Mengantisipasi Kelangkaan SDM Migas

Pada akhir tahun 2009 nanti pemerintah mencanangkan target untuk meningkatkan produksi migas yang diharapkan mencapai 30% atau 1,3 juta bpod (barrel of oil per day). Namun sebelum mencapai target tersebut pemerintah menghadapi kenyataan penurunan jumlah tenaga kerja untuk sektor tersebut.

Berdasarkan data yang dimiliki Dirjen Migas, tercatat angka 291.173 tenaga kerja dalam negeri di tahun 2006. Bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja sektor migas dalam negeri pada tahun 2005 (295.198) dan 2004 (295.507), angka tersebut jelas mengalami penurunan. Untuk mencapai target tersebut, Edi Purnomo selaku Ka. Sub. Dit. Pemberdayaan Potensi Dalam Negeri Dirjen Migas dalam seminar mini yang digelar JAC beberapa waktu lalu menyebut bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan masalah ketenagakerjaan di sektor migas yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi migas.

Hal-hal tersebut antara lain ketergantungan penggunaan tenaga kerja asing (TKA) yang menguasai teknologi dan permodalan dan keterbatasan jumlah tenaga kerja nasional (TKN) migas yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta keahlian di bidang migas. Selain itu ada juga masalah penciptaan tenaga kerja migas yang belum terstruktur dan fresh graduate yang tidak siap pakai. Kesimpulannya adalah kebutuhan SDM migas saat ini secara kualitas dan kuantitas bisa dibilang kurang memadai. Sehingga proses rekrutmen di perusahaan migas pun tidak berjalan dengan baik.

Keterbatasan jumlah tenaga kerja migas di Indonesia ditengarai karena perbedaan upah yang lebar antara tenaga kerja asing (TKA) dan tenaga kerja nasional (TKN) yang menyebabkan banyak TKN yang pindah ke perusahaan migas di luar negeri. Di lain sisi, negara yang memiliki capital besar seperti Arab Saudi berani membayar mahal tenaga-tenaga migas yang berkualitas dan berpengalaman termasuk dari Indonesia.

Namun bukan berarti perusahaan migas nasional tidak berani memberikan bayaran yang kompetitif. Aturan perundang-undangan yang ada saat ini mau tidak mau membuat perusahaan migas nasional berpikir dua kali sebelum merekrut tenaga ahli yang nantinya dibayar mahal.

“Klien-klien kami yang mau menghire mereka dengan bayaran tinggi terbentur dengan peraturan perundang-undangan bahwa ketika dia keluar harus bayar pesangon. Sehingga dengan kondisi seperti itu mereka tidak berani bayar tinggi kan. Karena takut pesangonnya nanti tinggi sekali. Sehingga mereka outsource atau mereka bayar dengan harga rendah. Nah itu tidak kompetitif. Akhirnya kan jadi kosong”, ujar Dally M. Subagijo, Senior Business Development-Energy Division PT. JAC Indonesia kepada HC.

Hal ini mau tidak mau membuat perusahaan migas nasional mengimpor tenaga kerja ahli dari negara lain. Sayangnya, tenaga ahli yang datang dari negara lain biasanya hanya sebatas kelas dua atau kelas tiga. “Orang-orang ini didatangkan dengan tujuan alih teknologi. Padahal, kenyataannya mereka yang belajar di Indonesia. Karena mereka belajar berarti cost buat kita kan, maka negara ini harus bayar cost recovery. Yang kayak gini menjadi bumerang buat kita ke depan. Ketika kita tidak punya tenaga bagus dan terbatas”, kata Dally khawatir.

Akhirnya kondisi ini membuat perusahaan migas nasional harus merasakan dampak dari kelangkaan tenaga kerja terampil di sektor migas. Moh. Zulkarnain selaku Finance & Administration Director dari Elnusa Drilling Services dalam seminar yang sama mengatakan bahwa untuk mengantisipasi hal ini pihaknya mempekerjakan fresh-graduate yang kemudian dilatih dan dididik melalui program ikatan dinas.

Program seperti ini tampaknya harus dilakukan perusahaan-perusahaan migas untuk mengantisipasi kelangkaan tenaga terampil. Karena dari sisi perusahaan sebenarnya mereka juga mengalami dilema. Pekerja yang sudah punya keahlian biasanya tergerak untuk pindah ke perusahaan yang lebih besar. Sehingga tenaga kerja terampil yang berpengalaman di sektor ini cenderung untuk berpindah-pindah perusahaan.

Elnusa sendiri seringkali mengalami hal ini dimana tenaga kerja kelas menengah dengan pengalaman dan keahlian yang mereka miliki dengan mudah dibajak oleh perusahaan multinasional yang mampu memberikan remunerasi yang jauh lebih tinggi. Keterbatasan SDM ini secara umum memang hampir dirasakan oleh semua perusahaan migas.

Mendatangkan tenaga kerja asing berkualitas untuk melakukan transfer of technology/knowledge kepada tenaga kerja nasional terkadang juga tidak berjalan dengan baik karena tenaga kerja kita kurang memiliki kemampuan komunikasi, leadership dan supervisory skill yang baik yang dibutuhkan pekerja migas di supervisory level. Namun untuk kemampuan teknis yang berhubungan langsung dengan mesin sebenarnya tenaga kerja lokal cenderung lebih baik. Jadi untuk pekerjaan di level bawah tenaga kerja nasional memiliki kualitas yang cukup baik.

“Kebanyakan orang Indonesia ini sebenarnya bagus. Tapi terkadang communication skill mereka kurang karena belajarnya dari lapangan langsung. Sehingga perusahaan lebih berhati-hati dalam memilih”, sergah Indra Budiman, Energy Specialist PT. JAC Indonesia.

Pendidikan Migas Melalui Universitas

Untuk mencapai target 2009, hal yang perlu dilakukan adalah menciptakan fresh graduate yang siap pakai. Karena kurikulum yang dipelajari di universitas belum cukup untuk membuat fresh graduate langsung terjun di industri yang sebenarnya. “Untuk menjadi engineer di bidang perminyakan butuh waktu minimal 2-3 tahun dan itu harus di lapangan,” tambah Dally M. Subagijo.

Namun sayangnya keterbatasan jumlah tenaga kerja ini ditambah dengan kenyataan dimana sebagian lulusan universitas bidang migas justru memilih bekerja di bidang yang berbeda dengan pendidikan mereka. Hal ini cukup ironis karena lulusan bidang migas yang ada akhirnya justru diserap oleh sektor non-migas. Padahal dari segi finansial pekerjaan di bidang migas lebih menjanjikan ketimbang sektor lain seperti perbankan.

Kurangnya minat masyarakat untuk bekerja di sektor ini pada akhirnya membuat institusi pendidikan enggan membuka jurusan ini. Indra Budiman sendiri sempat berbicara dengan orang dari salah satu universitas negeri terkemuka. “Mereka bilang sebenarnya mudah untuk membukanya, tapi untuk memaintain bahwa nanti jurusan ini akan eksis dan kemudian support dari orang-orang tetap ada itu yang sulit,” tambah Indra.