Total Penghasilan Tunai di Berbagai Industri

Tahun 2005, diperkirakan pertumbuhan tertinggi dinikmati oleh posisi klerek (12,45%), disusul oleh manajemen (12,37%), staf / supervisor (12,37%), non-klerek (12,35%), dan manajemen puncak (11,39%). Secara keseluruhan, pertumbuhan gaji 2005 diperkirakan 12,23%.

Dari fakta 2004 dan prediksi 2005, tampaknya keadilan belum terlalu memihak karyawan level bawah. Kenaikan gaji karyawan klerek dan non-klerek bukan hanya tidak berbeda signifikan dengan posisi yang lebih tinggi, tetapi juga tidak selalu mencatat pertumbuhan tertinggi. Seharusnya, kenaikan gaji terbesar dilakukan oleh karyawan level bawah karena sejatinya gaji mereka relatif kecil. Padahal, mereka adalah orang pertama yang terkena dampak negatif dari kenaikan laju inflasi. Seperti telah disinggung sebelumnya, gaji mereka paling rentan digerogoti oleh laju inflasi.

Lilis Halim melihat faktor supply dan demand terhadap level manajemen puncak menjadi penyebab masih tingginya laju kenaikan gaji level-level tersebut. Terbatasnya ketersediaan tenaga manajemen dan manajemen puncak di Indonesia menyebabkan pasaran mereka masih tinggi sehingga harus diganjar dengan kenaikan gaji yang masih tinggi. Secara persentase kenaikan gaji karyawan level atas itu tidak berbeda jauh dengan karyawan level bawah, bisa dibayangkan betapa njomplangnya perbedaan kenaikan gaji antara level atas dengan level bawah dalam jumlah absolut (nilai rupiah).

Survey Watson Wyatt menunjukkan data median market penghasilan tunai dari posisi klerek per tahun di industri konsumer adalah Rp 40,140 juta, di bank asing Rp 84,268 juta, di bank lokal Rp 57,482 juta, di lembaga pembiayaan Rp 40,563 juta, dan di industri teknologi informasi (TI) Rp 49,099 juta. Total penghasilan tunai ini terdiri dari gaji pokok, dana tunai yang dijanjikan (THR, uang cuti, dan sejenisnya), tunjangan tetap, dan bonus variabel.

Untuk level staf (officer), median market total penghasilan tunai per tahun berkisar antara Rp 57,596 juta (industri pembiayaan) hingga Rp 119,054 juta (perbankan lokal). Di level manajemen, kisaran penghasilan tunai per tahun mulai dari Rp 176,479 juta (industri pembiayaan) hingga Rp 290,612 juta (perbankan asing). Selanjutnya, untuk level manajemen puncak, total penghasilan tunai per tahun di industri pembiayaan adalah Rp 307,087 juta, industri konsumer Rp 359,772 juta, industri TI Rp 456,685 juta, perbankan asing Rp 586,271 juta, dan perbankan lokal Rp 610,415 juta.

Sekali lagi, data penghasilan tunai ini adalah data median market sehingga sangat mungkin penghasilan tunai tersebut di atas maupun di bawah angka itu – kendati secara statistik jumlahnya sangat kecil. Sayangnya, survey tidak menjelaskan data tentang penghasilan tunai karyawan level bawah (non-klerek).

Kenyataan ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di negara-negara yang ekonominya sudah maju atau matang. Pertumbuhan gaji terbesar secara relatif dinikmati oleh karyawan level bawah, dan pertumbuhan terkecil dinikmati oleh level manajemen dan manajemen puncak.

Kapankah ketidakadilan ini berakhir?