Bijak Menyikapi Facebook di Kantor

Facebook dan BlackBerry kini menjadi idola di mana-mana. Kalau tidak dua-duanya, minimal satu dari dua tools tersebut menjadi pegangan generasi muda dan kalangan pebisnis saat ini. Demam FB dan BB pun seperti tidak bisa dibendung lagi.

Sesuatu yang baru selalu membuat penasaran dan mengundang perhatian. Demikian juga kehadiran Facebook (FB) dan BlackBerry (BB) di Tanah Air telah menghadirkan sensasi yang luar biasa. Mulai dari anak-anak yang memang mudah gandrung dengan gadget terbaru, mahasiswa yang sudah internet minded, ibu-ibu rumah tangga yang familiar dengan dunia online, pekerja kantoran, pebisnis, selebriti dan tak lupa para politisi pun sekarang larut dalam gelombang ‘demam’ FB dan BB.

Menyikapi penggunaan FB di lingkungan kantor, Majalah Human Capital (HC) tergerak mengadakan jajak pendapat kepada para praktisi HR untuk mengetahui pandangan dan kebijakan di kantornya masing-masing. Dari jawaban yang masuk, terlihat bahwa mayoritas responden mengenal FB dengan baik. Namun, menjawab pertanyaan selanjutnya, apakah akses FB diperbolehkan atau tidak di kantor, responden terpecah menjadi dua kelompok.

Bisa disimpulkan, sebagian perusahaan membolehkah akses FB di kantor saat jam kerja, dan sebagian lainnya dengan tegas melarang penggunaan FB saat jam kerja. Ada pula yang membolehkan akses FB namun dengan catatan khusus, yakni hanya pada saat jam istirahat atau usai jam kantor. Di luar itu, beberapa perusahaan mengizinkan asal dengan gadget pribadi, semisal BB, ponsel, atau smartphone.

Beberapa pendapat yang membolehkan akses FB di kantor – misalnya – lantaran mereka melihat FB sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan cepat. “Apalagi kantor regional juga sudah menggunakan alat ini sebagai spreading tool untuk informasi cepat. Jadi, asal tidak menambahkan info yang bersifat rahasia atau membahayakan kepentingan profesionalisme atau pribadi, Facebook tidak masalah,” kata salah satu sumber yang keberatan disebut identitasnya.

Dr. Ridwan Zachrie, Direktur HR Recapital Group termasuk yang membolehkan akses FB di kantor sepanjang tidak dilakukan pada jam kerja. “Boleh dilakukan pada saat break makan siang dan setelah jam kantor selesai. Bagi kami dari sisi pekerjaan, Facebook mempunyai sisi positif, misalnya apabila dimanfaatkan untuk menjalin atau memperluas network,” katanya memberi alasan

Ridwan mengingatkan, sebaiknya perusahaan tidak bersikap resisten terhadap Facebook. “Sikapi dengan bijaksana bahwa yang namanya perkembangan dunia maya adalah sesuatu yang tidak mungkin kita cegah, sepanjang kita bisa mengambil nilainilai dan manfaat positif dari Facebook. Adapun untuk penggunaannya, saya pikir pada jam-jam kerja di kantor dapat saja diblokir,” tuturnya.

Senada dengan Ridwan, Aloysius K. Ro, Executive Director PT Danareksa (Persero) juga mengatakan, akses FB diperbolehkan di kantornya. “Tapi aksesnya pada saat jeda tertentu saja. Tidak ada yang harus dikuatirkan.

Yang penting para netters harus disosialisasikan prinsip-prinsip dasar dan etika internet yang apply dan tetap current sampai saat ini,” ia menyarankan.

Kelompok yang tidak membolehkan akses FB di kantor beralasan, perusahaan menilai FB dari sisi negatifnya semata. Pada umumnya mereka beranggapan, FB sangat sedikit manfaatnya bagi kelancaran pekerjaan kantor, sementara pengaruhnya pada fasilitas penunjang teknologi informasi (TI) cukup besar.

Sumber lain yang enggan disebut namanya mengungkapkan, ia tidak menampik bahwa sebagai salah satu produk yang memiliki kegunaan tertentu FB mempunyai banyak penggemar. “Tapi untuk karyawan, bisa menggunakannya di luar kantor setelah jam kerja,” ujarnya.

Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDI) termasuk perusahaan yang tidak mengizinkan karyawannya “ber- Facebook ria” di kantor. HR Employee Relations & Communication BDI Gatot Prihandoko mengemukakan, akses FB di kantornya tidak diperbolehkan. Ia menilai “bermain-main” dengan FB bukan bagian dari tugas kantor. “Fenomena Facebook harus kita tanggapi dengan wajar, sambil melihat sisi positifnya untuk meluaskan jejaring,” ujarnya. Akan tetapi, ia melanjutkan, apabila penggunaannya dirasa bertentangan dengan policy perusahaan, maka perusahaan mempunyai hak untuk memblokir akses tersebut.

Senada dengan Gatot, teman sekantornya, Maria T. Kurniawati, Head of Human Resources BDI, melihat larangan untuk mengakses FB lebih dari sisi efektivitas kerja. “Waktu bekerja kan sangat terbatas dan pekerjaan menuntut konsentrasi penuh,” ujarnya.

Maria menambahkan, perusahaan memberikan toleransi dengan tidak melarang akses FB jika karyawan memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan fasilitas pribadi yang mereka miliki, seperti BB maupun handphone. “Facebook boleh saja karena ini merupakan kemajuan positif dalam bidang teknologi informasi sepanjang aktivitas ini mampu memotivasi dan meningkatkan produktivitas individu yang menggunakannya,” tutur Maria.

Oktira Kirana, Manager Training & Talent Development TNT Express menjawab singkat bahwa FB di kantornya dilarang apabila dilakukan dengan menggunakan akses perusahaan. Alasannya, FB dinilai tidak berhubungan dengan profesionalitas atau pekerjaan di kantor.

Kendati demikian, Oktira tetap berpikiran positif tentang fenomena FB. Menurutnya, selama membawa manfaat dan berdampak positif, maka tidak ada salahnya menggunakan FB sebagai sarana networking atau berbagi dan mencari informasi. “Namun begitu harus tetap menganut adab sopan santun dalam memberikan komentar sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa gaul bolehboleh saja selama masih dalam batas kewajaran penggunaan dan penerimaannya secara umum,” tuturnya berpendapat.

Ibnu Agung Mulyanto, Vice President HR ABN AMRO Bank N.V. menambah daftar perusahaan yang tidak mengizinkan karyawannya mengakses FB di kantor. Ibnu berpendapat, fenomena social site merupakan tren interaksi baru people to people. Meski melarang karyawan mengakses FB, toh Ibnu tetap berpikiran moderat terhadap kehadiran jejaring sosial yang satu ini.

“Bahkan kini beberapa perusahaan mulai memanfaatkan situs ini sebagai sarana business to people. Perusahaan dapat memanfaatkan jejaring ini untuk hal positif dan ini dapat menjadi bentuk manifestasi dari knowledge management, asalkan security issue dalam hal kerahasiaan data perusahaan dan sensitivitas informasi dapat ditangani,” Ibnu menambahkan.

Blogger Yodhia Antariksa yang aktif menulis tentang strategi manajemen juga sealiran soal pembatasan akses FB di kantor. “Saya termasuk yang sangat setuju dengan pembatasan akses FB, dan juga sekalian akses internet pada jam kantor,” katanya saat dihubungi HC. Founder PT Manajemen Kinerja Utama, sebuah firma konsultan yang bergerak di bidang corporate performance management ini menyarankan, sebaiknya perlu ada kebijakan yang membatasi waktu akses internet dan FB. Misalnya, akses hanya dibuka pada jam 12 – 13 saja, atau setelah jam 17 WIB.

Kenapa Yodhia berkata lantang soal pembatasan FB? “Saya menilai aktivitas di Facebook bisa mengganggu jam kerja dan produktivitas karyawan. Saya sendiri melihat mayoritas konten Facebook masih berfokus pada perbincangan ringan atau mirip obrolan saja,” kata Yodhia berargumen.

Dengan pedas Yodhia menyebut kehadiran FB dan BB mendorong hancurnya peradaban membaca. Ia melihat kehadiran gadget semacam BB dan media seperti FB sebagai sebuah distraction. “Kehadiran medium digital semacam itu selalu memaksa kita untuk always-on dan always-connected, dan diam-diam itu artinya merampas waktu berharga kita untuk melakukan perenungan, kontemplasi, atau proses membaca buku yang membutuhkan kedalaman dan keheningan,” ujarnya menilai.

 

Dalam pandangannya, negara yang peradaban pengetahuannya lebih maju justru menjadikan buku (bacaan) sebagai penanda status sosial. “You are what you read,” katanya tegas. Yodhia melanjutkan, buku dan tradisi membaca yang kuat selalu menjadi elemen penting bagi hadirnya sebuah peradaban yang digdaya. “Di sini kredibilitas orang dilihat dari seberapa luas pengetahuan mereka, berapa banyak buku yang telah direngkuh, dan seberapa mendalam wawasan berpikir mereka. Jadi, bukan dari gadget yang ditentengnya,” tutur Yodhia menandaskan.

Tags: