Budy Purnawanto: HR Kuncinya Logic, Soft Competence dan Passion

PELAN namun pasti, ia menapaki karir di bidang human resource (HR) dari seorang management trainee. Passion-lah yang bisa mengantarkannya ke jenjang karir tertinggi, setelah konsisten dengan pilihannya lebih dari 18 tahun. Inilah sekelumit perjalanan Budy Purnawanto, Human Resources Director PT Tigaraksa Satria Tbk (TRS)

Kepada PortalHR, dalam sebuah perbincangan santai sambil makan siang, Budy mengisahkan kilas balik perjananan karirnya. Ia pun bertutur kalau awal karirnya dilewati dari jalur Management Trainee (MT) di PT Sari Husada (saat ini menjadi bagian dari Danone Group) pada tahun 1993. Pada saat itu perusahaan  dalam masa peralihan dari BUMN ke swasta sehingga banyak terjadi perubahan, termasuk perubahan dalam bidang pengelolaan SDM.

“Saat sebagai MT menjalani rotasi di fungsi SDM, saya diminta oleh HR Manager untuk ikut membantu Konsultan SDM dalam project transformasi bidang SDM. Dari semula hanya sekadar bantu-bantu hingga lalu diberi peran yang lebih menentukan. Bahkan akhirnya saya diminta untuk memilih apakah akan melanjutkan program MT atau diangkat menjadi asisten manajer bidang remunerasi. Saya memilih yang terakhir, dan terdamparlah saya di bidang SDM ini hingga sekarang,” ujarnya sambil tersenyum.

Budy meraih gelar sarjana bidang Agribisnis dari IPB dan gelar Master of HRM dari Griffith University Australia. Tahun 2011 ia berhasil mendapatkan sertifikasi di bidang Strategic Human Resources (CSHRP) dari School of Industrial & Labor Relation Cornell University, USA.

“Menurut pendapat saya, bidang SDM  – seperti halnya bidang sales, logistik, marketing, keuangan – merupakan bidang terapan dan bukan pure science. Sepanjang memiliki logic dan softcompetence yang bagus serta passion yang kuat, siapapun dan dengan background apapun bisa berkarier dan sukses di bidang-bidang tersebut. Keahlian lebih banyak diperoleh dari lapangan dan makin banyak jam terbang atau case maka seseorang itu akan semakin mumpuni,” katanya.

Menjawab apa motivasi terbesarnya dalam berkarir di jalur HR, Budy mengaku, “Motivasi saya adalah melakukan segala sesuatu dengan cara yang baik dan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Ini tidak hanya dalam urusan bekerja atau berkarir di bidang SDM, namun dalam segala aktivitas yang saya lakoni. Saat ini, motivasi terbesar saya adalah menyelesaikan term ke-3 dalam masa jabatan saya sebagai BOD dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Untuk itulah, ia tak segan berbagi sumbangsih pemikiran atau gagasan tentang implementasi HR di tempatnya bekerja. Yang pertama adalah bagaimana perusahaan mampu secara terus menerus mencetak praktisi SDM yang kompeten.

“Berikutnya adalah bagaimana mengembangkan dan mengeksekusi HR system yang bermutu dan terintegrasi,” imbuhnya sambil menyebut terkait dengan hal ini, penghargaan yang pernah diraih TRS adalah: 2nd Winner dalam kategori Training & Development HR Excellence Award 2010, 3rd Winner dalam kategori Talent Acquisition HR Excellence Award 2012, 3rd Winner dalam kategori Talent Development HR Excellence Award 2012, Winner MAKE study 2011, dan Winner dalam kategori Strategy Control SPEx2 Award 2011.

Budy menambahkan, yang terakhir, adalah bagaimana menghasilkan sebanyak-banyaknya SDM yang mampu mencapai target kerjanya dan menciptakan iklim kerja yang mendukung hal tersebut. “Ini dibuktikan dengan HR readiness index yang terus meningkat dan tumbuhnya bisnis TRS secara konsisten,” katanya.

Sumbangsih pemikiran Budy pun sudah didokumentasikan dalam sebuah buku yang berjudul “Manajemen SDM Berbasis Proses: Pola Pikir Baru Mengelola SDM pada Era Knowledge Economy” yang diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia di bulan September 2010. “Ini merupakan sumbangsih saya bagi perkembangan pemikiran SDM di Indonesia. Pada saat ini buku tersebut sudah di-sold out, dan rencananya baru tahun 2014 saya akan mengeluarkan buku baru lagi sebagai lanjutannya,” tuturnya memberi sedikit bocoran.

Budy mengaku banyak hal telah terjadi sepanjang karirnya di bidang SDM dan semuanya memiliki kesan tersendiri. Sulit baginya untuk mengatakan yang mana yang paling berkesan. “Namun, saya bisa berikan satu contoh yang cukup berkesan. Saat ditunjuk menjadi BOD, saya bertekad agar semua manager TRS bisa memiliki paspor dan pernah keluar negeri. Faktanya, sejak 6 tahun lalu seluruh manager tiap tahun bisa pergi ke luar negeri bersama-sama. Bahkan di pertengahan Mei lalu seluruh manager diberangkatkan ke Istanbul Turki, sebagai apresiasi atas prestasi kerja tahun 2011,” katanya dengan suara tegas.

Atas pertanyaan apa tantangan terbesar buat praktisi HR pada saat ini, menurut Budy adalah bagaimana membuktikan kepada CEO atau owner bahwa SDM atau seluruh karyawan memberikan kontribusi bagi sukses organisasi. Jika top line dan bottom line naik, praktisi HR harus bisa membuktikan bahwa ada pengaruh dari unsur SDM di sana.

“Kegagalan membuktikan hal ini akan menyebabkan munculnya persepsi dari CEO atau owner bahwa sukses organisasi ditentukan oleh faktor-faktor di luar SDM seperti program marketing, product yang berkualitas, atau network yang luas. Lebih celaka lagi jika muncul pendapat bahwa sukses organisasi adalah karena faktor hoki, luck atau keberuntungan,” tukasnya. (*/@erkoes)

Tags: , , ,