4 Kompetensi Kunci agar SDM Go Global

BEKERJA di perusahaan multinational menjadi impian banyak profesional di Indonesia. Banyak yang “bela-belain” kuliah ke luar negeri ataupun menyekolahkan anaknya ke luar negeri, agar dapat bekerja di perusahaan multinational. Kabar baiknya, survei terbaru menemukan bahwa pendidikan dari luar negeri tidak menjamin karir global. Seperti apa surveinya?

Survei global talent ini merupakan bagian riset akademik dan dialog praktik korporasi yang merupakan kolaborasi para peneliti dari Indonesia, Dr. Hana Pangabean dan Dr. Juliana Murniati dan dari China, Prof Dr. Hora Tjitra. Survei ini melibatkan 45 perusahaan besar di Indonesia yang masuk dalam kategori LQ45 (stock market index for the Indonesia Stock Exchange) dan 217 profesional level menengah ke atas.

Hasilnya, dari data responden mereka yang berhasil berkarir di perusahaan global, baik itu perusahaan lokal yang kemudian berhasil menembus pasar global atau memang perusahaan global yang akan membuka cabang di Indonesia, ternyata 52,1 % di antaranya berasal dari sekolah luar negeri. Sedangkan yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan luar negeri sebesar 41,9% dan sebanyak 6% tidak teridentifikasi. Dalam survei ini pria masih mendominasi (92,2%) dibanding wanita (7,8%).

Dari sisi jenjang karir, kelompok true loyalist (orang yang menghabiskan hampir keseluruhan karirnya di perusahaan yang sama) cukup besar yaitu 52,1%. Kelompok nationalits (menghabiskan hampir keseluruhan karir di berbagai perusahaan lokal) sebesar 29%, dan 18,9% adalah kelompok international professional (menghabiskan karir di perusahaan multinational dan lokal).

Menurut Hana, ada beberapa key computence yang harus dimiliki oleh talent Indonesia untuk bisa go-global. “Di antaranya adalah dia harus memiliki global mindset dan expand own horizons. Artinya dia harus berani dan tidak takut untuk berkarir di luar negeri. Kedua, dia juga harus menguasai assertive communication, di mana dia harus bisa lancar menyampaikan ide-ide atau gagasan bagi organisasi. Ketiga, tidak ada masalah dengan keahlian bahasa Inggris serta keahlian teknis. Bahasa Inggris memang masih menjadi isu penting, sementara kecakapan teknis juga menjadi kunci masuk di pasar global. Terakhir yang keempat, intercultural sensitivity and awareness, yakni peka perbedaan dan bisa mengelolanya dengan baik,” papar Hana.

Sementara itu Hora Tjitra kepada PortalHR menerangkan diskusi akademik ini telah dilaksanakan mulai bulan April 2012 dan direncanakan sampai dengan Februari 2013. Menurut Hora, awal idenya dari GI Net (Global Indonesia Network) dimulai dengan seminar yang diadakan di bulan Juli tahun lalu dengan topik “From Local Manager to Global Leader“.

“Dalam seminar yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang praktisi dan akademisi senior, didapatkan feedback yang sangat positif, yang pada intinya mengusulkan agar acara sharing dialogue antara para praktisi dan akademisi bisa berlangsung secara regular dan intensif. Event kelanjutan pertama kita adakan bulan April 2012, yang kemudian dilanjutkan dengan Mei silam. Rencana kegiatan akan berlangsung regular hingga Februari 2013,” ujar Hora yang menambahkan event terdekat akan digelar di Kampus Unika Atmajaya, Jakarta, Sabtu, 23 Juni 2012.

Penelitian ini merupakan kerjasama antara Unika Atma Jaya Jakarta dan  Zhejiang University China, dan didanai oleh Human Capital Leadership Institute  Singapore. Tujuan diadakannya penelitian ini  adalah untuk mengetahui kompetensi apa yang perlu dimiliki calon pemimpin Indonesia yang ingin berkarir di area global, kelebihan dan hambatan apa yang pada umumnya dimiliki dan program intervensi yang perlu dilakukan organisasi untuk mempersiapkan global leader-nya. (*/@erkoes)

Tags: , ,