Kiat Premier Merangkul Dokter Spesialis

Menemukan lokasi RS Premier Bintaro susah-susah gampang. Dari tiga kali bertanya kepada sekumpulan orang yang berkumpul di pinggir jalan di Kawasan Bintaro-Tangerang, tak satu pun yang mengetahuinya. Setelah HC menanyakan keberadaan RS Internasional Bintaro, pencarian pun tak lagi dirasa sulit. Ya, selidik punya selidik, RS Premier Bintaro tak lain dan tak bukan adalah ‘penjelmaan’ rumah sakit yang dahulu orang biasa menyebutnya RS Internasional Bintaro.

Ini makin jelas ketika Warno Hidayat, Group HR Manager PT Affinity Health Indonesia (Ramsay Health Care), memaparkannya kepada HC. Warno mengakui, perubahan nama baru ini belum diketahui oleh khalayak umum. Dijelaskannya, perubahan nama ini dilakukan dengan mengacu kepada surat yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia PP Nomor: 659/Menkes/PER/ VIII/2009, tertanggal 14 Agustus 2009 tentang Rumah Sakit Indonesia kelas dunia. “Inti dari surat tersebut tidak lagi diperbolehkan mencantumkan nama internasional di belakang nama rumah sakit,” tutur Warno.

Atas aturan yang diterbitkan oleh pemerintah, lanjut Warno, manajemen mengajukan perubahan nama yang akhirnya disahkan oleh Dirjen Bina Pelayanan Medik, Kemenkes RI, sehingga kini tiga rumah sakit di bawah Ramsay Health Care Group berganti nama dari RS Internasional Bintaro menjadi RS Premier Bintaro (No. YM. 02.10/III/4255/10), RS Internasional Surabaya menjadi RS Premier Surabaya (No. YM. 02.10/III/4256/10), RS Internasional Jatinegara menjadi RS Premier Jatinegara (No. YM. 02.10/ III/4257/10).

Sedikit kilas balik, Ramsay Health Care Group kini mengoperasikan tiga rumah sakit di Bintaro, Surabaya dan Jatinegara setelah melewati proses perjalanan panjang. Menurut Warno, cikal bakal perusahaan ini dimulai pada 1988, ketika Kalbe Group mendirikan RS Mitra Keluarga. Seiring perkembangan yang pesat, RS Mitra Keluarga berkembang di beberapa tempat, mulai dari Jatinegara, Bekasi, Kemayoran dan Surabaya. Pada 1997 terjadi joint venture antara Kalbe Group dengan Helth Care of Australia (HCOA) yang meliputi tiga rumah sakit, yakni RS Mitra Jatinegara, Bintaro, dan Surabaya. Joint venture tersebut ditandai dengan perubahan nama masing-masing menjadi RS Internasional Bintaro, RS Internasional Surabaya, dan RS Internasional Jatinegara.

“Ketika berubahubah kepemilikan, nama RS Internasional masih tetap melekat hingga akhirnya Agustus 2010 kami resmi berubah menjadi RS Premier. Meski di bawah payung Ramsay Health Care, secara badan hukum masih menggunakan Affinity Health Indonesia” (Warno)

Warno menambahkan, proses kepemilikan perusahaan mengalami perubahan beberapa kali. Tercatat, pada 2002 manajemen lama sempat diambil alih Mayne Health asal Australia yang dua tahun kemudian kembali beralih dan diakuisisi oleh Affinity Health yang waktu itu merupakan jaringan rumah sakit terbesar di negeri Kanguru. Pada 2006, Ramsay Health Care masuk dan ikut memperkuat manajemen.

Sebagai informasi, Ramsay Health Care saat ini merupakan pemain utama yang menguasai industri rumah sakit terbesar di Australia. “Ketika berubah-ubah kepemilikan, nama RS Internasional masih tetap melekat hingga akhirnya Agustus 2010 kami resmi berubah menjadi RS Premier. Meski di bawah payung Ramsay Health Care, secara badan hukum masih menggunakan Affinity Health Indonesia,” kata Warno merunutkan perjalanan dari RS Mitra Keluarga hingga menjadi RS Premier.

Warno menjelaskan, RS Premier memiliki falsafah People Caring for People. Di dalamnya terdapat empat elemen penting. Pertama, operasional perusahaan harus didasari untuk membuat bahagia karyawan terlebih dahulu. Langkah ini diharapkan bisa menciptakan pelayanan yang bagus kepada konsumen. Kedua, pelayanan yang baik kepada konsumen akan mendorong terciptanya kepuasan pelanggan. Ketiga, ketika kepuasan pelanggan sudah tercipta, dengan sendirinya akan mendatangkan keuntungan kepada perusahaan. “Dan keempat, keuntungan yang baik akan kembali lagi kepada pencapaian kesejahteraan karyawan,” tutur ayah empat anak ini, menjelaskan.

Salah satu penerapan dari semangat ‘memanusiakan manusia ini’, lanjut Warno, adalah menerapkan strategi kompensasi dan benefit (komben) yang tepat kepada karyawan. Di Ramsay Health Care, selain didukung oleh karyawan yang melekat kepada struktur organisasi, juga diperkuat oleh SDM dokter spesialis yang dianggap sebagai mitra kerja atau partner bisnis. “Dokter spesialis ini sifatnya inter-dependent,” ujar Warno sambil menambahkan, jumlah dokter spesialis di RS Premier Group berjumlah sekitar 100-an orang untuk setiap rumah sakit.

Warno mengungkapkan, strategi komben di RS Premier mengakomodasi empat hal. Pertama, pemberian komben harus sesuai dengan konsep adil secara internal. Maksudnya adalah, mengacu kepada prinsip 3-P (positioning, person, dan performance). Kedua, lanjut pria kelahiran Madiun, ini paket komben juga harus kompetitif secara ekternal. “Artinya, yang kami berikan harus bisa bersaing di industri yang sama. Untuk itulah tiap tiga tahun sekali kami mengikuti salary survey. Dan, yang tidak kalah penting, setiap tahun kami melakukan penyesuaian gaji,” tambahnya.

Ketiga, tutur Warno lagi, strategi komben harus sesuai dengan kemampuan perusahaan. Dan terakhir, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. “Dari kebijakan kompensasi dan benefit yang tepat diharapkan bisa mendorong tercapainya tujuan perusahaan yang diinginkan. Namun demikian, kebijakan ini hanya salah satu faktor dalam mencapai tekad manajemen untuk menjadikan the best employer. Yang lebih penting adalah perubahan culture,” ujar Insinyur lulusan Universitas Negeri Malang, ini.

Perubahan budaya yang dimaksudkan Warno mencakup empat hal. Pertama, mengintensifkan komunikasi sebagai perekat hubungan interaksi di antara para karyawan. Kedua, memberikan penghargaan atas prestasi sekecil apa pun serta memberikan alert system atas tindakan ketidakdisiplinan. Tugas ini melekat kepada setiap manajer karena mereka juga di tuntut sebagai Manajer HR. Dengan begitu, mereka diminta mengetahui detail pekerjaan serta menyinkronkan dengan tim kerjanya,” imbuh Warno.

Hal ketiga, lanjutnya, membudayakan “turba” alias turun ke bawah untuk level eksekutif. “Di samping bisa mengakrabkan diri dengan karyawan, turba bisa membantu mencari insight yang sedang terjadi di antara karyawan. Terakhir, mengaktifkan forum discussion

group di tiap-tiap unit kerja,” sambung Warno.

Mengurusi dokter spesialis dengan beragam karakter, diakuinya, merupakan tantangan tersendiri. Hal ini dibenarkan oleh dr. Mulyadi Muchtiar, MARS, Medical & Ancillary Service Manager RS Premier Bintaro. Mulyadi seharihari adalah bagian dari Komite Medis di RS Premier Bintaro, yakni komite yang beranggotakan dokter spesialis. Di dalamnya terdapat dua kategori dokter spesialis, yakni full time dan part time. Meski disebut full time, dokter spesialis berbeda dengan karyawan pada umumnya. Di RS Premier Bintaro, tercatat ada 16 dokter spesialis full time, dan 80-90-an dokter spesialis part time.

“Untuk dokter spesialis yang full time, kami memberi income secure tiap bulan. Ketika kami hire, dia tinggal melakukan praktik berdasarkan tugas

yang diberikan. Rumah sakit berusaha membesarkan dokter ini dengan memberikan jadwal untuk menangani klien-klien perusahaan, atau memberikan jadwal on call, sehingga diharapkan ia memiliki pasien yang banyak dan pada akhirnya memberikan kontribusi kepada perusahaan,” ujar Mulyadi.

Dengan jadwal dan beban kerja dokter spesialis yang ketat dan lingkungan kerja yang selalu berhadapan dengan orang sakit, Mulyadi mengakui, tugas dokter spesialis menimbulkan stres yang tinggi. Untuk itulah, lanjut Mulyadi, manajemen dituntut untuk menciptakan keseimbangan bagi para dokter spesialis yang jadwalnya super padat ini. “Misalnya, satu bulan sekali kami mengadakan gathering, di mana kami berkumpul membicarakan perkembangan pekerjaan maupun mendatangkan motivator-motivator seperti Mario Teguh, Gde Prama, atau James Gwee, dilanjutkan acara santap siang bersama dan kami siapkan door prize. Acaranya serius tapi santai,” paparnya.

Warno menambahkan, pihaknya berupaya keras agar para dokter spesialis memiliki loyalitas yang tinggi. “Di antaranya kami memiliki program doctor up grade di mana para dokter ini dikirim ke rumah sakit di luar negeri seperti Australia, Singapura maupun India, untuk meningkatkan kompetensinya. Sedangkan untuk perawat kami memiliki program beasiswa hingga ke jenjang Master,” ungkapnya. Bahkan, ia melanjutkan, pihaknya merencanakan joint program di mana dokter atau perawat bisa bekerja sambil menimba ilmu di rumah sakit luar negeri yang sudah tergabung dalam Grup Ramsay International. Menurut Warno, kerja sama seperti itu diperlukan mengingat pesatnya perkembangan teknologi di industri rumah sakit. Sehingga, mau tidak mau, RS Premier pun dituntut untuk mengikuti perubahan tersebut. Ya, selamat berubah! (Rudi Kuswanto)

“Rumah sakit berusaha membesarkan dokter ini dengan memberikan jadwal untuk menangani klien-klien perusahaan, atau memberikan jadwal on call, sehingga diharapkan ia memiliki pasien yang banyak dan pada akhirnya memberikan kontribusi kepada perusahaan” (Mulyadi)