Mengapa Harus Membenci Departemen SDM?

 

Bulan Desember 2007 sebuah artikel di majalah Fast Company berjudul Why We Hate HR mendapat sambutan yang luar biasa. Banyak yang menyukai dan mencuplik artikel itu. Sampai sekarang, halaman berisi artikel tersebut di internet masih banyak dibuka dan dicari orang.

 

 

Artikel itu menelanjangi departemen SDM (Sumber Daya Manusia) bulat-bulat. Bahwa, di balik semua gemerlap kebangkitan HR, seminar-seminar di hotel berbintang, jargon strategic partners yang selalu didengung-dengungkan, serta istilah-istilah ilmu HR yang super keren yang hanya dimengerti kelompok mereka sendiri, apa yang dilakukan HR di dunia nyata tidak banyak berubah.

 

 

Sebagian besar divisi HR di organisasi masihlah melakukan hal-hal yang usang. Mereka sangat jagoan melakukan administrasi, pembayaran, benefit, dan pensiun, hal-hal yang semakin banyak di-outsource oleh perusahaan jaman sekarang kepada kontraktor yang dapat mengerjakan tugas-tugas rutin itu dengan biaya yang lebih rendah. Keith H. Hammonds, penulis artikel itu menyimpulkan, sebagian besar orang HR masih tidak kompeten menangani peran-peran strategis yang dibutuhkan dari mereka untuk meningkatkan modal (capital) manusia di perusahaan.

 

 

Meskipun sudah dua tahun yang lalu artikel itu terbit, kondisi yang dilukiskan agaknya masih relevan hingga saat ini. Setidaknya, buku terbaru tulisan Steve Sudjatmiko membuktikannya. Buku berjudulMengapa Departemen SDM Dibenci? memuat banyak perasaan jengkel dan frustrasi orang-orang yang kebingungan menghadapi departemen SDM.

 

 

Saya tidak tahu siapa saja orang-orang yang diwawancara penulis, karena semua nama yang digunakan dalam ilustrasi bukan nama sebenarnya. Sementara juga tidak ada keterangan apakah mereka bekerja di perusahaan besar atau kecil, di kota besar atau kecil, berapa usia mereka dsbnya. Yang ada hanya, misalnya: Bibim, Manager, berkomentar tentang apa yang mereka rasakan terhadap HR.

 

 

Lebih dari separuh isi buku ini cukup menyakitkan, karena seolah memaksa orang HR untuk berkaca, memuat banyak keluhan tentang divisi HR yang membuat saya tidak henti-hentinya bertanya, “Ini terjadinya kapan dan di mana ya? Apakah divisi HR masih separah itu? Jangan-jangan itu adalah masa ketika penulis masih menjadi karyawan dan deal dengan HR, dimana hal itu sudah lama sekali. Saat ini sudah banyak tokoh HR kita yang dalam posisinya sangat strategis bagi perusahaan, saya pikir justru informasi seperti ini yang kita butuhkan, bukan sebaliknya.

 

 

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menjawab pertanyaan Benarkah Departemen SDM Dibenci? berisi cerita-cerita tentang keseharian SDM dalam posisinya yang unik dalam perusahaan, yaitu menjadi jembatan, pintu masuk, penyaring, polisi, jaksa dan hakim sekaligus, sebagai sahabat karyawan dan juga gerbang terakhir. Pada bagian ini juga dikisahkan berbagai pengalaman buruk dalam berhadapan dengan SDM. Saya harap rekan HR yang membaca bagian ini dapat santai saja sambil berpikir bahwa itu semua adalah cerita dongeng dari masa silam.

 

 

Pada bagian kedua penulis menjawab “Mengapa Jengkel pada departemen SDM?” dan mengemukakan 8 alasan, yaitu:

 

 

SDM kurang mengerti bisnis inti perusahaan

 

 

SDM tidak memiliki tujuan dan hasil yang jelas

 

 

SDM tidak menguasai pekerjaan inti SDM

 

 

Proses SDM berbelit-belit

 

 

Ketidakpedulian SDM terhadap karyawan

 

 

SDM tidak adil

 

 

SDM sok kuasa

 

 

SDM berpolitik

 

 

Pada bagian ketiga, akhirnya, SDM dibela dengan memberikan Pemahaman tentang Departemen SDM.Bagian ini berisi salah paham tentang SDM karena karyawan di luar SDM tidak memahami apa yang dikerjakan departemen SDM. Meskipun memuat banyak hal yang kita sudah tahu sehingga tidak terlalu banyak gunanya bagi orang HR untuk membaca buku ini setidaknya buku ini berguna bagi kalangan non HR untuk memahami dunia HR.

 

 

Buku ini ditulis dengan bahasa yang santai, mungkin untuk menghindari jargon-jargon mewah yang terkesan arogan di bidang SDM. Semoga buku ini semakin mendekatkan karyawan pada divisi SDM, sehingga tidak ada lagi yang harus membenci departemen SDM. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Karena divisi SDM sama saja dengan divisi-divisi yang lain, yang memiliki kelebihan dan kekurangan.