Lead to Togetherness

 

“Social Capital? Sejak kapan Robby Djohan tertarik dengan ilmu yang satu ini?” Begitulah keheranan Soedarpo Sastrosatomo, salah satu pendiri Bank Niaga, tempat Robby Djohan dikenal sebagai CEO yang berhasil mengangkat dan membesarkan bank kecil tersebut menjadi bank swasta terbesar kedua di Indonesia pada akhir 1990-an.

 

 

Bisa jadi, keheranan yang sama dirasakan oleh mereka yang setia membaca buku-buku Robby Djohan sebelumnya. Buku pertamanya, The Art of Turn Around: Kiat Restrukturisasi, membahas pengalamannya meniti karir sebagai bankir hingga memulihkan Garuda Indonesia dan merger empat bank BUMN menjadi Bank Mandiri.

 

 

Buku keduanya khusus menceritakan pengalamannya memimpin Bank Mandiri, Leading in Crisis: Praktik Kepemimpinan dalam Mega Merger Bank Mandiri. Sebagai pelaku utama dalam kedua bukunya, yakni orang nomor satu di perusahaan yang dikisahkannya, pembaca akan merasakan betul bagaimana kepemimpinan dan gaya manajemen Robby Djohan. Pembaca akan merasakan, kompetensi luar biasa yang dimiliki seorang Robby Djohan tertuang bagus dalam kedua bukunya itu.

 

 

Namun, apa yang terbayang ketika seorang mantan CEO dari tiga perusahaan besar di Indonesia tersebut menulis buku mengenai kepemimpinan dan modal sosial? Apakah pembaca akan merasakan sentuhan yang sama dari kedua buku yang sebelumnya? Apalagi cakupan buku ini bukan lagi perusahaan, tapi jauh lebih luas lagi, yakni negara.

 

 

Berbeda dengan kedua bukunya yang sarat pengalaman memimpin perusahaan, buku ketiga Robby Djohan ini boleh dibilang sarat pemikiran. Ia tidak lagi menceritakan pengalaman pribadinya dalam memimpin perusahaan dan berbisnis . Melainkan, mengupas masalah yang jauh lebih besar daripada itu, yakni kerisauan terhadap negara. Mengapa negara yang memiliki begitu banyak sumber daya alam seperti Indonesia ini secara ekonomi kalah dari negara-negara lain yang miskin sumber daya alam?

 

 

Dari imbal wacana dengan banyak narasumber dan ahli modal sosial seperti Jousairi Hasbullah, serta pendalaman terhadap konsep modal sosial Francis Fukuyama (yang terkenal dengan bukunya, Trust), akhirnya Robby menemukan jawabannya. Tanpa modal sosial yang kuat, pertumbuhan ekonomi sebuah negara tidak akan berkelanjutan.

 

 

Selama ini Robby melihat bahwa sudah banyak modal ekonomi yang diinvestasikan bangsa ini, baik dalam bentuk natural resources maupun capital resources. Namun, hasilnya tidak optimal, bahkan return on investment-nya dianggap tidak memadai. Ia berkeyakinan, masih diperlukan modal lain, yakni modal sosial dan modal manusia. Dari buku-buku modal sosial yang diperlajari, ia yakin bahwa menggunakan sumber daya ekonomi (SDE) itu penting.

 

 

Namun, membangun manusia dan mengoptimalkan sumber daya masyarakat (SDM) untuk berpartisipasi dalam pembangunan juga merupakan hal penting juga. Kedua komponen penting itu, SDE dan SDM, dapat berjalan seiring. “They go together,” kata Robby. Pada skala mikro perusahaan, Robby menegaskan, ia mampu membesarkan Bank Niaga karena kebersamaan, dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam menciptakan tujuan bersama.

 

 

Buku ini dibagi dalam delapan bagian. Mulai dari bagian pertama “sejarah” pembangunan Indonesia dari masa ke masa, ia masuk ke bagian kedua mengenai dimensi modal sosial dalam pembangunan. Di bagian tiga, dibahas modal sosial beberapa suku di Indonesia. Untuk memperkaya bukunya, di bagian empat dibahas modal sosial di negara lain. Ia memilih negara-negara superkaya sebagai pembanding, terutama Cina, Korea, Jepang dan Amerika. Ia juga banyak mengutip buku karangan Fukuyama. Jika Anda sudah paham banyak mengenai modal sosial, barangkali bosan membaca bagian-bagian awal ini.

 

 

Bagian lima mulai menarik ketika membahas modal sosial dan kualitas manusia Indonesia. Tulisan makin menarik ke bagian tujuh ketika membahas bagaimana Menuju Budaya Unggul di Indonesia. Buku ini ditutup dengan bagian delapan yang membahas kepemimpinan dan modal sosial. Dengan latar belakang yang begitu kaya sebagai pemimpin di perusahaan-perusahaan raksasa di Indonesia, Robby mengambil kesimpulan, bahwa modal sosial dapat dibangun di bidang apa pun, tergantung pada pemimpinnya. Ini bertentangan dengan pemikiran cendekiawan modal sosial Jousairi Hasbulah, bahwa tipologi, watak dan karakteristik kepemimpinan seorang pemimpin akan ditentukan oleh budaya dan spektrum modal sosial tempat pemimpin dibesarkan.

 

 

Bagaimana pemimpin ideal bagi Indonesia? Robby memaparkan hubungan antara pemimpin dan modal sosial. “Pemimpin yang ideal bagi bangsa kita adalah pemimpin yang memiliki visi, mempunyai kemampuan berpikir secara strategis dan dapat melaksanakan strateginya dengan melibatkan semua orang dalam satu relasi saling menghormati dan menghargai. Model kepemimpinan seperti inilah yang selaras dengan pembangunan modal sosial.”

 

 

Robby mencoba mengupas pemimpin ideal dari kelas nasional di Jakarta, pemimpin daerah, pemimpin politik, pemimpin LSM dan agama, serta pemimpin bisnis. Pemimpin ideal versi Robby adalah pemimpin yang lepas dari mentalitas bonding. Saat ini, bonding social capital masih mewarnai tipologi modal sosial di Indonesia. Modal sosial jenis ini menganggap bahwa apa yang terbaik adalah hasil turun-temurun yang telah menjadi norma keturunan, komunitas atau sukunya .

 

 

Sebaliknya, apa yang dari luar dianggap kurang. Itu sebabnya, sulit melahirkan pemimpin Indonesia yang memiliki semangat lintas suku, agama, kelompok, keturunan dan sejenisnya. Maka, yang diperlukan di Indonesia adalah pemimpin yang mampu mentransformasikan masyarakat yang bonding ini ke arah yang lebih bridging dan linking social capital. Buku ini ditutup dengan bahasan mengenai transformasi ini.