Herris B Simandjuntak: Bukan Jabatan, Tapi Kualitas Individu yang Penting

Orang lain mungkin akan mengatakan, usia 59 sudah cukup tua untuk menikmati masa pensiun, duduk di rumah menimang cucu sambil memberi makan burung-burung kelangenan. Namun, tidak demikian dengan Herris B Simandjuntak. Pada usianya saat ini, pemilik nama yang pernah dikenal luas sebagai CEO PT Asuransi Jiwasraya itu masih menduduki jabatan komisaris independen merangkap presiden komisaris di dua perusahaan asuransi swasta di bawah Recapital Group. Selain itu, Herris juga sekolah lagi. Apa nggak bosen? Apa masih bisa mikir? “Saya belum tua kok,” ujar mahasiswa S-3 Strategic Management Universitas Indonesia itu.
Ditemui di kantornya di Recapital Building, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Herris tampak sehat dan bugar dalam balutan busana batik. Tentu saja, sekarang ia tak perlu “ngantor” setiap hari sebab jabatan yang diembannya memang lebih bersifat mengawasi memberikan nasihat kepada direksi ketimbang terlibat langsung dalam aktivitas operasional. Karier Herris memang tumbuh dan berkembang di dunia asuransi. Sebelum berpuncak di Jiwasraya selama tujuh tahun (2001-2008), dia telah menduduki kursi direktut utama di PT Asuransi Jasindo (2001) dan managing director Allianz Utama (1996-2001).
Kini, Herris memandang, industri asuransi masih berada dalam tahap perkembangan yang bagus. Walaupun sedang terjadi perlambatan ekonomi akibat dampak krisis global, asuransi jiwa di Indonesia masih bisa tumbuh rata-rata 5%. “Pertumbuhan asuransi kan berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, lebih-lebih di asuransi kerugian, sangat terasa, bisnis melambat, permintaan atas asuransi kerugian terasa. Tapi, untuk (asuransi (jiwa) nggak terlalu, ekonomi lambat orang tetep perlu asuransi beasiswa, kesehatan, tapi secara umum suka nggak suka pasti terimbas krisis,” papar dia.
Kalau sudah begitu, menurut Herris, diperlukan kreativitas masing-masing pemimpin perusahaan untuk lebih jeli melihat apa kebutuhan pelanggan. “Di masa krisis orang akan melakukan prioritas, namun yang namanya pengeluaran tetap harus ada kan?” Untuk bisnis asuransi, Herris melihat bahwa faktor jumlah penduduk yang sangat besar merupakan pangsa pasar yang sangat potensial. “Penduduk Indonesia itu yang tersentuh asuransi baru limabelas persen. Tentu yang belum tersentuh memang karena berbagai alasan, misalnya tingkat pendapatan. Tapi, potensinya masih besar sekali,” ujar dia.
Bukan hanya dari segi pasar, potensi besar yang tersimpan di balik bisnis asuransi juga terletak pada kemampuannya untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Sayangnya, selama ini kebanyakan orang hanya tahu bahwa kerja di bidang asuransi identik dengan menjadi “sales”. “Padahal kesempatan kerja di bidang asuransi itu sangat luas. Setiap jenis asuransi membutuhkan tenaga-tenaga profesional yang berbeda. Antara asuransi jiwa dengan asuransi kerugian saja misalnya, beda,” jelas Herris seraya memberi contoh, di bidang asuransi jiwa misalnya, ada profesi yang disebut aktuari. Sedangkan untuk asuransi kerugian, mengenal adanya orang teknik asuransi (yang harus menguasai soal soal klaim dan re-asuransi) dan tentu saja non-teknis seperti akuntansi, HR dan investasi.
“Itu belum kalau kita bicara tentang asuransi kerugian untuk kendaraan, rumah, angkutan…yang masih dibedakan lagi antara angkutan laut, darat, udara. Jadi, orang kalau mau kerja di asuransi sama saja pilihannya sebanyak bidang-bidang industri lain,” tambah dia. Untuk menyikapi persepsi masyarakat umum yang serba terbatas mengenai cakupan karier di bidang asuransi, Herris menyarankan agar pihak perusahaan proaktif dalam proses rekrutmen. “Seperti yang saya lakukan waktu di Jiwasraya dulu, saya mempraktikkan sistem jemput bola,” ungkap dia seraya menjelaskan, pihaknya waktu itu menjalin kerja sama dengan universitas, memberikan penjelasan, sekaligus “mengijon” calon-calon lulusan yang potensial.
Khusus untuk pengalamannya di Jiwasraya yang merupakan perusahaan milik negara, dimana citra buruk banyak melekat padanya, Herris selaku CEO mewajibkan dirinya untuk turun tangan langsung memonitor proses rekrutmen. “Biar nggak ada KKN (korupsi, kolusi, nepotisme),” ujar pria kelahiran Pematang Siantar 9 Januari 1950 yang menempuh studi S-1 di jurusan Ekonomi UI dan Universitas Krisna Dwipayana, S-2 di program MM Prasetya Mulya dan pernah mendapat beasiswa bersekolah di Department of Banking and Insurance, Glasgow Caledonian University, Skotlandia itu. Ditekankan, bahwa seorang profesional di bidang asuransi selain memiliki kompetensi juga mesti mempunyai integritas. Dan, diperlukan orang-orang yang mampu menerjemahkan prinsip customer oriented di samping tentu saja business oriented.
Mengaku tidak tertarik untuk terjun ke politik praktis, Herris kini sibuk menjadi pembicara seminar mengenai budaya perusahaan, mengajar di Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti dan menulis. Buku yang telah diterbitkannya berjudul “The Power of Values in The Uncertain Business World: Refleksi Seorang CEO”. Kepada generasi muda yang tertarik menekuni karier asuransi, bapak tiga anak yang hobi bermain golf ini berpesan, jadilah profesional dengan membekali diri dengan kompetensi, integritas dan visi ke depan. Namun, mendasari semua itu, Herris menekankan pentingnya mencintai pekerjaan. “Cintai dulu, kalau nggak mending keluar saja dari pekerjaan itu,” tegas dia seraya mengingatkan, yang penting bukanlah di level mana seseorang itu berada, melainkan kualitas individu sesuai levelnya tersebut. “Bukan soal jabatannya, tapi kualitasnya di level itu,” tandas Herris.