Agustin B Prabowo: Senang Membantu Perjalanan Karir Seseorang

Banyak kisah menarik, ketika seseorang mengawali pekerjaan di bidang human resource (HR) dan akhirnya menjadi karir yang ditekuni hingga saat ini. Hal inilah yang juga dialami oleh Agustin Birawati Prabowo, HCD Manager PT Pasifik Satelit Nusantara. Seperti apa perjalanan karirnya?

PERTAMA KALI bersentuhan dengan dunia HR, menghampiri perjalanan Agustin di saat ia dinyatakan lulus sidang Sarjana Psikologi Universitas Padjadjaran, 1989 silam. “Persisnya sih secara kebetulan karena niat awalnya hanya ingin membantu teman yang sedang membutuhkan tenaga di bagian rekrutmen. Sekalian untuk mengisi kekosongan setelah lulus sidang dan juga untuk mencari pengalaman,” begitu Agustin mengisahkan kepada PortalHR, beberapa waktu lalu.

Ia pun lantas menuturkan, awalnya ia ragu apakah bisa memainkan peran yang sudah diberikan. “Saya sempat sampaikan, kalau saya baru selesai sidang dan dinyatakan lulus, sehingga ijazah pun belum saya miliki. Teman satu angkatan saya dan salah satu dosen yang menjadi konsultan di perusahaan tersebut, menyatakan tidak masalah, karena mereka cukup mengenal saya. Akhirnya setelah saya ketemu mereka, saya langsung diminta bergabung dan akhirnya berlanjut sampai sekarang, terjun di dunia HR,” katanya sambil tersenyum.

Pekerjaan Agustin, dimulai dari hanya membuka berkas lamaran yang masuk di perusahaan tersebut dan melaksanakan test Psikologi. Hari-hari yang ia lalui di kantor tersebut hanya menyeleksi berkas lamaran yang masuk dan melakukan test psikologi, interview dan menempatkan karyawan sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.

Meski Agustin mengenyam pendidikan Psikologi, ia mengaku sebenarnya kurang pas. “Karena jurusan yang saya ambil adalah Psikologi Perkembangan di Universitas Padjadjaran, yang lebih banyak berkecimpung di dunia anak dan remaja. Saya memang berniat untuk terjun di lembaga psikologi dan menjadi psikolog yang akan banyak membantu anak dan remaja pada umumnya dalam menyongsong masa depan mereka. Saya berharap bisa menjadi bagian dari orang yang berperan dalam perjalanan karir mereka,” imbuhnya.

Ternyata apa yang diharapkan tidak selalu sejalan dengan apa yang dialami. Demikian pula dalam kehidupan Agustin di dunia HR. “Pengalaman pertama saya pada saat membantu teman di bidang rekrutmen ini, ternyata menjadikan saya menyukai bidang ini dan bisa merasakan bahwa saya ternyata mampu dan bisa menjadi seorang yang cukup berarti bagi orang lain,” ujarnya.

Agustin merasakan kepuasan tersendiri karena ia bisa menjadi salah satu bagian dari perjalananan seseorang dalam meniti karir mereka. Ia berkata, “Dan ini sejalan dengan mimpi saya sebelumnya yang ingin saya raih apabila saya bisa terjun di dunia anak dan remaja. Beruntung sekali UNPAD telah memberikan  bekal, ilmu-ilmu psikologi yang sangat mendasar kepada saya sehingga saya tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti pada saat saya harus terjun di dunia industri dan menjadi salah satu tim di Human Resources Department, dan sampai saat ini tidak terasa sudah hampir 22 tahun.”

Menjawab motivasi terbesar Agustin berkarir di jalur HR, ia pun menyebutkan berkaitan dengan tiga hal pokok. Pertama, membuktikan bahwa HR adalah dunia yang sangat menantang. “Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita bisa menaklukkan egoisme, meredam amarah yang ada dan menjadi jembatan yang mengantar harapan dan keinginan karyawan dan keterbatasan aturan yang ada yang harus juga diputuskan oleh manajemen,” katanya lagi.

Hal kedua, adalah membuktikan bahwa HR adalah tempat di mana kita bisa berbenah diri. Karena menurutnya, dengan terjun di dunia HR, praktisi HR bisa lebih banyak melakukan introspeksi, berdialog dengan diri sendiri, bercermin dan beramal sesuai dengan batas-batas yang ada. Dan hal ketiga, menjadikan insan HR sebagai seorang yang bisa berarti, dipercaya untuk bisa berbagi dan membantu karyawan mengatasi masalah-masalah yang ada.

Ditanya mengenai sumbangsih pemikiran atau gagasan tentang implementasi HR di tempatnya bekerja, Agustin menyebutkan beberapa ide, diantaranya, mempunyai banyak kandidat yang sudah lolos psikotest dan siap diproses ke user, dimilikinya talent pool, sehingga divisi HR tidak akan mengalami kesulitan pada saat akan mencari kandidat untuk mengisi kekosongan posisi yang dibutuhkan, menjalankan semua program HR, khususnya di bidang people development, dan mempunyai program berkaitan dengan jenjang karir yang jelas, baik di jalur struktural maupun jalur spesialis.

“Hal ini penting, karena pasti akan sangat membantu management untuk mendapatkan karyawan-karyawan yang terbaik, berkualitas, dan memiliki kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan di segala bidang.  Dengan tim terbaik ini, tentu akan membawa perusahaan mencapai revenue terbaik setiap tahunnya,” katanya menjelaskan tentang ide gagasannya tersebut.

Ia pun menambahkan, di tempatnya beberapa langkah strategis sudah mulai dilakukan, hanya saja masih bertahap. “Misalnya untuk mendapatkan kandidat terbaik, kami telah menjalin kerjasama dengan beberapa kampus atau Perguruan Tinggi dan rutin melakukan test psikologi. Sedangkan untuk mendapatkan talent pool, kami telah menyiapkan list kompetensi yang dibutuhkan, membuat job analisis, dan melaksanakan assessment,” ujarnya.

Mengenai apa tantangan HR saat ini, Agustin punya pandangan menarik. Yang paling menonjol menurutnya adalah mencari kandidat yang sesuai dengan requirement yang dibutuhkan oleh perusahaan. “Tidak gampang memang, dan ini ternyata menjadi masalah serupa yang juga dialami oleh rekan-rekan sesama HR. Begitu banyak posisi yang kosong dan begitu banyak sarjana yang baru lulus, akan tetapi sangat sulit mendapatkan yang cocok dengan persyaratan yang kita butuhkan,” tambahnya.

Beberapa hal yang sering dialami tersebut, lanjut Agustin, adalah kurangnya kandidat yang cocok dengan kualifikasi yang dibutuhkan, seringnya tidak hadir pada saat dipanggil psikotest tanpa pemberitahuan, tidak banyak yang bisa lulus tahap awal test psikologi (walaupun IPK mereka cukup tinggi), dan tidak banyak yang lulus test tertulis dari user dan gagal interview dengan HRD.

Hal lainnya yang menjadi tantangan adalah bagaimana mendapatkan orang atau karyawan di internal yang sudah “siap” sesuai dengan kebutuhan yang ada. “Ditambah dengan mendapatkan kepercayaan bahwa itu semua akan sangat mungkin dicapai apabila ada kerjasama yang baik dari semua pihak atau tim yang ada untuk penentuan standard-standard yang dibutuhkan,” katanya.

Dalam perjalanan karirnya yang sudah berpuluh-puluh tahun, Agustin memiliki catatan ringan tentang hal paling berkesan mengenai ‘managing people’, di antaranya, ia bersama tim bisa memperjuangkan untuk memberikan apa yang diharapkan karyawan dan tidak terlalu mengganggu perusahaan. Juga ketika mendapatkan kepercayaan dari karyawan pada saat mereka menghadapi masalah, dan ia dipercaya untuk membantu mencarikan jalan keluarnya. Kemudian, meyakinkan karyawan untuk dapat memahami peraturan dan policy yang harus diputuskan oleh management.

“Serta, memberikan pengertian dan mengajak orang lain, khususnya para manager untuk memahami konsep yang ada. Juga untuk memberi pengertian kepada para manager agar bisa berdiri di dua kaki, yaitu satu karyawan dan satu management. Seorang manager seharusnya bisa berdiri dan bersikap lebih bijak untuk menyeimbangkan antara memberikan support ke tim yang berada di bawah supervisinya dan menjadi kepanjangan tangan dari management,” begitu ia berkomentar.

Pengalaman yang tidak pernah terlupakan dalam hidup Agustin selaku HR Manager adalah pernah suatu malam, sekitar jam 22.30 wib, handphone-nya berdering. Dan memang selama ia menjadi tim HR, ia mengaku HP-nya selalu aktif untuk menjaga kalau ada karyawan yang membutuhkan bantuan. “Begitu saya angkat, ternyata dari salah satu karyawan yang sedang menghadapi masalah. Karyawan ini menangis sambil bercerita mengenai permasalahan yang sedang dihadapi. Ia mengatakan bahwa dirinya harus bercerita ke saya dulu, sebelum dia bercerita ke temannya. Rupanya, yang ia ingat pertama kali adalah harus menghubungi saya dan menceritakan masalahnya,” kata Agustin.

Hal-hal yang kelihatan sepele inilah yang justru membuat Agustin terkesan. “Pada saat karyawan begitu percaya pada sosok seorang HR, dia bisa secara terbuka berbagi cerita dengan bebas. Mereka percaya bahwa HR bisa menjadi teman dan bisa menjadi tempat berbagi cerita sampai ke masalah pribadi. Kadang kala kita sebagai HR, hanya cukup menjadi pendengar yang baik,” tukasnya. (*/@erkoes)

Tags: ,