Memenangkan “Talent War” pada Masa Krisis

Apakah (masih) relevan berbicara tentang talent war pada masa krisis seperti sekarang ini? Boro-boro mikirin bagaimana menambah talent terbaik, barangkali demikian kata Anda dalam hati, sedangkan masih bisa bertahan dengan talent yang ada saja sudah bersyukur. Tapi, benarkah pemikiran seperti itu? Berbagai “teori” tentang the best talent menyebutkan bahwa orang-orang terbaik akan tetap bernilai dalam situasi apa pun, sehingga keberadaan mereka tetap senantiasa dicari dan diperebutkan oleh perusahaan.

Buku karya Kerry Larkan ini menyajikan bukan hanya petunjuk bagi praktisi HR dan manajer lini tentang mendapatkan orang-orang terbaik, melainkan juga bagaimana mempertahankannya kalau mereka sudah bergabung dengan perusahaan kita. Larkan mengawali setiap bab dalam buku ini dengan ungkapan yang bersifat kiasan untuk menuntun pembaca memahami materi yang akan dipaparkan. Misalnya, pada bab pembuka tentang Mendapatkan Karyawan Bertalenta, dia membuat kiasan berbunyi, Anda tidak akan menemukan ikan besar di air payau.

Kiasan memberikan efek keindahan rasa, sekaligus membantu memudahkan pemahaman kita. Larkan berangkat dari asumsi yang ditarik dari kondisi aktual-mutakhir di lapangan, bahwa kini semakin sulit untuk menemukan dan mempertahankan karyawan bertalenta. Lalu, dia masuk ke setiap pembahasan bab demi bab tanpa bertele-tele, langsung mengungkapkan apa yang perlu, sekaligus memberikan contoh-contoh kasus yang inspiratif. Pertama kali, Larkan mengajurkan metode “staff advocate” sebagai cara untuk menarik karyawan bertalenta.

Dicontohkan, ANZ Banking Group yang merupakan bank terbesar di Australia secara rutin bertanya kepada karyawannya apakah mereka mau merekomendasikan kepada teman dan saudaranya untuk bekerja di ANZ. Metode ini mensyaratkan bahwa perusahaan harus memastikan diri sebagai tempat kerja yang nyaman. Logikanya, Anda tidak akan merekomendasikan orang lain untuk bergabung kalau Anda sendiri merasa tidak nyaman dengan perusahaan tempat Anda bekerja sekarang.

Penulis buku ini melihat, sudah terlalu banyak perusahaan yang merekrut karyawan hanya untuk mengisi posisi kosong, tanpa meluangkan lebih banyak waktu dan upaya untuk dapat merekrut orang yang tepat bagi posisi yang tersedia. Larkan meyakinkan bahwa inilah saatnya untuk melakukan rekrutmen secara serius. Salah satu hal yang ditekankan olehnya adalah tentang merekrut untuk kesuksesan yang berkesinambungan. Banyak perusahaan kurang mempertimbangkan nilai-nilai individu dalam merekrut dan hanya memperhatikan segi keterampilan. Akibatnya, perusahaan jadi sering memecat karyawan karena perbedaan nilai.

Hal lain yang tak boleh dilupakan dalam persaingan memperebutkan talent terbaik di pasaran adalah soal kepemimpinan dalam perusahaan. Larkan memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai budaya “good boss”. Karyawan bertalenta tidak akan memilih untuk bergabung atau jika sudah bergabung tidak akan bertahan jika perusahaan mereka anggap memiliki budaya yang negatif. Yang istimewa dari buku ini, kendati tidak secara khusus diterbitkan untuk merespon situasi krisis, namun terdapat bab yang sangat membantu untuk mengelola karyawan di masa sulit.