Mari Terbuka pada Hal-hal Yang Tak Terduga

Sebelum Benua Australia ditemukan, orang yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Sebuah kepercayaan yang tak tergoyahkan karena bukti-bukti yang teramati memang sangat mendukung. Maka, ketika pertama kali ada yang menyaksikan angsa berwarna hitam, pastilah itu sebuah kejutaan yang menarik, terutama bagi peneliti unggas. Namun, bukan itu yang penting. Penemuan angsa hitam menggambarkan betapa sangat terbatasnya pembelajaran yang kita dapatkan dari pengamatan atau pengalaman serta betapa rapuhnya pengetahuan kita selama ini. Pengamatan yang hanya satu kali ternyata dapat meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak orang terhadap jutaan angsa berwarna putih selama berpuluh-puluh abad. Yang Anda perlukan hanya seekor burung berwarna hitam (yang konon memiliki rupa sangat buruk).

Dari ilustrasi yang terkesan sederhana itu, Nassim Nicholas Taleb, seorang pemikir yang orisinal kelahiran Lebanon, mengembangkan teori Black Swan. Sungguh, ini bukan buku yang mudah dibaca. Taleb merangkum sedikitnya empat wilayah besar keilmuan, yakni Filsafat, Psikologi, Ekonomi dan Matematika, yang tak jarang sangat detail dan teknis. Kendati demikian, pembaca wam tidak perlu berkecil hati. Taleb berusaha keras untuk membuat argumen-argumennya cukup mudah dimengeri, dengan pemaparan ilustrasi berupa cerita. Taleb memang lebih banyak bercerita di sini, dengan gaya penuturan yang nyastra sehingga enak diikuti dan tidak membosankan. Jika ada bagian tertentu yang terpaksa sangat teknis, Taleb akan menandai bagian tersebut dengan pernyataan, bahwa pembaca awam boleh melewatkannya. Secara umum, buku ini mesti dibaca dengan pelan-pelan, dan kalau perlu diulang-ulang. Nissim banyak menciptakan istilah sendiri yang perlu dicermati.

Ketika membagi wilayah aktivitas kehidupan dan pergumulan manusia, misalnya, Taleb menciptakan istilah Mediocristan dan Extrimistan. Mediocristan, dalam bayangan Taleb, merupakan tempat kehidupan berjalan rutin, biasa, jelas dan lebih mudah diperkirakan. Sedangkan Extremistan adalag wilayah tempat dimungkinkannya kemunculan hal-hal yang tak terduga, kebetulan, baik yang positif maupun negatif. Di wilayah Extrimistan inilah, menurut Taleb, angsa-angsa hitam lebih terdorong untuk bermunculan. Yang positif misalnya kehadiran teknologi internet dan sukses buku Harry Potter. Yang negatif: tragedi WTC 11 September dan tsunami Samudera Hindia (Aceh). Jadi, apa itu Black Swan? Taleb mensyaratkan tiga karakteristik agar sesuatu hal bisa digolongkan ke dalam Black Swan. Yakni, tidak dapat diramalkan; memiliki dampak yang luar biasa; sesudah terjadi orang baru sibuk menyusun teori bahwa kejadian itu sebenarnya bisa diramalkan.

Dalam Black Swan, unsur keacakan dan ketidakpastian sangat tinggi, dan Taleb menyerang serta mengolok-olok mereka yang disebut kaum pakar yang begitu yakin terhadap pengetahuan yang mereka miliki dan sanggup bicara secara meyakinkan, termasuk soal-soal mengenai masa depan. Secara terang-terangannya Taleb bahkan menunjukkan sikap antipatinya kepada kaum sarjana yang telah dicekoki ajaran Plato, menyebut sejumlah filsuf sebagai pembual dan mengganggap bahwa apa yang disebut prediksi atau ramalan itu tak ubahnya skandal. Dengan gaya seorang skeptis sejati yang nonakademik, antidogmatik dan sangat empirik, Taleb secara provokatif membongkar, mengobrak-abrik dan sekaligus mengoreksi pemikiran-pemikiran yang selama ini mapan dalam keyakinan banyak orang.

Membaca buku ini menjadi sebuah dialog yang menyenangkan. Kekayaan wawasan Taleb yang luar biasa, membuatnya mampu mengantarkan kita tamasya melintasi ruang dan zaman, dari perpustakaan Umberto Eco hingga masa kecilnya di era perang di Lebanon. Jangan kaget, jika berkali-kali Nissim berbicara demikian sinis, mencemooh sejumlah penerima hadiah Nobel (terutama bidang Ekonomi) dan mengejek para pebisnis yang menurutnya kaku dan membosankan. Taleb sendiri juga seorang pengusaha yang meninggalkan bisnisnya untuk menekuni masalah-masalah peluang, keacakan, ketidakpastian dan kemujuran. Buku dia sebelumnya, Fooled by Randomness memperlihatkan tingkat kemahaguruan mantan pialang saham itu dalam bidang-bidang tersebut. Pemihakan Taleb pada estetika keacakan membuatnya anti-teori dan mencela habis-habisan para pakar statistik.

Ini bukan buku pop, tapi juga bukan buku ilimiah. Ini bukan jenis self-help atau know-howmaupun know-what. Boleh dibilang, ini adalah buku nasihat, kitab kearifan. Taleb seperti membentangkan peta pemikiran ke hadapan kita, dan membantu menuntun kita untuk mengambil mana yang relevan dan mana yang membodohi. Dia menunjukkan mana filsuf, ilmuwan, tokoh pemikir, yang bisa kita jadikan teman yang dalam banyak hal menarik dan menyenangkan. Dari situ, kita diajarkan untuk tidak mudah percaya pada sesuatu yang tergambar secara umum. Siapa pun kita, apa pun profesi dan jabatan kita, buku ini menantang kita untuk menjadi “seekor Black Swan : bikin kriteria sukses yang cocok untuk diri kita sendiri ebih sulit menjadi pecundang dalam permainan yang kita rancang sendiri. Dalam bahasa Black Swan, Anda terbuka pada hal-hal yang mustahil hanya jika Anda membiarkan hal-hal yang langka itu, segala ketidakpastian itu, mengendalikan Anda. Berhentilah percaya pada apa yang dikatakan oleh orang banyak.