Sakti Wahyu Trenggono: Kuncinya SDM dan Penciptaan Kompetensi

Sakti Wahyu Trenggono minta maaf atas keterlambatannya dan dengan santai kemudian bercerita tentang salah satu aktivitas terpentingnya saat ini: main golf bersama para bupati. Dia tidak sedang berusaha menggalang lobi untuk memuluskan jalan masuk menjadi aparat pemerintahan –sejauh ini sepertinya belum ada keinginan untuk itu. Tapi, sebagai orang yang kini dijuluki sebagai Raja Menara BTS (base transceiver station), bergaul dengan petinggi-petinggi birokrasi lokal memang sudah merupakan bagian dari proses bisnis yang harus dijalaninya.

Tak sulit untuk menebak, julukan Raja Menara BTS itu tentu merujuk pada posisinya saat ini pendiri, pemegang saham mayoritas dan Presiden Direktur PT Solusindo Kreasi Pratama yang memiliki Indonesian Tower, pelopor bisnis penyewaan menara untuk perusahaan-perusahaan operator telepon selular. Bila dalam bisnis dikenal jargon-jargon klasik tentang kunci sukses, seperti “one step ahead“, “think different” maka kelebihan-kelebihan itulah yang agaknya dimiliki Trenggono hingga ia mampu secara tajam melihat udang peluang bisnis di balik batu perkembangan industri telekomunikasi selular yang pesat di Tanah Air.

Sebagai bisnis pendukung, usaha penyewaan menara BTS pada dasarnya merupakan bisnis alih daya, dan dalam hal ini Trenggono melakukan lompatan tinggi: ketika banyak orang mengenal bisnis alih daya masih hanya sebatas bidang-bidang cleaning service atau sekuriti, ia memulai dengan langkah besar. Dan, deregulasi undang-undang menjadi pijakan langkahnya ketika industri telekomunikasi yang awalnya hanya dimiliki pemerintah, pada gilirannya dilepas untuk kompetisi bebas. Akibatnya, perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi pun bermunculan bak jamur di musim hujan.

“Mereka semua membutuhkan infrastruktur, dan kalau masing-masing membangun sendiri menara BTS-nya, lihat saja misalnya di kawasan Puncak itu satu titik bisa puluhan menara. Daerah-daerah wisata yang indah jadi jelek,” tunjuk Trenggono. Ia menyebutnya sebagai “polusi pemandangan” dan itu hanya salah satu faktor yang mendorong munculnya ide untuk usaha menyewakan menara BTS. “Faktor lain tentu masalah efisiensi,” ujar dia. Maka, jadilah, sejak 2002, penyewaan menara BTS menjadi industri baru dan, “Sekarang pemainnya tak hanya kita, tapi banyak bahkan modal asing pun mulai gencar,” sambung Trenggono.

Ditambahkan, selain dari sisi perkembangan bisnisnya makin menggiurkan, perusahaan operator-operator itu sendiri kini berlomba-lomba untuk memangkas biaya dengan menjual menara yang sejak awal mereka bangun sendiri. “Jadi, operator-operator baru sama sekali nggak membangun menara, sedangkan yang lama yakni Telkomsel, Indosat dan XL untuk pengembangannya mereka sewa, yang telanjur mereka bangun mau dilepas.” Dengan kata lain, Trenggono ingin menegaskan bahwa ada peluang (bisnis) yang sangat besar dalam dinamika bisnis telekomunikasi itu.

Bagaimana dengan masuknya perusahaan asing tadi, yang tentunya akan ikut merebut peluang itu dan mengurangi kesempatan bagi pemain lokal?

Dengan gaya bicaranya yang tetap santai dan banyak tertawa, Trenggono dengan enteng tapi serius mengatakan, dirinya menyadari bahwa perusahan asing biasanya memiliki dana besar dan, “Kita kalah dari aspek itu.” Tapi, “Saya yakin tidak takut dengan asing karena (bisnis) ini sangat lokal, artinya industrinya ada di dalam negeri, segala macam persoalannya di dalam negeri, jadi mereka perlu vehicle di dalam negeri yang kuat.”

Lebih dari semua itu, Trenggono yakin bahwa perusahaan yang didirikannya sudah terlalu berjalan di jalur yang benar untuk mampu mengatasi segala bentuk persaingan dan perkembangan di luar. Soal manajemen yang “mesti hebat” barangkali sudak tak perlu dibahas lagi. Tapi, yang menarik, Trenggono memberi tempat yang begitu tinggi pada konsep kompetensi. “Kita kuasai kompetensinya dulu, tak sekedar membangun menara dan menyewakan, ciptakan dulu nilai kompetensi perusahaan sedemikian rupa sehingga kita punya value, sehingga perusahaan operator happy sewa ke kita daripada ke kompetitor kita.”

Sampai di situ, Trenggono terus mengulang-ulang kata “kompetensi” dan artinya, ia sudah masuk pada isu tentang bagaimana mengelola sumber daya manusia (SDM). Dan, memang benar, akhirnya rahasia sukses –kalau bisa disebut begitu– itu terungkap juga lewat kalimat, “Kuncinya SDM yang bagus.” PortalHR telah bertemu dan mewawancarai banyak pengusaha, tapi baru Trenggono yang memiliki visi yang begitu terang dan kuat mengenai SDM. Untuk industri yang terbilang baru, kejelasan dan kekuatan visi mengenai manajemen SDM itu memang sangat penting, kalau tak bisa dibilang yang utama. Dan, orang bisa menguji bahwa sukses besar Indonesian Tower seperti terlihat saat ini, tak lain berkat kepiawaian Trenggono yang tak diragukan dalam mengelola karyawannya.

Namun, di sisi lain, perusahaan dengan kepimpinan seperti itu bisa membentur tembok ketika sang pendiri merasa tak seorang pun bisa menerjemahkan visinya sebaik dirinya sendiri. Dan, itulah yang dialami Trenggono sampai saat ini. “Jujur saja, HR head-nya masih saya langsung. Kita sudah pernah merekrut beberapa kandidat yang diharapkan bisa menerjemahkan visi kita, fail semua, nggak nyambung,” ujar dia.

Saat ini, Indonesian Tower memiliki 2000-an menara dengan 260 orang karyawan –140 diantaranya teknisi. Tugas seorang teknisi adalah menjaga menara. Mereka direkrut dari daerah-daerah, lalu diberi pelatihan militer selama 2 bulan di Jakarta, setelah itu dikirim ke Bandung untuk mendapatkan pelatihan teknologi selama sebulan sebelum kemudian menjalani on job training selama 6 bulan. Seorang teknisi bertanggung jawab atas 10 hingga 15 menara (sebagai gambaran, di Kabupaten Semarang misalnya, terdapat 120 menara) dengan gaji 1,8 juta plus fasilitas motor.

“Konsep rekrutmennya, kita datang ke daerah, bikin kerja sama dengan SMU-SMU atau SMK, murid yang terbaik kita ambil. Misalnya saja di Jawa Tengah perlu 15 orang, itu kita bikin tes, yang lulus kita kumpulin,” terang Trenggono.

Selain teknisi, ada juga tenaga desainer yang bertanggung jawab atas menyesuaikan bentuk rancang bangun menara sesuai lokasinya. “Misalnya untuk yang didirikan di dalam kota, di tengah kawasan pemukiman, desainnya tidak berbentuk tower, tapi kamuflase seperti pohon biar nggak kelihatan. Itu kita ciptakan, kita develop, nggak bisa main pasang aja,” papar dia.

Semua itu, lagi-lagi, adalah bagian dari apa yang tadi berkali-kali disebut Trenggono, yakni kompetensi.

“Kita desain sampai ke situ, satu orang maksimum awasi berapa tower, agar mereka cepat motor apa yang harus disiapkan, agar gerakan mereka seragam dan agar bisa survive model pendidikannya seperti apa. Penciptaan kompetensi akan bisa terjadi apabila orang-orang yang ada di dalamnya bagus dan kuat. Agar bagus dan kuat harus dididik, dilatih, di-follow up…”

Bagi Trenggono, kompetensi yang dikembangkan oleh perusahaan bisa dibilang berhasil jika customer merasa puas dan enjoy. “Mereka harus merasa kita mampu memberika service guarantee, mampu menepati perjanjian yang telah disepakati, dan mampu memberi solusi. Ibaratnya, sebelum ada komplain kita sudah beresin lebih dulu,” papar dia.

Toh, sejauh itu, Trenggono sama sekali belum mengungapkan, kompetensi yang dikembangkan oleh perusahaannya itu apa. “Wah, itu rahasia bisnis,” sahut dia sambil tertawa panjang. Tentu dia bercanda. Lahir di Semarang, 3 September 1962, ayah dari 3 orang anak itu mengawali karirnya sebagai tenaga ahli teknologi informasi di Federal Motor (kini Astra Honda Motor) selama 6 tahun. Di anak perusahaan Astra Internasional Indonesia itu, karir sarjana S-1 bidang Manajemen Informatika Universitas Bina Nusantara ini melesat sampai level manajer. Pada 1995, ia cabut dari Astra dan pindah ke Inkud hingga 1998 dengan jabatan terakhir Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis.

Dalam obrolan santai di kantornya di bilangan Thamrin, entrepreneur yang juga pernah kuliah Teknik Industri di UI sampai tamat, dan peraih gelar S-2 Manajemen Bisnis ITB itu banyak bercerita tentang rumahnya yang lengang karena dua anaknya menempuh pendidikan di tempat yang jauh (satu kuliah di Australia dan satu lagi masih SMU, di Taruna Nusantara, Magelang –). Satu lagi, yang perempuan sibuk dengan karirnya di salah satu perusahaan operator telekomunikasi baru yang tengah berkembang pesat. Ia bercerita tentang alam pikiran anak-anaknya yang sering tak terduga dan membuatnya geleng-geleng kepala.

Kembali ke soal HR yang masih dipegang sendiri tadi, ngomong-ngomong akan sampai kapan? “Sampai dapat. Kita masih nyari terus. Belum lama kemarin sempat dapat kandidat, saya lihat CV-nya, nggak pernah lama, pindah-pindah terus, ini bahaya, kutu loncat nih, wah enggaklah. Saya mau orang HR yang hebat, karena saya ingin membangun SDM yang solid dan efisien. Kalau perlu di mana dia, kita yang hunting,” tegas Trenggono.