Nashrudin Ismail: Ilmu HR mesti Dibarengi Adaptasi pada Kondisi

CEPATNYA perkembangan dan tantangan industri telekomunikasi di Indonesia, membuat pelakunya harus bisa menyesuaikan diri. Termasuk bagi PT XL Axiata Tbk (XL). Laju inovasi bisnis di industri ini yang senantiasa diikuti persaingan perkembangan produk antar operator, salah satunya menuntut perumusan strategi SDM yang tepat. Lantas bagaimana XL mempersiapkan talent-talent terbaiknya?

“Kita tahu bahwa industri ini berjalan sangat pesat, orang di dalamnya juga harus gila-gilaan. Kenaikan revenue harus diikuti dengan strategi yang tepat, jika tidak maka bisa jadi kita malah rugi,” begitu ucapan Nashrudin Ismail, General Manager Human Capital Development XL saat berbincang santai dengan Tim PortalHR yang menyambangi kantornya di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Nashrudin pun memberikan contoh bahwa tantangan revenue adakalanya didorong oleh volume penggunaan layanan yang meningkat, di mana biasanya melonjak dengan adanya promo rendahnya tarif yang ditawarkan. “Jika demikian, maka costcutting pun harus dilakukan agar perusahaan masih mampu menghasilkan profit. Bagaimana caranya? Ya bermacam-macam, salah satunya adalah dengan tidak menambah jumlah karyawan,” imbuh Nashrudin.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan lebih fokus kepada core business. Misalnya, XL dituntut untuk menghadirkan produk-produk yang berkulitas dan dibutuhkan serta memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggannya. Dalam hal ini XL membuat terobosan ketika menggandeng PT Huawei Services untuk mengurusi segala solusi network yang dibutuhkan XL.

Keputusan yang tidak mudah memang, karena implikasinya sebanyak 1.600 karyawan XL beralih menjadi karyawan Huawei. Meski terkesan terjadi ‘bedol desa’ atas pindahnya karyawan XL, Nashrudin buru-buru mengklarifikasi bahwa, perpindahan karyawan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, justru dengan spesialisasi tersebut, maka XL justru bisa lebih fokus.

“Sebetulnya hal ini (perpindahan karyawan, red) sudah jamak di industri telko, dan ini bukan masalah karena pada dasarnya job desc mereka sama saja,” ungkap Nashrudin. Ia justru menekankan bahwa dengan adanya perampingan ini, XL dapat menjadi lebih fokus dalam me-manage apa yang memang menjadi core business XL, termasuk menggagas product development, marketing, brand, dan quality service.

Dua tahun menjabat sebagai GM Human Capital Development, ranah kinerja yang menjadi fokus bagi Nashrudin adalah People Development. Proses people development pun dikembangkan untuk tidak keluar dari arahan budaya perusahaan. “Basisnya adalah kompetensi, kemudian rekomendasinya dibagi menjadi tiga, leadership, functional dan generik. Di samping juga talent management seperti mengakses talent, melakukan training dan pengelolaan lainnya,” imbuh Nashrudin.

Sebelum mengisi posisi GM Human Capital Development XL, Nashrudin sempat berpindah-pindah posisi, seperti mengisi posisi sebagai Solution Manager dan National Sales Manager di perusahaan yang sama. Meski tidak berlatar belakang pengalaman di Human Resource (HR), Nashrudin mengaku tidak kesulitan melakukan penyesuaian.

“Kalau di XL, kita mengenal career ladder ya, jadi untuk bisa menjadi manajer, kita harus pernah menempati lebih dari satu posisi. Memang butuh effort untuk dapat beradaptasi dan mempelajari bidang baru ini, tetapi hal ini bukan menjadi hambatan,” ujarnya. Menghadapi dunia baru di sumber daya manusia, dia banyak belajar secara otodidak, via internet, training dan yang pasti melalui best practice. Menurut Nasrudin, bukan saatnya lagi orang HR mengungkung dirinya semata-mata di HR, harus 50:50, sehingga dapat memberi warna pada seluruh tim di HR.

Ditambahkan Nashrudin, “Ilmu HR itu harus diiringi dengan kita mengadaptasi dari kondisi. Ada kalanya yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan teori, jadi tantangannya adalah kita melakukan kaidah-kaidah dasar tetapi tepat diaplikasikan dengan bisnis, apalagi dengan ritme di industri berkecepatan tinggi seperti ini.”

Secara umum, lanjut Nashrudin, setiap program di XL yang menyangkut urusan HR, didasarkan  pada nilai perusahaan yang terangkum dalam ITS XL, yang dijabarkan menjadi Integrity, Teamwork, dan Service Excellent. Dalam hal perilaku kerja, karena XL berfokus pada komunikasi data, maka disusunlah pedoman kerja Fierce (fast – eager- lean), Excellent, dan Leading (Feel 3.0). Berbekal pola pemikiran tersebut, tutur Nashrudin, maka perilaku (behavior) para karyawan diharapkan untuk dapat mengakomodir pola kinerja yang sesuai dengan XL, yakni bergerak cepat berdaya saing di industri komunikasi. (*/tw)

 

Tags: ,