Booming Jasa Head Hunter

Ketika Arwin Rasyid terpilih menjadi Direktur Utama PT Telkom Tbk., banyak yang menyangkal dia diangkat melalui penunjukan pemerintah (sebagai pemegang saham utama) seperti yang selama ini terjadi di lingkungan BUMN dan birokrasi. Orang makfum saja kalau Arwin terpilih karena dia telah berpengalaman menjadi eksekutif, sepeprti di Bank Niaga, BPPN, Bank Danamon, dan terakhir Bank BNI sebagai Wakil Direktur Utama. Tetapi benakah prosesnya sedemikian sederhana?

Ternyata tidak. Arwin terpilih menjadi Direktur Utama Telkom setelah melalui proses pencarian menggunakan jasa head hunter, yang belakangan ini telah menjadi keputusan Meneg BUMN Sugiharto. Sejumlah nama-nama eksekutif terkemuka disaring dengan melibatkan 4 firma pencari eksekutif independent, salah satunya adalah Amrop Hever. Hasil penyaringan konsultan independent itu disampaikan kepada Menteri untuk diputuskan.

Inilah cara Meneg BUMN untuk mengubah cara mengelola BUMN sebagai upaya meningkatkan kinerja BUMN yang selama ini sangat payah. Langkah pembenahan manajemen BUMN dimulai dengan transparansi proses rekrutmen direksi. Dewasa ini, tutur Managing Partner Amrop Hever Indonesia Irham Dilmy, setiap orang yang berminat menjadi direksi BUMN bisa mengirimkan lamaran mereka ke Kementrian BUMN melalui internet. Seluruh lamaran tersebut kemudian disaring oleh konsultan independent berkoordinasi dengan Sekretaris dan para Deputi Meneg BUMN. “Pertemuan secara tatap muka sangat dihindari,” ungkap Irham.

Perubahan ini tentu juga merepotkan bagi para eksekutif yang selama ini sering kasak kusuk untuk bisa menduduki posisi direksi di BUMN. Beberapa di antara peminat menghubungi konsultan pencari eksekutif semacam Irham Dilmy, “Tetapi saya menolak untuk bertemu langsung,” tegasnya. Maklum, tahun ini saja ada 40 BUMN yang harus berganti direksi, sehingga proses pencarian eksekutif untuk BUMN luar biasa semarak.

Kesemarakan pencarian eksekutif melalui jasa headhunter tidak hanya terjadi di lingkungan BUMN, tetapi juga di perusahaan-perusahaan swasta, Lembaga swadaya Masyarakat (LSM), komite bentukan pemerintah, dan perguruan tinggi. Terpilihnya Prof. Dari. Achmad Anshori Mattjik menjadi Rektor IPB dihasilkan setelah menggunakan jasa head hunter. LSM semacam The Nature Conservancy mendapatkan 13 doktor di bidangan lingkungan dan berpengalaman internasional juga melalui head hunter. Dalam dataran yang lebih sederhana, UNICEF pun mencari tenaga dokter yang memahami kesehatan masyarakat dan kerjasama internasional memanfaatkan jasa head hunter.

Di perusahaan swasta? Itu so pasti. “Pasar pencarian eksekutif, khususnya untuk industri telekomunikasi, perbankan & keuangan, produk konsumen, farmasi dan pertambangan, sangat booming,” tukas Andrew Hairs, Country Manager Monroe Consulting Group, perusahaan yang melayani pencarian eksekutif. Andrew sendiri merasa kewalahan untuk melakukan proses pencarian eksekutif karena pesanan yang cukup banyak – mencapai 150 pencarian. “Mendapatkan order dari klien tidak jadi masalah saat ini. Justru mendapatkan eksekutif yang tepat menjadi masalah,” ujar pria yang telah menggeluti bisnis head hunter selama 10 tahun lebih itu.

Tantangan tersulit adalah mendapatkan eksekutif untuk bidang telekomunikasi, khususnya eksekutif di bidang teknologi jaringan. Di samping permintaan dari operator telekomunikasi, permintaan juga mengalir dari vendor telekomunikasi terkemuka yang memeiliki proyek skala besar di Indonesia. Sayangnya, seperti di akui Andrew, talenta lokal sangat terbatas di bidang ini. Sebagai solusinya, Monroe terpaksa mencari tenaga ekspatriat dengan masa kontrak 6 bulan hingga 1 tahun. Prara ekspatriat itu memang lebih menyukai kontrak jangka pendek, karena uang yang diperoleh jauh lebih banyak. Beda sekali dengan eksekutif asal Indonesia yang menyukai kontrak jangka panjang. Mereka juga tidak khawatir akan kehilangan pekerjaan karena permintaan terhadap tenaga seperti merekan sangat tinggi. Mobilitas mereka memang sangat tinggi. Tahun ini bekerja di Indonesia, tahun depan sudah di negara lain. Begitulah seterusnya.

Tingginya permintaan terhadap eksekutif telekomunikasi (dan sulitnya mendapatkan kandidat yang tepat) diakui pula oleh Joris de Fretes, Direktur Human Capital PT. Excelcomindo Pratama, operator seluler XL. “Telekomunikasi itu industri yang relative baru di sini. Tenaga di bidang radio network, misalnya, sangat sulit didapat. Kami terpaksa meminta bantuan head hunter mendapatkan mereka,” ungkapnya. Excelcomindo bukannya tidak berusaha mengembangkan tenaga professional mulai daribawah. Tetapi, lanjut Joris, kecelakaan bisa saja terjadi. Tiba-tiba ada Manager atau GM yang berhenti karena dibajak perusahaan lain. Saat sebuah perusahaan telekomunikasi baru masuk ke Indonesia tahun lalu, Excelcomindo kehilangan 10 orang jajaran eksekutifnya. Seluruh puncuk pimpinan perusahaan itu berasal dari eks eksekutif Excelcomindo. Belum lagi level bawahnya. Kondisi ini menyebabkan bajak-menbajak menjadi hal yang lumrah dalam industri telekomunikasi.

Di luar telekomunikasi, intensitas pencarian eksekutif juga banyak dilakukan oleh industri perbankan, produk konsumen, pertambangan, dan farmasi. Di industri perbankan, paling banayk dicari eksekutif di bidang perbankan konsumen (consumer banking), khususnya bisnis kartu kredit dan wealth management. Industri produk konsumen dan farmasi banyak mencari eksekutif di bidang pemasaran dan keuangan. Pasar Brand Manager dikui Andrew masih tinggi. “Mereka bisa mendapat gaji bulanan hingga belasan juta rupiah.”

Tak kalah marak adalah pencarian eksekutif untuk industri perminyakan dan pertambangan. Tingginya minat eksplorasi dan eksploitasi dari perusahaan pertambangan di Indonesia menyebabkan pasar eksekutif sector ini sangat tinggi. Proyek pertambangan batubara di Kalimantan, proyek migas di Cepu, dan banyak proyek pertambanagn lainnya membutuhkan tenaga spesialis sampai dengan level manajerial. “Jumlah eksekutif yang dibutuhkan untuk proyek Cepu saja akan sangat banyak,” tutur Irham Dilmy.

Angin perubahan telah bertiup kencang. Selain beberapa klien diatas, Amrop Hever telah sukses mencari 12 Direksi Pertamina, termasuk CEO RS. Pertamina; mencari Dewan Direksi Jakarta Propertindo; BNI, BPK, dan sejumlah BUMN lainnya. Banyak organisasi di Indonesia yang mulai menyadari bahwa keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung dari profesionalisme jajaran pimpinannya. Maka, yang paling diuntungkan adalah eksekutif bertalenta tinggi. Mereka ibarat gula yang begitu manis, di mana semut-semut (perusahaan) berusaha dengan segala macam cara mengerubunginya. Jumlah mereka memang sangat terbatas, sementara permintaan terhadap mereka begitu tinggi.

Kondisi pasar yang timpang semacam ini membuat pasar eksekutif menjadi kurang sehat. Berbeda dengan proses rekrutmen biasa, eksekutif yang diinginkan klien telah menduduki posisi yang enak di perusahaannya bekerja. “Mereka tidak melamar atau sedang mencari pekerjaan,” timpal Pri Notowidigdo, Senior Partner Amrop Hever, satu dari sedikit head hunter asal Asia yang masuk daftar head hunter kelas dunia versi AESC (Association of Executive Search Consultants). Dalam kondisi seperti ini harus ada factor yang membuat si eksekutif mempertimbangkan tawaran dari head hunter dan akhirnya pindah kerja. Factor gaji yang ditawarkan, menurut beberapa head hunter, ternyata masih sangat penting, meskipun tidak selalu begitu.

Sadar bahwa dirinya sangat diminati perusahaan lain, beberapa eksekutif berani menaruh harga sangat tinggi. Minimal gaji harus naik 50%; bahkan ada yang meminta gaji 300% dari gaji di perusahaan sebelumnya. Bagi si eksekutif, penawaran tinggi ini bisa disebut serius dan nggak serius. Kalau disetujui bagus; kalau nggak juga tidak apa-apa. Dalam kasus seperti ini, lanjut Andrew, ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada klien, sambil memberikan sejumlah pertimbangan.

Tetapi klien seyogyanya tidak semata-mata menjadikan permintaan gaji itu sebagai pertimbangan utama. Selama si eksekutif bisa meningkatkan pemasukan perusahaan jauh lebih besar, permintaan gaji yang besar itu masih bisa diterima. Irham menceritakan seorang eksekutif Indonesia di perusahaan pengolahan coklat meminta anggaran dinaikkan 3 kali lipat, dan akhirnya dikabulkan. “Dia pulangkan bule yang bergaji US$300.000 per tahun dan menggenjot penjualan. Hasilnya keuntungan perusahaan naik berlipat-lipat. Eksekutif semacam ini yang banyak dicari,” cerita Irham.

Paradigma cost and benefit ratio ini, agaknya, perlu pula diterapkan oleh BUMN. Setiap eksekutif BUMN yang diangkat harus mampu memperagakan lompatan kinerjanya dengan terpilihnya mereka. Untuk membuat lompatan tersebut tidak bisa hanya CEO-nya saja yang diganti. Agar pendapatan Telkom naik 3 kali lipat misalnya, Arwin harus didukung oleh eksekutif di level berikutnya. Sebuah sumber menyebutkan, Telkom membutuhkan eksekutif pelaksana berstandar Internasional – ekspatriat – untuk mewujudkan ambisi Arwin dan pemerintah tersebut. Pemerintah pun tampaknya setuju untuk memberlakukan system penggajian khusus agar si bule mau bergabung dengan Telkom.

Era “membeli kucing dalam karung” telah lewat. Hanya orang-orang yang sukseslah – kendati pernah pula menghadapi kegagalan namun akhirnya sukses – yang bisa diharapkan mewujudkan mimpi dan ambisi para pemegang saham. Masuknya banyak professional swasta ke jajaran BUMN diharapkan mampu mengubah kultur dan system manajemen BUMN, yang kabarnya sudah sangat buruk. Seorang Direktur Keuangan BUMN asal swasta kaget luar biasa ketika manajernya meminta dia menyetujui proposal anggaran proyek yang nilainya 80% lebih tinggi dari harga pasar. Gilanya si manajer dengan lugas mengatakan bahwa di dalam anggaran tersebut terdapat 15% bagian untuk dirinya sebagai Direktur. Pada kasus lain, masih sangat jamak di BUMN terjadi proyek fiktif, membeli komputer 100 unit, tapi pengadaan itu sendiri sebetulnya tidak ada, dan sejenisnya.

Di jajaran pemerintah, pemanfaatan jasa head hunter sudah terbukti sukses di Mexico. Sebelum menjadi Presiden Mexico Juli 2000, Vicente Fox adalah CEO Coca Cola Mexico. Ia menggunakan jasa executive search Amrop Hever untuk mengisi posisi menteri dalam kabinetnya. Hasilnya, kinerja pemerintahan Mexico sangat bagus. Ekonomi negara dengan penduduk 100 juta jiwa itu berhasil masuk 10 besar ekonomi global.

Sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Indonesia, bukan?