Eddy D. Erningpraja: Insan PLN akan Masuk ke Ranah Social Media

Prestasi PT PLN (Persero) yang mengesankan belakangan ini tak lepas dari kerja keras seluruh jajaran direksi dan karyawannya. Terlebih sejak masuknya Dahlan Iskan sebagai CEO sebelum beliau menjabat Menteri BUMN. Namun, keberhasilan dari sisi HR (human resources) tak bisa dipisahkan dari nama Ir. Eddy Denastiadi Erningpraja M.T sebagai direktur SDM dan Umum. Seperti apa sosoknya?

Eddy menyambut kami (tim PortalHR.com) dengan hangat di kantornya di Kantor Pusat PLN di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Di ruangannya yang lega, kami pun berbincang santai. Dalam kesempatan awal, Eddy mengejutkan kami dengan menyatakan keinginannya untuk bisa aktif di social media, dengan tujuan agar ia bisa mendapatkan insight dari customer masyarakat luas maupun juga dari sisi customer internal, yang tak lain adalah para karyawan PLN, yang sering disebut insan PLN.

Eddy sependapat bahwa orang HR sudah harus lebih melek dengan teknologi. Social media, menurutnya menjadi wadah yang tidak boleh dihindari, apalagi dimusuhi. Justru orang HR harus bisa memanfaatkan jejaring di dunia maya, untuk tujuan membantu tugas dan fungsi HR tanpa melupakan fungsi utamanya.

“Kita sudah melakukan banyak hal dan perubahan di PLN, tapi kalau informasi ini tidak sampai ke masyarakat, ini malah menjadi kontraproduktif dengan langkah-langkah yang telah diupayakan oleh insan PLN. Padahal, jam berapa pun kalau ada masalah, kita langsung turun tangan untuk menyelesaikan,” katanya. Untuk itulah, Eddy mengaku telah memiliki ancang-ancang strategi agar karyawannya bisa melakukan komunikasi yang efektif melalui social media, yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan kepada customer.

Sebelum bicara tentang program HR, Eddy sempat kami todong untuk menceritakan perjalanan karirnya. Eddy memulai karirnya di PLN sebagai seorang engineer. Tak lama setelah meraih gelar sarjana (S1) Listrik di Universitas Indonesia (UI), Eddy masuk PLN dengan status calon pegawai (Januari 1986). Ketika itu ia diberi pekerjaan sebagai petugas urusan gardu induk. Dalam tempo enam bulan kemudian Eddy diangkat menjadi pegawai tetap.

Eddy mengaku dirinya digembleng cukup matang untuk segala urusan operasional kelistrikan. Tak berlebihan memang, karena selama 11 tahun Eddy menapaki 5 jenjang jabatan dan unit kerja, hingga pada periode 20 September 1995 sampai dengan 14 April 1999, ia dipercaya sebagai Kepala Sektor Pulogadung PT PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali. Kompetensi Eddy diperkaya dengan mengikuti berbagi kursus baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti di Prancis dan Swiss.

Eddy mulai bersentuhan dengan masalah sumber daya manusia (SDM) ketika dia diangkat menjadi Ahli Madya II Pengelolaan Sistem Informasi pada Dinas Organisasi dan SDM (1999-2000). Hingga 2001, Eddy sempat menduduki Kepala Bagian Sistem Informasi SDM & Administrasi dan jabatan terakhir sebelum ia pindah ke bagian lain adalah Kepala Bidang Sumberdaya Manusia dan Organisasi.

Bapak 3 anak ini juga sempat mencicipi bagian keungan sebelum akhirnya kembali ke bagian SDM. Sebelum berada di posisi teratas SDM Eddy sempat menduduki jabatan Ahli Pengembangan Sistem SDM, Sekretaris Eksekutif Direksi dan Deputi Direktur Pengembangan Sistem SDM.

Eddy punya komentar tersendiri tentang perjalanan karirnya. “Jujur karir saya terbengkalai, padahal saya merasa bekerja cukup intens dan kalau ada masalah-masalah kita ini selalu ditunjuk sebagai orang yang men-solve. Atas kenyataan inilah, saya melihat ada semacam black box, dan untuk membenarkan anggapan tersebut, jalan satu-satunya kita harus masuk ke sistem. Sejak saat itu saya beralih kiblat, saya sekolah lagi, mencari ilmu tentang HR dan akhirnya saya memang kemudian masuk ke bagian HR,” kenangnya.

Eddy yang sudah terpola selama 14 tahun lebih di engineer, sempat geram melihat tata kelola di bagian keuangan. “Saya melihat pengelolaan keuangan di PLN itu sangat tradisionil, namun ternyata sangat berat mengubah orang keuangan,” ujarnya sambil meneruskan itulah yang membuat ia terpanggil untuk serius ke bagian HR. “Karena bagian inilah yang terkait dengan masa depan saya. Memang dari hasil asesmen saya tidak dominan di bagian HR, tapi karena dorongan yang kuat saya harus berbuat sesuatu dan HR adalah pintu masuknya,” tuturnya.

Yang paling absurd menurut Eddy adalah kenyataan bahwa PLN memiliki ketentuan tentang HR namun yang boleh tahu hanyalah pengelola HR. “Sedangkan karyawan tidak boleh tahu. Inilah yang menjadikan pengelola HR waktu itu punya ‘kekuatan’ untuk menentukan karyawan itu bisa maju atau tidak. It’s crazy,” ujarnya lagi.

Pada saat itu Eddy mengibaratkan PLN seperti black box, dalam suasana yang serba tidak transparan sehingga mudah terjadi prasangka (prejudice).

Atas dasar inilah, menurut Eddy sistem HR di PLN harus dirombak. Tantangan di bidang HR sangat banyak, Eddy memulai dari pendekatan di sisi kompetensi. Dia membuat sistem leveling kompetensi.

“Waktu itu tantangannya memang sangat besar, namun alhamdulillah setelah setahun semua karyawan PLN dari top sampai bawah bisa menerima konsep ini,” ujar lulusan S2 Bidang Industri ITB ini.

Eddy mencontohkan, misalnya, di level advanced, insan PLN harus bisa menguasai semua bidang, bisa membuat perbaikan, dan juga menciptakan inovasi. Sedangkan di level integration, yang merupakan level tertinggi insan PLN, tuntutannya adalah inovation breakthrough yang dilakukannya harus mendapat apresiasi dari para pemangku kepentingan.

“Ini semua sudah terdokumentasikan sehingga setiap karyawan PLN sudah tahu, kalau dia kemampuan segini, maka dia akan tahu posisinya ada di mana. Kenapa karyawan ada di sini, kenapa ia tidak naik, atau kenapa naiknya bisa cepat. Sekarang ini semua orang sudah tahu,” ujarnya sambil menambahkan langkah-langkah tersebut sebagai jawaban bagaimana insan PLN bisa mempunyai kemampuan terbaik dalam bidang yang ditekuninya.

Perjuangan kedua Eddy adalah bagaimana menggugah dan menggerakkan insan PLN untuk tidak lagi mengikuti sejarah menjadi pegawai negeri sipil saja, yang hanya sekadar bekerja karena ada arahan, atau hanya sesuai dengan job desc semata. “Dan ini terus terang belum selesai,” buru-buru Eddy menambahkan.

Namun begitu, Eddy boleh berbangga karena dari indikator employee engagement survey yang baru dilakukan, dalam masalah kinerja (performance), ia mencontohkan, yang in job performance dan yang extra job performance sudah mulai bergeser. “Rata-rata karyawan PLN sudah mulai haus dengan yang extra job performance dari sebelumnya yang hanya istilahnya menggugurkan kewajiban saja. Semua ini sudah kita buat sistemnya berbasis IT, dan inilah yang membuat culture di PLN berubah. Sekarang ini everybody knows,” imbuhnya.

Eddy juga mengajak untuk melongok dalam hal performance management, di mana ia mendorong insan PLN untuk terlibat dalam segala aktivitas yang berbau knowledge management. “Dengan sesi ini karyawan akan tergerak untuk bergairah memberikan sharing-sharing tentang pengetahuan yang ia dapatkan, serta bagaimana melakukan kwnowledge capturing yang semuanya ini sudah ada skoringnya. Ini berarti, kalau insan PLN tidak mau melakukannya, ia akan kehilangan skor tersebut,” bebernya. Hal lain seperti coaching and mentoring, Eddy pun menjelaskan, seseorang dikatakan coaching-nya baik, jika 80% dari staffing-nya sudah bisa membuat parameter KPI (key performance indicator) yang nge-link dengan KPI unitnya. “Kalau belum mencapai angka 80%, itu berarti Anda belum menjadi orang yang optimal,” sebut Eddy.

Perubahan budaya yang kini sedang terjadi kalau dalam kacamata internal, Eddy memberi contoh dalam hal absensi di mana karyawan PLN sekarang lebih rajin. “Kalau dulu banyak karyawan yang datangnya siang hari sampai jam 11, malahan setelah absen, 30%  orangnya hilang dari peredaran. Sekarang berbeda, dan kalau dibandingkan paling karyawan yang menghilang setelah absen menyusut tinggal 3% saja. Lainnya, dulu kita juga punya serikat pekerja yang sangat vokal tapi tidak pernah bekerja, sekarang tidak bisa lagi. Pernah pengurusnya kita ambil tindakan tegas dan dikeluarkan karena terbukti tidak bekerja. Bayangkan saja, karyawan ini kelewatan tidak masuk kerja hingga 3 bulan lamanya, padahal dalam peraturan undang-undang sudah jelas batasnya, kapan karyawan diperkenankan absen kerja. Pertentangannya sangat luar biasa, but I don’t care. Harus ada schock therapy, dan setelah ini diterapkan, nyatanya saat ini baik-baik saja,” terangnya.

Hal lain dari perubahan budaya yang terjadi di PLN juga terkait dengan hubungan atasan bawahan yang makin baik dan harmonis. “Kalau dulu hawa birokrasi itu sangat kentara, sekarang number leader of change kita dari employee engagement survey ada di angka 3,8 dari skala 5. Ini sangat menggembirakan. Iklim kondusif ini terus terang bertambah dengan masuknya Pak Dahlan Iskan kemarin yang menggencet dengan pressure motto untuk senantiasa bekerja, bekerja dan bekerja. Atas perubahan ini, nyatanya potensi karyawan PLN itu bisa keluar dan bahkan bisa optimal,” katanya bangga.

Eddy mengakui Dahlan Iskan memberikan kontribusi positif atas perubahan budaya di PLN dengan langsung memberikan contoh sosok yang berbeda dari seorang CEO. Ia mengenang, ”Mulai dari kesederhanaan, beliau ini sangat low profile dengan dedikasi kerja yang sangat tinggi. Kita menyaksikan tidak ada satu proyek pun dari Sabang sampai Merauke yang jumlahnya lebih dari 300-an, dan itu didatangi semua, termasuk kalau pun harus naik boat 12 jam perjalanan yang tempatnya di pelosok, di mana sinyal handphone saja tidak hidup. Kita pun pernah merasakan atmosfer bagaimana rasanya rapat direksi di pulau terpencil.”

Eddy pun tidak menampik, dukungan dan komitmen dari Dahlan Iskan selaku CEO telah memperlancar tugas-tugasnya dalam mengatur sistem HR di PLN. “Dukungan beliau memang luar biasa, sampai-sampai dikatakan HR is your business kepada saya, beliau support 100%, termasuk even wrong decision” kenangnya sambil tertawa. Inilah yang membuat Eddy merasa easy going dalam menjalankan program-program HR. “Jelas ini membuat semakin mudah, karena saya ini punya penyakit yang agak aneh untuk ukuran pegawai. Jika saya menjadi anak buah seseorang, di depan saya akan bilang kepada atasan saya, apa yang bapak inginkan dari saya, saya siap untuk melakukan, tapi kalau saya tidak bisa melakukan apa yang diminta jangan pakai saya sebagai anak buah. Sangat clear buat saya, if you trust me,” ujarnya.

Menjawab apakah Eddy enjoy di HR, secara cepat ia menjawab sangat enjoy. “Dengan dinamika SDM di PLN dan perubahan-perubahan yang kini sedang terjadi di antara 52 ribu karyawan tetap dan 60 ribu karyawan outsourcing, setiap pulang ke rumah saya merasa sangat bahagia. Lihatlah! Saya ini memiliki penyakit asma, dan selama saya menjabat menjadi deputi direktur hingga sekarang menjadi direktur, yang artinya sudah 4 tahun, alhamdulillah saya tidak pernah anfal. Saya bebas mengekspresikan diri, dan saat ini saya merasa sangat sehat,” katanya bersemangat.

Fakta bahwa karyawan di PLN yang jumlahnya sangat banyak inilah, yang membuat Eddy mulai menggagas e-learning dalam pengembangan program HR ke depan. “Pelatihan in-class tentu tidak akan bisa mengejar semua karyawan, sehingga e-learning menjadi pilihannya. Dari 335 bentuk training, saat ini sudah sekitar 30-an modulnya bisa diakses melalui e-learning. Hingga tahun depan, rencananya 40% dari materi training akan masuk ke sistem e-learning. Kami juga berencana tahun depan, seluruh karyawan PLN yang berjumlah 52 ribu akan dibelikan gadget, di mana programnya adalah mendorong agar masyarakat PLN itu segera menjadi masyarakat e-learning dan tak kalah penting, kami akan masuk ke ranah social media,” tekadnya.

Eddy menjelaskan saat ini kalau masyarakat menggunakan layanan i-sms PLN, semua informasi penting sudah tersedia, cuma masih sebatas informasi saja, misalnya kalau tambah daya itu harus bagaimana, dana berapa biayanya. “Tapi tahun depan layanan ini akan ditingkatkan menjadi transaksional, sehingga orang tambah daya pun sudah bisa dilayani melalui bantuan gadget yang sudah disiapkan,” katanya lagi.

Kenapa PLN masuk ke wilayah ini, Eddy lantas menyitir informasi bahwa dalam hal kemudahan mendapatkan listrik, Indonesia berada di peringkat 161 dari 183 negara, atau urutan ke-23 dari 24 negara di Asia Pasific. “Tentu ini kabar tidak baik, dan image di masyarakat bahwa mendapatkan listrik itu susah, inilah tantangan yang harus kami patahkan,” katanya tegas.

Eddy pun bertekad harus segera ada perombakan-perombakan nyata, misalnya kalau dulu mau pasang listrik harus mensyaratkan ada nomor rekening tetangga, sekarang tidak lagi. “Lha ini urusannya apa, coba bandingkan dengan Pertamina, apakah ia nanyain rekening dulu ketika ada yang beli BBM, atau produsen mobil yang nge-check pembelinya apakah sudah punya SIM atau belum. Tentu saja ini ironis karena yang namanya listrik itu khan ditaruhnya di rumah, nggak mungkinlah dibawa kabur, kenapa harus takut ini-itu, padahal is very simple business. Nah inilah yang harus kita rombak,” ujarnya.

Mengelola PLN diakui Eddy memang tidak mudah. Ia pun menyebutkan, mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa pelanggan PLN saat ini yang mencapai 45 juta dan merupakan pelanggan yang terbesar di dunia. “Pernah saya ikut seminar di luar negeri dan ketika tahu bahwa pelanggan kita sebanyak itu, mereka heran semua dan bilang how can you manage?” ujarnya menirukan keheranan masyarakat luar kepada PLN.

Eddy lantas menggambarkan bagaimana rumitnya mengelola SDM, di mana PLN dituntut untuk bisa melayani listrik-listrik menggunakan solar sistem yang ada di pulau-pulau terluar, seperti di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Eddy mengatakan, “Di mana semua ini harus kita siapkan kebutuhan SDM-nya. Tentu saja ini tidak gampang, tantangannya karena tidak banyak orang yang mau ditaruh di tempat yang terpencil. Sehingga kalau benar kita bisa mewujudkan program mengaliri listrik di 1.000 pulau hingga akhir tahun 2012, bisa jadi kita akan menjadi negara terbesar yang mengelola listrik dengan solar system.”

Eddy pun menegaskan masih banyak persoalan yang harus dikerjakan oleh insan PLN. Menjawab pertanyaan kami seberapa banyak pekerjaan rumah yang belum dirampungkan, setengah menarik nafas panjang, Eddy pun berujar lirih, ”you cannot count.” Karena itulah menurutnya, insan PLN harus bekerja 6 kali lebih keras, 6 kali lebih produktif, dan 6 kali lebih kreatif.

Topik perbincangan yang kami diskusikan makin menarik, ketika tiba-tiba sosok Nur Pamudji, yang tidak lain adalah Direktur Utama PLN yang baru, yang juga pengganti Dahlan Iskan, masuk ke ruangan dan bergabung bersama kami. Kami pun saling berjabat tangan saling memperkenalkan diri, dan tak lupa saling bertukar kartu nama. Diskusi bersama Eddy pun harus diakhiri karena ada rapat direksi yang harus diikuti. Eddy pun berjanji, jika ada waktu senggang, diskusi akan dilanjutkan. Baik Pak, kami akan datang lagi. (rudi@portalhr.com/@erkoes)

Tags: ,