Kebenaran Bisnis ala Starbucks

Kapan pertama kali Anda minum kopi di Starbucks? Yang jelas, kalau saya boleh menebak, pasti bukan karena tergoda oleh iklan. Sejauh yang bisa Anda ingat, waktu itu Anda tiba-tiba saja sudah mendapati diri Anda duduk di gerainya yang nyaman. Bisa saja karena sebelumnya Anda membaca laporan di koran atau mendengar cerita dari seorang teman, tentang telah dibukanya “sebuah kedai kopi dari Amerika” di Jakarta. Atau, Anda sedang jalan-jalan ke mall dan tertarik melihat lambang bulatan hijau bertuliskan “Starbucks Coffee”, dan tertarik untuk mencobanya. Yang jelas, Anda pertama kali ke Starbucks bukan karena iklan. Sebab, Starbucks nyaris tak beriklan.

Buku The Starbucks Experience karya Joseph A Michelli yang diterjemahkan oleh Hero Patrianto ini mengungkapkan, Starbucks adalah perusahaan yang secara konsisten lebih banyak mendanai pelatihan untuk karyawannya daripada untuk beriklan. Tidak banyak untuk tak mengatakan jarang sekali sebuah kisah sukses perusahaan diawali dari fakta tentang penghargaan yang tinggi dari perusahaan tersebut kepada karyawannya. Tapi, Michelli menekankan aspek itu karena dia melihat, klaim Starbucks tentang “memperhatikan kepuasan karyawan sebagai fondasi sukses” bukanlah retorika yang berhenti menjadi sekedar teori yang indah namun minim atau bahkan nol dalam implementasi. Tak heran jika sejak bagian pendahuluan, buku ini sudah menegaskan bahwa di Starbucks, para pemimpinnya telah berfokus dalam membangun sebuah budaya di mana para karyawan bisa mengepakkan sayapnya.

Pemimpin Starbucks menawarkan sebuah filosofi menyegarkan ketika banyak CEO lain menumpuk kekayaan tapi membiarkan dana pensiun karyawan mereka tak terbayar. Jajaran eksekutif Starbucks terus-menerus bersedia dengan penuh rasa hormat untuk berbagi profit dengan para karyawan. Starbucks meyakini bahwa “cara yang benar” untuk melakukan bisnis adalah benar-benar menjadikan para karyawan sdbagai mitra pemegang saham yang memiliki bagian dari keuntungan perusahaan. Dengan adanya pembagian semacam itu, para karyawan menjadi tersadar akan pentingnya hubungan langsung antara kerja keras mereka dan kesuksesan bisnis perusahaan. Tapi, pertanyaannya sekarang, apa artinya pendekatan yang tak biasa itu bagi para pembaca buku ini yang mungkin saja hanyalah seorang pengusaha kecil yang jangankan menghadiahi karyawan dengan saham, menyediakan asuransi kesehatan saja tidak mampu?

Dalam kata pengantarnya, Presiden Starbucks US Business Jim Alling menegaskan, (buku) ini bukan sebuah ramusan ajaib untuk kesuksesan bekerja atau berbisnis; inilah kami apa adanya. Namun, mungkin saja ini keajaiban karena memang diperlukan sedikit keajaiban untuk membangun sebuah bisnis yang berniat memperkaya jiwa manusia. Maka, kalau kita kembali ke soal pembagian kepemilikan saham kepada karyawan tadi, spirit yang bisa ditarik tak lain bahwa intinya, setiap bisnis perlu memberikan perhatian untuk membangkitkan gairah serta kreativitas karyawan terhadap pekerjaan mereka.

Begitulah, membaca buku tentang kisah sukses seseorang atau sebuah perusahaan memang selalu menyenangkan. Tantangannya, apakah setelah membaca kita hanya terbuai lalu bermimpi, ataukah menarik benang merah untuk mempertemukan teori-teori dalam buku itu dengan situasi yang kita hadapi. Untuk buku ini, kendati orang boleh saja curiga bahwa ini bukan sesuatu yang terpisah dari upaya besar kampanye perusahaan Starbucks sendiri, tapi “5 Prinsip untuk Mengubah Hal Biasa menjadi Luar Biasa” yang ditawarkan, harus diakui, memang masuk akal dan universal. Artinya, orang akan dengan mudah menganggukkan kepalanya setelah membaca tuntas, dan merasa bahwa memang sudah semestinyalah sebuah bisnis digerakkan dengan cara seperti itu. Bahwa, misalnya, sebuah bisnis –apapun itu– harus memperhatikan detail, dan oleh karenanya semua hal harus dianggap dan diperlakukan sebagai sesuatu yang penting. Yang dibutuhkan kemudian adalah komitmen, konsistensi dan kedisiplinan.

Di situlah saya kira, pertama kali, letak makna penting buku ini; bukan sekedar kisah sukses yang “menarik” dan “mengagumkan”, tapi juga bagaimana kisah itu kemudian membangkitkan orang untuk menemukan sendiri nilai-nilai yang unik untuk mengembangkan usahanya. Starbucks telah memulai perjalanannya, dari satu gerai di Seattle, Washington dengan model-model pendekatan yang unik, yang kemudian dipetakan oleh Michelli dalam buku ini. Giliran Anda, setelah membacanya, memulai perjalanan Anda sendiri, dengan cara yang benar.