Teknologi Informasi Mencengkeram Dunia

Pengalaman Satria menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi solusi dalam masalah sehari-hari. Teknologi bagi kalangan tertentu sudah menjadi kebutuhan primer. Coba saja amati, saat ini telepon selular bukan lagi barang mewah. Siapapun bisa memiliki telepon selular karena harganya makin terjangkau. Setiap orang kini membutuhkan alat komunikasi yang satu ini mengingat mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.

Kebutuhan manusia akan informasi semakin menggila dan informasi akhirnya bersinergi dengan teknologi. Walhasil, teknologi informasi semakin berkembang pesat dalam hitungan detik. Gadget-gadget canggih berbasis teknologi informasi (TI) bermunculan mengusung kelebihannya masing-masing. Mulai dari kebutuhan pribadi, rumah tangga, organisasi, pendidikan, ekonomi, agrikultur, kelautan dan seluruh bidang kehidupan manusia. Dipastikan, setiap individu membutuhkan teknologi untuk kepentingan pribadinya, salah satunya, pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) karena saat ini mengetik data pada KTP minimal menggunakan komputer.

Mengembangkan diri lewat internet? Juga, tidak mustahil. Sudah banyak yang membuktikan bahwa internet adalah alat canggih untuk menembus batas ruang dan waktu. Orang bisa sukses melalui internet. Perusahaan pun mengandalkan internet untuk kelancaran aktivitas hariannya. Blogger tidak sungkan-sungkan mengekspresikan
dirinya dengan berbagai cara. Fasilitas chatting kini menjelma menjadi alternatif komunikasi murah meriah lintas samudera, negara, dan waktu. Internet ibaratnya toko serba ada. Mau cari apa pun ada, atau lebih ekstrim lagi, mau cari surga atau neraka pun ada.

Informasi di dunia maya sudah tidak terkendali lagi. Melimpah ruah, ibarat air yang luber dari gelasnya. Dan, perusahaan-perusahaan berbasis TI pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang ditawarkan oleh industri ini. Para pemain di industri ini beranggapan, teknologi bisa menjadi bagian dari solusi masalah umum.

Ambil contoh masalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Irfan Setiaputra, Managing Director Cisco Indonesia, seperti dikutip dari websitenya, www.irfansetiaputra.com, secara proaktif mengajak komunitasnya untuk berhemat dengan cara mengurangi perjalanan dan memanfaatkan teknologi dengan mengefektifkan infrastruktur komunikasi untuk belajar, bermain, dan menikmati hidup.

“Ini sudah saya dan teman-teman lakukan di Cisco. Kami memilih untuk melakukan pertemuan jarak jauh lewat internet. Coba hitung waktu yang terbuang untuk perjalanan, dan BBM yang dihabiskan kendaraan untuk mencapai tempat pertemuan tersebut. Apalagi jika kemudian kita harus kembali ke kantor dan melewati jalan yang sama, dengan kemacetan yang sama,” tulis Irfan dalam website-nya.

“Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa mengaplikasikan hal ini. Jika biasanya kita selalu ke ATM untuk melakukan transaksi-transaksi non-tunai, mengapa tidak memilih internet banking, phone banking atau mobile banking? Banyak aktivitas yang bisa kita lakukan secara online, tanpa mengorbankan esensi aktivitas itu sendiri,” tulisnya lebih lanjut.

Sebagaimana diketahui, hingga sekarang Indonesia belum beranjak dari statusnya sebagai negara berkembang. Namun demikian, soal kebutuhan teknologi, lain lagi ceritanya. Di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, perkembangan TI justru meningkat pesat setiap harinya.

Menurut Andreas Diantoro, CEO Dell Asia Pacific, kebutuhan produk teknologi di pasar negara berkembang pada dasarnya sama dengan di negara maju. “Apa yang dibutuhkan negara berkembang? Modelnya umum-umum saja, internet dan WIFI itu harus,” katanya. Yang penting, lanjutnya, mengembangkan produk teknologi di negara berkembang menganut prinsip murah, baik dan banyak.

Perusahaan yang ingin meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan di kantor, tidak sedikit yang mau berinvestasi TI secara tidak tanggung-tanggung. Contohnya, PT Stilmetindo Prima. Perusahaan yang bergerak dalam penjualan baja paduan spesial (Special Alloy steel) Hitachi Metals, Ltd. ini menyadari pentingnya penerapan TI di dalam proses produksinya. Karena itu, pada 2008 Stilmetindo menerapkan beberapa aplikasi TI untuk memperoleh hasil optimal. “Kami menerapkan beberapa aplikasi teknologi informasi, yaitu sistem Trady, sistem Marchie (penerimaan barang), sistem Remote CCTV (Security Camera), sistem Virtual Private Network, dan website,” ungkap Agus Mulyadi Hasanudin, HT Division PT Stilmetindo Prima yang dihubungi lewat surat elektronik. Menurut Agus, aplikasi TI sangat menguntungkan dan dibutuhkan oleh perusahaan maupun karyawan.

Lalu, apakah teknologi hanya dibutuhkan oleh masyarakat mapan saja? Menurut Bill Thompson, Technology Consultant dalam artikelnya Why the Poor Need Technology di website BBC News pada 6 Oktober 2002 lalu, teknologi adalah alat belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin. Alat untuk belajar, begitu Bill menyebut internet dalam tulisannya. Bill mencontohkan, seorang ibu yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya bisa mencari informasi mengenai penyakit anak-anak lewat internet.

Selain itu, anak-anak dapat belajar tentang sejarah dan peristiwa dunia lewat internet di sekolahnya masing-masing. Bill menjelaskan bahwa internet menjadi alat belajar di kala sumber bacaan cetak berharga mahal atau tidak lancarnya distribusi buku. Sesuai data yang ia tampilkan, benua Asia Pasific pada tahun 2002 menduduki peringkat ke tiga jumlah orang yang online setelah Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Kanada. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan teknologi berbasis internet di negara berkembang cukup besar.

Bagaimana dengan Nusantara? Mulia Dewi Karnadi, Managing Director Imaging Printing Group Hewlett-Packard Indonesia menceritakan pengalamannya mengunjungi daerah-daerah di Indonesia yang menggambarkan kebutuhan TI yang semakin besar. “Kita memang harus berterima kasih kepada internet,” kata Dewi memuji. “Dengan adanya internet, informasi dengan cepat dan mudah dapat terdistribusi ke seluruh daerah di Indonesia. Menurut saya, orang daerah itu memerlukan internet, tapi sayangnya sekarang belum terpenetrasi dengan baik,” katanya dengan nada prihatin.

Menurut Dewi, jika mengacu kepada AS yang memiliki 22 negara bagian dan hampir semuanya masuk kategori ‘jadi’, mungkin hanya 10%-nya yang minor. “Saat ini kontribusi daerah-daerah di Indonesia tidak sebesar di pulau Jawa. Tapi mereka punya potensi besar di masa datang,” ungkap Dewi memprediksi. “Saya bayangkan, suatu hari semua daerah di Indonesia seperti AS yang di setiap negara bagiannya terkoneksi internet dengan baik. Untuk maju, mau tidak mau TI harus ambil bagian,” katanya menandaskan.

 

Teknologi, apapun bentuknya, aplikasi maupun kecanggihannya sudah merasuk ke dalam kehidupan warga dunia. Satelit-satelit yang melayang-layang di luar angkasa juga bagian penting dari TI, yang setiap hari semakin disadari sebagai alat bantu dalam berkreasi dan berproduktivitas. Jadi, memang tidak ada yang bisa lepas dari cengkeramannya.