5 Tips Menghindari Kesalahan Merekrut Karyawan

TUGAS penting yang harus diemban oleh seorang praktisi HR salah satunya adalah melakukan rekrutmen. Dan sudah bukan rahasia lagi, bahwa kesalahan dalam memilih karyawan akan berdampak pada biaya perekrutan yang tidak sedikit.


Dari beberapa praktisi yang pernah melakukan “salah pilih” tersebut, sebagian besar tentu menyesal dan berpikir bahwa seharusnya mereka bisa mendeteksi keburukan karyawan tersebut. Namun, pada akhirnya “salah pilih” itu tetap terjadi, karena kandidat-kandidat tersebut sangat pandai menyembunyikan kekurangannya saat interview.

Untuk mengurangi kemungkinan kesalahan dalam merekrut orang tersebut, praktisi SDM bisa memulainya dengan 5 tips di bawah ini:

1. Melibatkan anggota tim yang lain untuk membuat keputusan.
Sebagai seorang praktisi SDM atau pemilik perusahaan, tentunya kita tahu kapan saatnya kita melakukan perekrutan dan memperoleh karyawan baru. Akan tetapi, hanya dengan berpedoman pada pendapat satu orang, keputusan tersebut mungkin hanya merupakan hasil instant dan luput dari hal-hal penting yang mungkin hanya dapat dideteksi orang lain. Oleh karena itu penting bagi praktisi SDM untuk melibatkan timnya dalam proses rekrutmen.

2. Periksalah referensinya.
Referensi yang dimaksud di sini adalah tanggapan dari bos terdahulu tempat ia bekerja atau pemberi kerja sebelumnya. Pendapat mereka bisa dijadikan bahan pertimbangan karena setidaknya mereka telah lebih lama mengenal kandidat.

3. Cobalah mengecek kandidat di Google.
Google akan menunjukkan kita pada facebook, twitter, atau jejaring sosial lainnya yang kandidat gunakan. Dari informasi-informasi yang disediakan Google, kita bisa mengetahui sedikit gambaran mengenai gambaran dan jejak rekam si calon karyawan yang akan kita rekrut.

4. Percaya kepada feeling.
Mengenai hal ini, mungkin kita bisa banyak belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh Amar Panchal, co-founder and CEO of Akraya. Ketika ia memilih karyawan baru untuk mengisi posisi yang kosong, ia hanya melakukan wawancara melalui telephone dan langsung menerimanya. Ia tidak menghiraukan feeling-nya dan mengabaikan intonasi bicara kandidat yang terdengar kurang bersemangat dan antusias.

Setelah bergabung dalam tim, terlihatlah sisi negatifnya. Ia melakukan banyak protes dan enggan mempelajari seluk beluk perusahaan. Yang terjadi adalah, merasa terganggunya karyawan yang sudah lama bergabung dalam tim. Belajar dari pengalaman tersebut, terkadang tidak salah jika kita mengikuti feeling. Siapa tahu, itulah petunjuk yang diberikan Tuhan kepada kita.

5. Mengajukan pertanyaan yang mendalam dan detail.
Jangan ragu untuk menanyakan kepada kandidat hal-hal yang mendalam dengan pertanyaan yang cukup frontal dan “berani”. Selalulah menyambung jawaban kandidat dengan “mengapa” atau “ kenapa kamu bisa bicara demikian?” Jadi, semakin detail pertanyaan kita, semakin terlihat karakter mereka.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai misalnya, “Jika saya menghubungi bos Anda yang dulu, kira-kira apa yang akan ia katakan tentangmu?” atau “Apakah goal yang sudah kamu tetapkan akhir-akhir ini?” Masih banyak contoh pertanyaan yang dapat dipakai, yang terpenting adalah pertanyaan tersebut dapat menghasilkan jawaban yang merupakan ungkapan jati diri kandidat tersebut.

Beberapa hal di atas, seperti yang sudah dikutip dari allbusiness.com, hanya sebagian dari puluhan atau bahkan ratusan cara menghindari kesalahan dalam menerima karyawan. Tugas praktisi SDM-lah untuk menjadi lebih peka ketika melakukan wawancara dengan kandidat. (*/tw)

Baca juga:
10 Kesalahan dalam Rekrutmen. Di sini.

Tags: , ,