Bagaimana Mereka Menikmati Sukses

Di usia yang belum mencapai 40 saat ini, Andreas Rudy Diantoro adalah salah satu eksekutif yang sangat beruntung. Sejak beberapa tahun lalu, Andreas diangkat menjadi Managing Director PT Hewlett-Packard (HP) Indonesia, perusahaan hasil merger antara HP dan Compaq. Bersama Elisa Lumbantoruan dan Johannes A. Gianto, mereka bertiga menjadi nakhoda kapal HP di Indonesia.

Peraih gelar MBA di Amerika ini telah 11 tahun berkarir di HP, termasuk di HP Australia. Hingga saat ini, ayah dua putera-puteri ini merasa sangat betah bekerja di HP, sehingga tidak kepincut untuk pindah ke perusahaan lain. Sudah beberapa kali ia didekati head hunter, baik langsung maupun melalui orang lain termasuk isterinya, Andreas bergeming. Tawaran gaji dan fasilitas yang lebih besar ditolaknya.

"Dalam bekerja di satu perusahaan, faktor gaji itu hanya salah satu saja. Banyak faktor lain yang lebih penting, seperti reputasi perusahaan, pengetahuan dan pengalaman yang bisa diperoleh, kepemimpinan, pengembangan diri, dan sebagainya," tutur Andreas.

Soal reputasi ini, ia punya pengalaman langsung. Saat bertugas di Australia, hanya dalam waktu beberapa jam saja sudah memperoleh status Permanent Resident karena bisa langsung bertemu dengan pejabat imigrasi yang siap membantu penuh. "Kalau bukan karena nama HP, bagaimana mungkin bisa semudah itu. Apalagi di Australia waktu itu tokoh anti-Asia Pauline Hanson lagi top-topnya," tambah penggemar parfum Hugo Boss dan Giorgio Armani itu.

Menurutnya, HP selalu berusaha memberikan yang terbaik, meski untuk kompensasi dan benefit belum tentu terbaik. Di HP berlaku prinsip remunerasi yang disesuaikan dengan kelayakan hidup di manapun orang HP bekerja. Berbagai fasilitas tersedia untuk eksekutif macam dirinya, termasuk mobil kantor. Ke mana-mana ia lebih suka naik sedan BMW atau Mercedes Benz, meski mengaku tak fanatik pada merek mobil tertentu.

Untuk penampilan, Andreas menyukai arloji Rolex untuk kegiatan resmi dan Swatch untuk saat-saat santai. Desain arloji Swatch yang menarik membuat dirinya menjadi kolektor sejak masih kuliah di Amerika dulu hingga saat ini. Merek jas kesukaannya, antara lain, Hugo Boss, Versace, dan Ermenegildo Zegna. Sedangkan sepatu, ia menyukai merek Bally dan belakangan ditambah dengan Salvatore Vergamo, sepatu yang menurutnya tidak terlalu mahal namun enak dipakai.

Berbagai objek wisata di kawasan Asia dan Australia telah dikunjunginya saat berlibur dengan keluarga. Kebetulan HP membolehkan eksekutifnya membawa keluarga pada rapat bisnis perusahaan di luar negeri asal dibayar sendiri. Namun, tujuan berlibur favoritnya tetap kota asalnya Yogyakarta. "Sekalian bernostalgia dengan teman-teman masa SMA dulu," katanya tertawa.

Penganut prinsip work-life balance ini menikmati betul saat hari-hari libur dengan berolahraga basket kesukaannya, jalan-jalan ke Plaza Semanggi sambil mampir ke toko buku Kinokuya, atau mengajak makan keluarga ke tempat-tempat yang enak semisal kafe atau resto. Hingga kini ia masih belum menyukai main golf, dan memilih untuk terus main basket. "Ini tidak sesuai dengan ungkapan semakin tinggi pangkat, semakin kecil bola yang dimainkan," jujur dia mengaku.

Andreas tidak lupa menyisihkan penghasilannya untuk berinvestasi, mulai dari asuransi bagi kedua anaknya, membeli saham/reksadana hingga properti. Hanya 25% dari pengha-silannya yang disimpan dalam bentuk dana tunai. Ditanya penghasilannya, Andreas langsung menukas: "Nggak enak lah ngomong gaji. Ngomong yang lain aja deh." Diperkirakan penghasilan Andreas lebih dari Rp 50 juta sebulan.

Sikap menolak untuk mengungkap penghasilan juga disampaikan eksekutif lainnya: Iwan H. Djalinus, Marwan Baasir, PM Susbandono, Setya Rahadi, Bambang Widyastomo, dan lainnya. Iwan yang diperkirakan berpenghasilan bersih antara Rp 30 juta hingga Rp 60 juta sebulan menilai soal besaran gaji itu relatif. "Penghargaan perusahaan dan kepuasan batin lebih berarti buat saya," ungkap penggemar parfum Calvin Klein dan Hugo Boss ini.

Dia merasa sangat puas di Caltex karena semuanya berlangsung bersih, tanpa neko-neko, dan integritas karyawan yang tinggi. Waktu luang dimanfaatkannya berolahraga golf, yang disebutnya sebagai ajang adu kepandaian, selain clubbing di hotel/kafe Jakarta. Kendati sering pergi ke luar negeri, ayah dua anak perempuan ini lebih senang berlibur di Indonesia. "Lebih enak hangat daripada dingin salju," katanya jujur.

Marwan Baasir yang diperkirakan berpenghasilan mirip Iwan memiliki gaya hidup yang berbeda. la tidak suka clubbing. "Saya tidak suka bising," katanya diplomatis. Juga kehidupan yang wah. Ia lebih merasa bahagia bila bisa ngobrol dengan berbagai lapisan, termasuk kalangan bawah. "Sehari tidak ngobrol, rasanya kesemutan," ujarnya tertawa.

Sebagai eksekutif yang sibuk, ia berusaha menyisakan waktu dengan keluarga, nonton, makan bersama, atau bermain dengan anak-anaknya yang masih kecil. Makanan favoritnya adalah menu tradisional macam soto ikan bakar dari Makassar. Olahraga kesukaannya cukup jogging saja. Tapi jangan coba-coba mengganggu saat ia lagi nonton film favorit kalau tidak ingin kena marah. "Terutama film yang menyangkut pengadilan dan sulit ditebak arah ceritanya," katanya. Kali ini tanpa marah tentunya.

Bambang Widyastomo, pria yang diperkirakan mendapatkan penghasilan sekitar Rp 20 juta, lebih suka berlibur ke Bali dan Yogyakarta. Kendaraan kerjanya sehari-hari adalah BMW 318i terbaru yang diperolehnya melalui Car Ownership Program Tri Megah.

Hobi PM Susbandono lain lagi. Saat libur, ia lebih suka tidur. "Karena saya menganggap rumah itu surga," ungkap pria yang menyukai Toyota Camry ini. la berusaha untuk rutin 5 kali seminggu berolahraga treadmill di rumahnya, setiap sore menjelang malam. Setiap 3 tahun, ia mengajak isteri dan kedua anaknya berlibur ke luar negeri. Selebihnya di Indonesia saja. "Saya palingsuka Eropa," ungkapnya. la menyukai Plaza Senayan dan kawasan Mega Mendung untuk bersantai.

Ungkapan life is beautiful agaknya pas menggambarkan keseharian mereka.