Mengubah Hobi Jadi Profesi

Tidak ada cerita yang lebih menginspirasi di bidang karir dibanding cerita tentang karir (atau bisnis) yang dibangun dari hobi. Kisah Lonely Planet adalah salah satunya. Di buku ini Tony dan Maureen Wheeler, pasangan suami-istri pendiri salah satu perusahaan penerbitan panduan perjalanan terbesar di dunia itu, membagikan ceritanya.

Bagi mereka yang senang jalan-jalan, khususnya para backpacker, pasti nama Lonely Planet tidak perlu diperkenalkan lagi. Buku panduan perjalanan ini sangat akrab dengan para pelancong tipe baru pada saat itu yaitu tipe yang santai dan independen.

Kisah ini diawali dengan dua backpacker “kere” (pada waktu itu masih mahasiswa) yang melakukan perjalanan ke Australia dari Inggris. Sebagian perjalanan itu dilakukan dengan mobil butut, sebagian lagi menumpang angkutan umum. Semua itu kemudian menghabiskan uang mereka, dan hanya menyisakan 27 sen.

Bagaimana kemudian Tony dan Maureen melalui masa itu, serta apa yang menginspirasi mereka untuk mulai menulis buku panduan perjalanan, bagaimana mereka tumbuh dari backpacker usia dua puluhan –yang tak berduit tapi selalu ingin bepergian– menjadi pemilik perusahan bernilai jutaan dolar yang sudah berusia lima puluhan, dan bisa dibilang perusahaan penerbitan panduan perjalanan tersukses di planet ini, semuanya dapat dibaca dalam buku ini.

Trinity, seorang backpacker, penulis blog dan buku bestseller The Naked Traveler mengomentari buku ini,Buku-buku Lonely Planet menjadi kitab wajib bagi saya dan backpackers lainnya di dunia. Namun, buku inilah yang sangat inspiratif.

Meskipun sedikit yang bisa dipetik dari segi manajemen sumber daya manusia, kisah ini dapat menginspirasi siapa saja yang pernah bermimpi mengubah hobi menjadi mata pencaharian. Pembaca bisa memetik hikmah dan belajar, bagaimana sebuah pekerjaan dijalankan dengan penuh passion dan bahkan telah menjadi hidup seseorang.

Seperti dituturkan Maureen Wheeler dalam pengantar buku ini. “Lonely Planet telah menjadi hidup kami. Kami menghidupi sekaligus dihidupinya, dan kami mencintainya. Meski tidak jarang ada halangan dan rintangan, Lonely Planet tak pernah membosankan.

Setelah menceritakan petualangan yang spektakuler di Australia hingga Tony dan Maureen mendapat ide menulis buku panduan Lonely Planet edisi pertama mereka (Across Asia on The Cheap), bab-bab selanjutnya menceritakan pasang surut Lonely Planet sebagai sebuah usaha bisnis. Tentu saja buku ini tidak akan lengkap tanpa cerita tentang perjalanan-perjalanan luar biasa yang dilakukan Tony dan Maureen. Mereka tetap bekerja dan terus bepergian.

Salah satu hal yang sangat menarik, Indonesia, khususnya Kuta – Bali, termasuk dalam daftar 3K yang menjadi prioritas tempat yang harus dikunjungi para backpacker di Asia, selain Kabul dan Kathmandu.

Singkat kata, buku ini sangat menyenangkan dan inspiratif.