Marcella Siddidjaja: HR Harus Satu Bahasa dengan Manajemen

 

Marcella Siddidjaja hanya tertawa kecil ketika ditanya, apa resep untuk menjadi seorang head HR yang punya bargaining dan powerful? Keningnya tampak sedikit berkerut tanda ia sedang berpikir. Lalu, dengan nada merendah ia mengatakan bahwa masalahnya hanya soal kecocokan. Tapi, benarkah? Barangkali bisa dibayangkan, seorang head HR yang sudah keluar dari suatu perusahaan, dan pindah ke tempat lain, kemudian dipanggil lagi. Ia bersedia namun mengajukan syarat: diperbolehkan masuk seminggu tiga kali saja. Dan, diterima. Apa istilah yang cocok buat head HR tersebut kalau bukan memiliki bargaining dan powerful? Tapi, Marcella memang terlalu rendah hati untuk menonjolkan fakta itu.

“Kebetulan style dan budaya perusahaan ini mungkin cocok (dengan saya). Jadi bukan…” ia tetap bersikeras namun kemudian kehilangan kata-kata yang tepat. “Mungkin saya kalau pindah ke perusahaan lain belum tentu cocok kalau manajemen nggak sepikiran. Kebetulan di sini (manajemen) sepikiran (dengan saya) sehingga gampang kalau mau ngomong sesuatu, nyambung, o dia maunya ini.” Suaranya lembut, banyak tertawa dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan santai bahkan tak jarang mencoba bercanda. Semua benar-benar tidak sekaku yang bisa dibayangkan orang tentang sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT, tempat dia bekerja. “Di sini salah satu value kita fun, mungkin semacam serius tapi santai gitulah istilahnya,” tegas HR Manager –demikian jabatan yang tertulis di kartu nama– Jatis Solution itu.

Ia baru bergabung kembali ke Jatis awal tahun ini, setelah sembilan bulan sebelumnya sempat “mampir” di HSBC. Dibilang “bergabung lagi”, karena sebelumnya, selama tiga tahun Marcella adalah bagian dari perusahaan yang memiliki motto Not Just IT Solutions, Real Business Results itu. “Saya mau dipanggil kembali pertimbangannya adalah karena bisa balance waktunya antara kantor dan keluarga,” ujar dia. Sejak awal karirnya, Marcella memang selalu mencita-citakan pekerjaan yang bisa memberinya kesimbangan waktu untuk lebih banyak di rumah. Tak heran, jika selepas lulus dari S-1 Psikologi UI, ia membuka praktek konsultasi psikologi di rumah.

Namun, tak lama kemudian, ia tergoda untuk merasakan “bekerja di kantor” dan bergabung dengan ESA Consulting, sebuah perusahaan konsultan HR. Pada saat yang sama, ia juga mengajar di Atmajaya. Ketika anak pertamanya lahir, ia keluar dari ESA (setelah 2 tahun) tapi tetap mengajar hingga setahun kemudian, sebelum akhirnya pindah ke Global Teleshop dan menduduki jabatan Supervisor HR bidang Training dan Rekrutmen.

Kini, Marcella mungkin sudah merasa menemukan rumah yang dari dulu diidam-idamkannya, yang memberinya flexi hour yang merupakan impian semua karyawan. Selain itu, dari sisi area yang digelutinya sendiri, ibu dari dua orang anak (masing-masing 5 dan 2 tahun) itu bisa mengatakan “beruntung” karena, “Di sini direktur utamanya concern banget sama HR, mau bikin program apa satu bahasa,” ujar dia seraya menambahkan bahwa di Jatis, direktur utama sekaligus merangkap direktur HR.

Marcella menekankan pentingnya satu bahasa antara HR dan manajemen tersebut, karena di perusahaan IT macam Jatis dinamikanya lebih terasa ketimbang misalnya ketika ia bekerja di konsultan HR atau bank. Belum lagi irama kerjanya yang cepat dan turn over yang tinggi, membutuhkan program-program HR yang progresif. Namun, Marcella menolak jika dikatakan bahwa untuk perusahaan yang bergerak dalam industri IT diperlukan head HR dengan karakter khusus.

“Sebenarnya bukan karakter, tapi kemauan untuk mempelajari industrinya. Ketika saya masuk ke satu perusahaan, mau tidak mau harus cepat beradaptasi, kita mesti benar-benar masuk ke perusahaan itu, mendalami bisnisnya, ikuti arahnya gimana. Aku sih lihatnya mungkin gini, kalau aku masuk ke satu perusahaan, kan isinya orang-orang, saya sih ngerasa perusahaan ini ya perusahaan saya juga, kalau kita ngerasa begitu, kalau perusahaan lagi susah saya jadi nyari-nyari solusi, apa yang bisa kita bantu, nggak cuma (mikirin) area HR, tapi kita bisa bantu dari segi HR-nya. Jadi, misalnya ada rapat, saya ikut deh, ada nggak yg bisa saya bawa ke HR-nya,” papar perempuan yang lahir di Bogor, 19 Oktober 1974 itu.

Marcella menganggap pekerjaan yang paling mulia di dunia adalah pengusaha, sebab keberadaan mereka bisa menghidupi banyak orang. “Nah, kalau saya jadi HR, setidaknya saya bisa bantu dia,” katanya. Sebagai manajer HR untuk Jatis Solution sekaligus head of HR untuk anak-anak perusahanannya, seperti jatis Mobile, kesibukan sehari-harinya lebih banyak mengontrol, memonitor dan mengembangkan program-program HR. “Tugas intinya lebih banyak ke development, bikin program-program yang bisa membantu mengembangkan perusahaan ini, dari sisi orang-orangnya, misalnya sekarang lagi bikin Jatis School, kita bikinkan kurikulumnya,” jelas dia.

Saat ini, Marcella memiliki empat orang staf untuk mengurusi sekitar 500 karyawan. Yang harus dihadapinya adalah orang-orang yang kritis baik terhadap program-program baru yang dikeluarkan oleh departemen HR maupun terhadap regulasi-regulasi. Sementara, dari segi kesejahteraan tidak banyak keluhan karena menurut Marcella, “Kalau dibandingkan dengan perusahaan IT lain termasuk di atas rata-rata.” Adapun mengenai turn over karyawan yang tinggi, dia memandangnya dengan bijak sebagai “kondisi yang harus diterima dalam industri IT.” “Dari situ, kita bikin ekspektasi, bikin statistiknya, misalnya orang-orang (biasanya) pindah dalam dua-tiga tahun, jadi disiapkan (penggantinya), terus level-level apa saja yang pindah…jadi, butuh nggak butuh kita selalu lakukan proses rekrutmen.”

Itu yang pertama. Langkah kedua, membuat program talent management untuk orang-orang yang best perfomance dan memegang kompetensi-kompetensi utama dalam perusahaan. “Kita sadar, kita nggak akan sanggup me-retain semua orang, jadi merekalah yang kita perhatikan bener-bener, meskipun bukan berarti yang tengah-tengah tidak diperhatikan,” jelas Marcella.

Sejauh ini, itulah peran yang dijalani oleh Marcella di perusahaan tempat dia bekerja, yang dinikmatinya dengan kebanggaan karena baginya, orang HR adalah bagian dari perusahaan yang benar-benar bisa membuat perubahan nyata. “Apa yang kita lakukan, langsung kelihatan (hasilnya) untuk seluruh perusahaan. Jadi, benar-benar ikut mewarnai perusahaan, dari mengubah kulturnya sampai bagaimana meretensi talent. Nah, keberhasilan itu langsung kelihatan. Ya, mudah-mudahan jadi lebih bermanfaat ke bisnisnya juga,” harap dia.

Bertemu dan berbincang dengan Marcella seperti mendapatkan gambaran betapa berkarir di HR selamanya akan tetap menantang dan menarik. Kuncinya, kembali, menurut dia, orang HR harus menganggap perusahaan seperti milik sendiri sehingga benar-benar merasakan suka-duka dan kebutuhannya. “Kedua, harus bisa satu bahasa dengan manajemen, kalau mereka pakai angka, kita pakai angka deh!”