Enny Sampurno: “HR tidak bisa dikasih rumus matematika”

Di tengah kesibukannya sebagai HR Director PT Unilever Indonesia Tbk, Enny Sampurno tetap terlihat enerjik dan hangat saat bertemu tim PortalHR pagi itu. Sukses meneruskan pilar-pilar Unilever sebagai Brand yang mampu bersaing di dunia global, sosok ibu dua anak ini mengaku tidak pernah terbayang akan masuk ke dunia HR.

”Saya backgroundnya orang finance, tapi di HR sekarang saya malah tertantang,” ujar Enny terus terang. Lalu bagaimana Director wanita ini selalu terlihat happy menjalani profesi barunya? Simak penuturannya langsung kepada PortalHR.

Perjalanan karirnya di Unilever berlangsung sejak masuk sebagai MT Finance pada Oktober 1991, setelah 11 tahun bergelut di bidang Finance, Enny akhirnya dipindahkan ke divisi Customer Service sebagai Customer Development. Menurut Enny di Unilever, dalam rangka pengembangan talent, setiap karyawan bisa pindah antar bagian. Hal itu bagus untuk meningkatkan helicopter view seseorang, sehingga dia mengerti bisnis  dari end to end.

Akhirnya setelah melalui tahap perekrutan, Enny yang menjadi kandidat berhasil terpilih sebagai HR Director pada Agustus 2011 lalu. Enny mengaku HR merupakan area baru untuknya, karena terbiasa menangani keuangan, customer dari order warehouse sampai transport, kini tugasnya adalah manage people, mendevelop tim. “Walaupun saya tidak punya background HR sama sekali, tapi ternyata karir membawa saya kesini,”ujar Enny sumringah.

Ternyata bagi penyuka buku-buku Self-Help ini, berhubungan dengan orang membuat dirinya happy. Bertemu dengan orang yang berbeda dan menyiapkan orang-orang yang terampil, mengobarkan semangatnya untuk mewujudkan visi dan misinya. Apalagi menurutnya Unilever mempunyai ambisi yang besar untuk mencetak leader-leader berbakat di bidangnya. “Kita diberikan waktu 5 tahun untuk menyiapkan leader yang benar-benar siap,” ujar Enny. Untungnya, karirnya selama 21 tahun di Unilever membuat Enny sudah tidak asing lagi dengan talent dan people yang ada. Tinggal bagaimana menguatkan sistemnya.

Meski begitu, menurut Enny harus ada penanganan khusus dalam me-manage orang, apakah itu? Yang jelas bukan rumus matematika. “Kalau dulu di finance, semua bisa dikalkulasikan secara jelas, menurut saya HR adalah tempat yang tidak bisa dikasih rumus matematika,” ujar Enny sambil tertawa.

Performa Unilever sebagai perusahaan yang konsisten menumbuhkembangkan semua brand-nya melalui inovasi tiada henti, mendorong Enny untuk mengikuti perkembangan yang ada. “Generasi sekarang sudah bergerak, sudah berubah, kita-nya juga harus berubah, harus ngikutin,” imbuh Enny.

Menurut Enny, tantangan untuk mencetak leader-Leader yang mumpuni, dapat terjadi dengan meminimalisir generation gap yang ada. Hal itu membuat Unilever kini fokus menciptakan great place to work bagi karyawannya. Tidak heran bila kita berkunjung ke Unilever, pemandangan ceria terpancar dari warna baju para pekerja, termasuk ibu yang rutin mengikuti yoga di klub kantor tersebut.

“Kami ciptakan working environment senyaman mungkin buat karyawan kami, kita provide environment.” Sebagai fasilitas yang bisa dinimati kapan saja oleh pekerja, Unilever mempunyai 32 klub olahraga dan rutin menggelar acara olahraga, seperti Pekan Olahraga yang diadakan 2 tahun sekali oleh semua pekerja Unilver di mana pun. “Di sini kita work hard, you can also play hard, kita percaya orang yang berolahraga auranya menjadi lebih segar dan sehat,” terang Enny.

Karena nature yang bebas, apakah tidak takut karyawan menjadi tidak bertanggung jawab? Enny menjawab, ”Walaupun kita informal, we still respect each other, dan semua masih dalam koridor,” ujar Enny.

Bahkan keterbukaan itu ia pelajari langsung dari anaknya. “Anak zaman sekarang lebih berani mengeluarkan unek-uneknya, saat kita larang, ia akan jawab “why not,” sangat berbeda dengan generasi saya dulu,” cerita Enny. Untuk itu, mengekang atau membatasi karyawan untuk berkarya adalah cara kuno, apalagi menurut Ibu yang bercita-cita menjadi dokter sewaktu kecilnya ini mengaku social network sudah sangat dirasakan pengaruhnhya. “Kita tidak bisa melarang, orang bisa menulis apa saja di social network mereka, tapi as a company, kita melihatnya sebagai genuine input, jika karyawan happy, maka dia akan berbagi, jika tidak puas, ya kita tidak bisa hindari,” ujar Enny.

Dengan tantangan itu, Enny percaya mengembangkan great place akan menciptakan great people. “Tapi hal ini natural, bukan suatu hal yang harus dikampanyekan,” ujar Enny. “Saya mau melihat Unilever Indonesia mencetak leader-leader yang tangguh yang diakui dunia, karena sebenarnya kita sangat respectable di kalangan Unilever dunia.”

Ketika ditanya apa ukuran berhasilnya seorang HR Director, Enny menjawab, “Saya tidak mau terjebak menandai sebuah program, ukuran saya di HR adalah readiness, saat semua program sudah selesai dijalankan, tapi belum tentu dengan orangnya, itulah tugas saya, memastikan apakah orang-orang kita sudah siap pada saat memegang destination rules-nya.” (@nurulmelisa)

Tags: ,