Jika Anda Tersenyum, Dunia pun Tersenyum


Tahukah Anda bahwa keputusan Anda untuk berhenti merokok bisa membuat temannya temannya teman Anda melakukan hal yang sama? Apakah selama ini Anda menyadari bahwa jika temannya temannya teman Anda bahagia, maka Anda pun jadi bahagia? Anda gemuk? Salahkan teman Anda! Bagaimana logikanya? Jawaban yang paling sederhana adalah karena kita saling terhubung dalam jejaring-jejaring sosial yang luas, sehingga tindakan seseorang memiliki pengaruh sosial yang tidak terbatas pada orang-orang yang dikenal saja. Jika kita mempengaruhi teman-teman kita, dan mereka mempengaruhi temen-teman mereka, maka tindakan kita berpontensi mempengaruhi orang-orang yang belum pernah kita temui. Tapi, apa iya, sesederhana kedengarannya?


 

Nicholas A Christakis, dokter sekaligus ahli ilmu sosial, bekerja sama dengan James H Flower, ahli ilmu politik, menuntun kita melusuri jejak-jejak jejaring sosial mengapa kita terlibat di dalamnya, bagaimana cara terbentuknya serta bagaimana jejaring itu bekerja dan mempengaruhi hidup kita. Buku ini dibuka dengan sebuah peristiwa pembunuhan berlatar perselingkuhan yang terjadi di sebuah desa pegunungan bernama Levie di Pulau Corsica pada 1840-an yang berbuntut dendam selama bertahun-tahun dan menyeret keterlibatan banyak orang dari generasi sesudahnya. Lalu, kedua peneliti itu melompat ke era awal 2000-an dengan sebuah ilustrasi yang berkebalikan, yakni kisah tentang penyelamatan nyawa: seseorang menyumbangkan ginjalnya untuk orang lain yang hubungannya tak begitu dekat.

Dari situ, penulis buku ini hendak menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa langka seperti pembunuhan berbuntut dendam tak berkesudahan dan penyumbangan organ tubuh hanyalah puncak gunung es dari dampak yang bisa ditimbulkan akibat hubungan-hubungan dalam jejaring sosial. Apa yang kita rasakan, apa yang kita ketahui, siapa yang kita nikahi, sakit-sehatnya kita, berapa banyak penghasilan kita, dan siapa yang kita dukung, semuanya tergantung pada ikatan-ikatan yang menghubungkan kita dengan orang-orang lain.

 

 

Setelah bab pembukaan yang memberikan semacam landasan teori mengenai jejaring sosial, buku ini masuk ke dalam bab demi bab yang masing-masing menjelaskan bagaimana jejaring sosial itu bekerja dalam tujuh area besar kehidupan: emosi, seks, kesehatan, uang, politik, evolusi dan teknologi. Lewat paparan-paparan yang detail, Christakis dan Flower menunjukkan betapa zaman teknologi modern telah membuat kita jadi lebih saling terhubung, mempengaruhi dan tergantung. Namun, dalam banyak segi kehidupan, peran jejaring sosial sebenarnya bukanlah fenomena baru. Rush bank misalnya, adalah contoh klasik bagaimana perilaku individu yang rasional bisa menyebabkan perilaku bersama yang tak rasional. Kita semua bisa berpikir dengan kepala kita, tapi hati kita terus berhubungan dengan kerumunan, dan terkadang itu menyebabkan kita terjerumus dalam masalah.

 

 

***

 

 

Secara umum, buku ini merekam pertumbuhan dan revolusi jejaring sosial. Dan, salah satu bagian yang paling menarik dan mungkin ditunggu-tunggu oleh pembaca adalah ketika buku ini sampai pada pembahasan tentang jejaring sosial di internet. Dua peneliti ini menggunakan istilah “hyperconnected” untuk melukiskan betapa membludaknya penggunaan telepon selular, internet dan situs jejaring sosial telah sangat mempertinggi kemampuan kita untuk berhubungan dengan orang lain, dan membuat kita jadi “maha-terhubung”. Situs jejaring sosial Facebook misalnya, memungkinkan seseorang mengaku punya teman ribuan. Internet melahirkan bentuk-bentuk baru jejaring sosial yang sebenarnya merupakan modifikasi radikal dari tipe-tipe interaksi jejaring sosial yang sudah ada sebelumnya.

 

 

Dengan cukup provokatif dan penuh wawasan baru, buku ini merupakan salah satu upaya awal untuk mengkonstruksi “sains” jejaring sosial. Ide dasarnya cukup sederhana namun jernih, yakni bagaimana memahami bahwa jejaring membantu keseluruhan umat manusia menjadi lebih besar dari bagian-bagiannya. Itulah, menurut Christakis dan Flower, proyek akbar abad XXI. Tanpa mengesampingkan apalagi menyembunyikan fakta bahwa revolusi jejaring sosial juga membuka kemungkinan pada hal-hal yang negatif, buku ini mengajak kita untuk lebih memahami jejaring sosial sebagai alat yang penting untuk menghadapi ancaman-ancaman baru di dunia kita.

 

 

Krisis finansial global mengingatkan kita bahwa kegiatan ekonomi makin mendunia dan saling terhubung. Kemunculan masalah-masalah kesehatan masyarakat seperti kuman yang kebal terhadap obat dan wabah perilaku berisiko diperparah oleh penyebaran dari orang ke orang. Kampanye politik makin memanfaatkan teknologi jejaring baru dan makin banyak kehidupan politik kita yang terjadi di dunia yang maha-terhubung. Tapi, teknologi yang sama juga digunakan beberapa ekstrimis yang ingin menghancurkan dunia yang memperkenankan kita berhubungan dengan amat lancar. Segala tantangan ini menuntut kita mengakui, walau manusia amat hebat secara individu, kita harus bertindak bersama untuk mencapai apa yang tak bisa kita lakukan sendiri. Dan, Anda tidak harus menjadi orang terkenal untuk menjadi bagian dari itu. Yang perlu Anda lakukan adalah berhubungan.

 

 

 

Setelah membaca buku ini, kita akan menjadi semakin paham terhadap ungkapan yang selama ini sering kita dengar, bahwa “dunia ini sempit”. Lebih dari itu, buku ini akan membuat kita merasa berarti dalam dunia yang sempit dan terus bertambah sempit itu, sekaligus memberi kita banyak pemahaman baru atas pertanyaan-pertanyaan lama, seperti mengapa seseorang lebih makmur dan sukses dibanding lainnya, dan mengapa orang kaya semakin kaya. Bagi praktisi HR yang selama ini menganggap penting sebuah networking, relevansi buku ini sangat jelas. Anda jadi semakin paham, mengapa karyawan yang memiliki lebih banyak teman cenderung lebih sukses, dan mengapa manajer rekrutmen yang memiliki banyak kenalan lebih mudah mendapatkan karyawan berkualitas.