Babak Ketiga Karier Farina Pane

Di tengah krisis global yang masih melanda dan dikeluhkan banyak perusahaan, serta mempengaruhi jalannya proses rekrutmen, Farina Pane justru meluncurkan perusahaan barunya yang bergerak di bidang executive search.
“Krisis global memang berdampak negatif bagi banyak perusahaan, produksi turun, karyawan dikurangi, pinjaman sulit, dan akhirnya pabrik banyak yang tutup. Tapi, setiap tantangan itu selalu ada penyeimbangannya, justru ada perusaahaan yang tumbuh di masa krisis. Non Goverment Organization misalnya, tumbuh berkembang karena makin dibutuhkan untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas hidupnya dalam berbagai aspek, dari kesetaraan gender sampai pelestarian hutan.”
Farina Pane duduk sebuah ruang meeting di Lantai 5 Hotel Mulia, Jakarta membicarakan bisnis barunya sesaat sebelum resepsi kecil peluncuran SRI Indonesia, perusahaan Science Recruitment Internasional tempat Farina menjadi Managing Director-nya.
“Ini perusahaan lokal, tapi bagian dari network global yang berpusat di Dublin. Kita perusahaan rekrutmen yang fokus pada empat industri yakni non profit organization, life science seperti farmasi dan riset, universitas dan membantu pemerintah untuk merekrut tenaga spesifik yang sulit didapat,” terang dia.
Farina melihat adanya kebutuhan yang meningkat akan tenaga-tenaga berkeahlian di bidang-bidang yang spesifik yang jumlahnya sangat jarang itu di Tanah Air. Dicontohkan, pencemaran lingkungan oleh limbah dari produksi minyak dan gas melahirkan kebutuhan akan ahli oceanologi yang dulu belum terpikirkan. “Sekarang itu dicari dan tidak gampang menemukannya,” ujar dia seraya menyebut contoh lain seperti ekonom padi dan tenaga peneliti untuk konservasi hutan.
Memimpin perusahaan headhunter yang bergerak di ceruk yang sangat spesifik akan menjadi babak baru, babak ketiga, dalam rangkaian episode perjalanan karier Farina.
“Karier saya 22 tahun bisa dibagi dalam dua babak, 11 tahun pertama dosen, 11 tahun kedua di multinational company, tepatnya di accounting firm Ernst&Young,” kenang dia.
Minat Farina pada HR tumbuh dari area rekrutmen yang dilibatinya sejak mengajar di STIE YKPN Yogyakarta. “Waktu jadi dosen, saya juga punya tanggung jawab fungsional sebagai vice director academic affair, yang tugasnya antara lain merekrut dosen-dosen, dan membuat saya berpikir bahwa ternyata saya memang senang dengan aspek-aspek manusia,” ujar dia.
Pada 1998, Farina dilamar Ernst&Young untuk jabatan Senior Manager Learning&Development. Tujuh tahun kemudian, Farina berhasil menduduki posisi puncak di departemen HR perusahaan yang sama. Karier di Ernst&Young berakhir setelah Farina sempat ditugaskan untuk menduduki kursi People Director untuk kawasan Far East Area (Asia-Pasifik) yang berkantor di Kuala Lumpur, membawahi 10 negara.
“Di situ saya dapat kesempatan untuk memahami kebudayaan sesama orang-orang Asia dan sekaligus memiliki kontak dengan global. Lalu, sekarang mungkin babak ketiga karier saya, dan saya mulai merasa lebih baik untuk merintis usaha yang mulai dari kecil. Mungkin ini tantangan yang saya butuhkan di bagian ketiga dari karier saya. Ada faktor invisible hand juga saya kira, ya saya masih percaya itu,” papar dia.
Apa yang dimaksud dan diyakini Farina sebagai “invisible hand” sebenarnya sesuatu yang bisa dirunut dan dijelaskan secara rasional, yang berakar pada satu kata, “networking”.
“Saya resign dari E&Y dan ada temen yang merekomendasikan bahwa pemerintah Papua sedang mencari direktur untuk perusahaan yang akan didirikan. Lalu, ada teman lain lagi yang menghubungkan saya ke SRI, lalu dari situ disarankan, kenapa nggak buka saja di Indonesia,” ungkap dia. “Jadi sekali lagi teman, networking sangat penting,” tambah dia menggarisbawahi.
***
Lahir di Jakarta, 4 Juli 1963, sarjana akuntansi lulusan UGM pada 1986 ini sangat menjunjung tinggi keseimbangan dalam hidup. Ibu dua anak ini menggemari travelling dan aerobik untuk membangun kekuatan fisik, dan menghias rumah serta membaca untuk memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat spiritual. “Saya juga suka mengundang teman ke rumah untuk makan bersama, saya sendiri yang masak,” ujar peraih gelar MBA dalam bidang Keuangan dari Cleceland State University, Ohio AS itu.
Mungkin karena lama menetap di Yogya yang merupaka pusat kebudayaan Jawa, gerak-gerik dan tutur kata Farina terkesan lembut. Dia bicara dengan intonasi suara yang lirih dan santun.
“Saya menikmati setiap detik yang saya miliki, setiap situasi yang saya alami dan mencari berkah dan hikmah dari setiap kejadian,” kata dia seraya memberikan satu tips penting bagi sukses dalam karier, yakni berdamai dengan diri sendiri. “Pahami dulu diri kita, agar bisa menyeimbangkan antara jadi diri dan mengikuti tuntutan profesional,” tutur dia, lagi-lagi menyebut tentang keseimbangan. Jabarannya: dalam bekerja orang dituntut untuk menampilkan citra diri tertentu, namun jangan sampai hal itu menghilangkan identitas sebagai individu yang unik.
Ketika sampai pada bagian ketika harus mengungkapkan impian dan harapannya untuk masa mendatang, Farina dengan rendah hati langsung menyahut, “Mungkin kedengarannya klise dan muluk-muluk,” kata dia. “Saya ingin mendapatkan momentum untuk berkontribusi mengembangkan eksekutif Indonesia agar lebih setara lagi.”
Farina termasuk sedikit orang yang yakin bahwa kualitas eksekutif Indonesia saat ini sudah “sangat sangat setara” dengan eksekutif dari negara-negara lainnya. Dia mencontohkan dirinya sendiri yang dipercaya untuk menjadi direktur regional yang berkedudukan di Malaysia. “Mereka itu ketat lho, akan mempertanyakan apakah tidak ada orang Malaysia yang bisa mengisi jabatan itu? Fakta bahwa banyak orang Indonesia yang menduduki jabatan direktur di negara lain, itu artinya kita sudah setara,” tutur dia.
“Barangkali hanya presentasinya saja yang masih kecil, perlu diperbanyak lagi. Mudah-mudahan dengan saya nyemplung di dunia HR, saya bisa memberi kontribusi lebih dalam mengembangkan SDM Indonesia agar kesetaraannya di tingkat internasional lebih tinggi lagi. Melalui apa? Pelatihan dan penempatan,” harap Farina.