Survei dan Tren Gaji 2005

Bakal naikkah gaji tahun ini selalu menjadi teka teki menarik di kalangan karyawan perusahaan ketika memasuki tahun baru. Bahkan di beberapa perusahaan, teka teki ini menjadi ajang “pertaruhan” kecil-kecilan. Ini dimungkinkan karena informasi kenaikan gaji biasanya disimpan rapih oleh bagian HR (Human Resources) maupun manajemen perusahaan.

Tak seorang pun, tentu, yang tidak menginginkan kenaikan gaji. Pada perusahaan menengah – besar, kenaikan gaji tahunan sudah menjadi semacam ritual tahunan yang paling ditunggu. Kendati berbagai survey tentang kepuasan bekerja tidak selalu menempatkan gaji sebagai faktor pemberi kepuasan terbesar dalam bekerja. “Faktor gaji itu penting, tetapi bukan yang paling penting. Sebab, berapapun gaji dinaikkan, tetap saja akan merasa kurang,” ungkap Budi Putranto, Manajer HR Mal Ciputra.

Survey kepuasan bekerja yang dilakukan bagian HR Mal Ciputra menunjukkan faktor kepercayaan terhadap atasan menempati posisi teratas, disusul oleh lingkungan kerja. Faktor gaji justru menempati urutan terakhir. Iwan H. Djalinus, Direktur HR PT. Caltex Pasific Indonesia, mengatakan hal serupa. “Kepuasan bekerja tidak melulu terkait dengan uang. Tetapi, lingkungan pekerjaan, tantangan pekerjaan, statement lingkungan maupun atasan, itu semua sangat mempengaruhi. ”

Toh, tak dapat dipungkiri, gaji menjadi magnet bagi setiap orang dalam melihat setiap pekerjaan maupun posisi, baik untuk tujuan rekrutmen (attraction) maupun retensi (retention). Di era human capital, di mana manusia adalah aset terpenting, maka orang-orang terbaik adalah aset yang harus dijaga, jangan sampai dia meninggalkan perusahaan; apalagi pindah kepada pesaing.

Sebuah survey yang dilakukan Watson Wyatt dengan nama Strategic Rewards 2000, program reward yang paling efektif untuk rekrutmen para bintang adalah dengan membayar di atas harga pasar (72%). Program reward lain adalah pemberian bonus (51%), insentif grup (47%), insentif proyek / kegiatan (40%), dan seterusnya. Sementara untuk tujuan retensi, memberikan gaji di atas harga pasar juga merupakan program reward paling efektif, disusul oleh tunjangan cuti dan sebagainya.

Merujuk pada angka-angka di atas, maka wajar bila perusahaan menengah – besar harus terus memantau “harga pasar” untuk melihat daya saing kompensasi dan benefit (renumerasi) perusahaan terhadap perusahaan pesaing. “Setiap tahun kami harus mengetahui posisi kami dibandingkan perusahaan sejenis di pasar. Apakah kami akan mengadakan perbaikan ke dalam (sistem renumerasi), tergantung dari hasil survey tersebut,” ujar Setya Rahadi, Direktur HR PT. Hewlett-Packard (HP) Indonesia.

Hasil survey Watson Wyatt terbaru tentang renumerasi di Indonesia memberikan gambaran menarik tentang tren renumerasi tahun 2005. Survey ini, seperti ditegaskan Presiden Direktur PT. Watson Wyatt Indonesia, Lilis Halim, CCP, GRP, memang lebih menggambarkan kondisi pada perusahaan menengah dan besar karena peserta survey memang hanya perusahaan menengah dan besar. “Karena merekalah yang telah memiliki sistem manajemen yang mapan dan lebih terbuka,” katanya.

Meskipun gambaran yang dihasilkan survey ini lebih fokus kepada perusahaan menengah – besar, namun hasil survey ini tetap bisa menjadi referensi dan benchmarking bagi perusahaan kecil. Misalnya menetapkan besaran gaji 50%-75% dari median hasil survey (sementara perusahaan menengah – besar biasanya memakai patokan median market). Paling tidak, bila menginginkan figur berkualitas tertentu dari pasar untuk membantu mengembangkan perusahaan, perusahaan kecil bisa memberikan penawaran yang kompetitif bagi si kandidat.

Secara keseluruhan, hasil survey gaji Watson Wyatt menunjukkan bahwa kenaikan gaji pada tahun 2004 di perusahaan Indonesia mencapai 11,48%. Angka ini menunjukkan tren penurunan sejak tahun 2000, yang pernah mencapai kenaikan tertinggi 17,50%. Tren penurunan pertumbuhan gaji ini sesuatu yang wajar karena laju inflasi di Indonesia yang bergerak turun pasca krisis ekonomi.

Indonesia adalah negara yang mencatat kenaikan gaji tertinggi kedua di Asia setelah India. Tahun 2004, pertumbuhan gaji India mencapai 12,00% dan Indonesia 11,48%. Bandingkan dengan negara-negara sangat maju macam Jepang yang hanya mencatat pertumbuhan gaji 2,40%, Australia 4,80%, atau Hongkong yang hanya 0,50%.

Tingginya laju kenaikan gaji di perusahaan Indonesia tidak selaras dengan pertumbuhan ekonomi (Gross Domestic Product / GDP) di mana pertumbuhan GDP Indonesia 2004 hanya 4,80%. Jauh tertinggal dari India (6,20%), Malaysia (6,30%), atau bahkan China (9,00%).

Gambaran kenaikan gaji 2005 diperkirakan tidak berbeda dengan kondisi 2004. Kenaikan gaji di Indonesia diperkirakan 12,23%, hanya kalah dari India yang 12,50%. Sedangkan kenaikan gaji di sejumlah negara maju, macam Jepang, Australia, Hongkong, dan Taiwan masing-masing hanya 3,00%, 4,00%,1,40%, dan 3,80%. Laju pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia 2005 hanya 5,00%, masih kalah dari India (6,00%), China (7,90%), Malaysia (5,60%), dan Thailand (6,70%).

Repotnya, laju inflasi Indonesia diramalkan masih yang paling tinggi di kawasan ini, yaitu 6,50%. Bandingkan dengan, misalnya, Jepang (0,00%), India (5,00%), Malaysia (1,70%), Hongkong (1,10%), Australia (2,70%), atau Taiwan (1,50%).

Menurut Lilis Halim, pertumbuhan gaji di Indonesia yang masih double digit (10% ke atas) lebih karena kebiasaan saja karena laju inflasi di Indonesia selama ini selalu mendekati angka 10%. Laju inflasi Indonesia 2004 memang turun menjadi 5,50% , tetapi tetap saja laju inflasi itu paling tinggi di negara-negara Asia yang disurvei. “Jadi walaupun sekarang , inflasi di Indonesia berusaha ditekan, tetap saja, karena kebiasaan menaikkan gaji selalu dilakukan,” paparnya.

Upaya keras Indonesia untuk menekan laju inflasi ke angka single digit semestinya direspons perusahaan di masa datang untuk menyesuaikan laju kenaikan gaji di angka single digit (bila tidak ada faktor force majeur macam kenaikan Bahan Bakar Minyak / BBM dan kebijakan sejenis lainnya). Dengan demikian, laju kenaikan gaji di Indonesia tidak lagi extremely high di kawasan ini. Lilis mengingatkan, penurunan laju kenaikan gaji itu tidak bisa dilakukan dengan cepat, dan harus bertahap.

Dalam keadaan normal, tren penurunan laju pertumbuhan gaji juga akan terjadi pada tahun 2005. Namun adanya rencana pemerintah menaikkan harga BBM membuat laju penurunan kenaikan gaji itu tertahan. Watson Wyatt memperkirakan, secara keseluruhan, gaji pada tahun 2005 bakal mencapai 12,23%. Angka ini memang bukan angka aktual, karena angka aktualnya tidak pernah bisa diketahui. “Biasanya, tidak jauh dari perkiraan hasil survey,” kata Lilis.

Di negara dengan ekonomi yang belum begitu maju macam Indonesia, faktor kebijakan pemerintah masih sangat mempengaruhi laju kenaikan gaji di perusahaan. Apa saja kebijakan yang mendorong laju inflasi otomatis berdampak pada kenaikan harga-harga ataupun biaya hidup. Rencana pemerintah untuk menaikkan harga premium secara signifikan 2005 jelas sebuah kenaikan yang tinggi dan berpengaruh besar terhadap harga-harga. Inflasi akan menggerogoti penghasilan karyawan.

Kenaikan BBM tersebut memang akan mengurangi nilai subsidi BBM yang mencapai Rp 70 triliun per tahun, tetapi belum menghilangkan subsidi itu sama sekali. Selama subsidi itu masih tetap ada, maka selama itu pula faktor eksternal – berupa kebijakan penyesuaian harga BBM oleh pemerintah – akan mempengaruhi laju kenaikan gaji perusahaan di Indonesia.

Sayang, Watson Wyatt berkeberatan mengungkapkan pertumbuhan gaji menurut industri karena asas confidentiality. Tahun 2003-2004, industri yang mencatat kenaikan gaji tertinggi adalah industri teknologi informasi dan telekomunikasi (14,95%), disusul oleh industri barang konsumer (13,96%), farmasi (13,07%), perbankan lokal (12,32%), dan industri lainnya. Tahun 2005 diperkirakan industri yang lagi naik daun adalah industri perbankan lokal, industri produk konsumer, industri telekomunikasi, dan industri perbankan asing.

Kenaikan gaji yang cukup signifikan pada perbankan lokal dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan selesainya proses restrukturisasi perbankan nasional. “Saatnya sekarang mereka maju, dan hal itu membutuhkan tenaga yang handal,” lanjut Lilis, sambil menambahkan, “Sekarang mereka mau merekrut tenaga baru sehingga butuh umpan yang besar. Kalau dulu katakanlah mereka menahan diri, sekarang mereka harus memperbaiki diri.”

Naiknya tawaran gaji oleh perbankan lokal otomatis mempengaruhi pula industri perbankan asing. Umpan lebih menarik dari bank lokal menyebabkan banyak bankir asing pindah ke bank nasional. Salah satunya Elwin Karyadi, mantan eksekutif ABN Amro, yang pindah ke Bank Niaga. Untuk mempertahankan eksekutif dan untuk mendapatkan eksekutif yang bagus dari pasar, tidak ada jalan lain bagi bank asing selain juga menaikkan paket renumerasi di bank mereka.

Industri barang konsumer – secara rata-rata – bertumbuh bagus di Indonesia karena populasi Indonesia yang sangat besar dan terus meningkat. Pertumbuhan ini mengimbas pada renumerasi mereka. Beberapa tahun terakhir, pertumbuhan gaji di industri ini relatif baik. Begitu pula industri telekomunikasi, khususnya industri selular, yang terus bertumbuh dengan baik. Ekspansi bisnis industri seluler dan masuknya investor asing dalam kepemilikan sejumlah operator seluler nasional membuahkan agresivitas di pasar.

Industri distribusi yang sempat naik daun 2002-2003 tahun ini diperkirakan tergolong biasa-biasa saja. Begitu pula industri teknologi informasi dan lainnya. Kenaikan gaji di industri-industri ini diramalkan tidak setinggi beberapa industri terdahulu.