayati karena merasa tersentil dan tak bisa mengelak kebenarannya. Bisa disimpulkan, seorang pemimpin mesti mempunyai tiga sikap, yaitu berani, mengayomi, dan yang terpenting mencerahkan.

Tidak bisa dimungkiri, kepemimpinan di Indonesia kini lebih didominasi oleh orang suku Jawa. Apakah karena sifat mengayomi yang dipunyai oleh suku ini? Wallahualam. Terlepas dari itu, buku ini pantas dibaca oleh siapa pun yang ingin menjadi pemimpin yang berhasil. Selamat membaca!