Pentingnya Pengalaman Antarbudaya untuk Go Global

Salah satu tantangan untuk bisa tampil di kancah internasional adalah kepiawaian kita memahami perbedaan budaya antar negara. Keengganan dalam mempelajari dan mentoleransi budaya negara lain sering kali memicu perselisihan dan hubungan yang kurang harmonis dalam kelompok, ketika kita harus berada dalam satu proyek internasional. Dengan pertimbangan tersebut, jelas sekali bahwa mau tidak mau, jika kita ingin sukses menjadi seorang global talent, kita harus memperkuat keterampilan kita dalam menjalin dan mentoleransi intercultural relation tersebut.

Dalam sebuah seminar bertajuk “Tapak Tilas ke Puncak Karir”, Dr. Hana Panggabean, Direkur Program Paska Sarjana Unika Atmajaya yang juga tergabung dalam Intercultural Communication Research and Training , memaparkan berbagai strategi yang dapat dilakukan oleh talent-talent Indonesia untuk go global atau berkarir di lingkup internasional. Dalam acara yang digelar di Kampus Semanggi Atmajaya, Sabtu (23/06) tersebut, hadir pula puluhan praktisi HR dan akademisi untuk berdiskusi langsung mengenai pengalaman mereka, terutama sekali menyangkut keterkaitan studi di luar negeri dengan pengalaman perbedaan budaya antar negara.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Hora Tjitra, Associate Professor Zhejiang University, China, Hana memaparkan bahwa terdapat berbagai cara yang dapat ditempuh jika ingin sukses dalam menyikapi perbedaan budaya. Yang pertama adalah dengan aktivitas turisme (travelling). Travelling membuat kita lebih familiar dengan budaya negara destinasi kita, akan tetapi interaksi terhadap budaya di negara tersebut bisa dikatakan sangat terbatas.

“Cara lain yang dinilai lebih efektif untuk menyiasati hubungan antar budaya ini adalah dengan kerja sama internasional, penugasan dalam lingkup internasional, pendidikan di luar negeri, pernikahan antar budaya dan yang paling tinggi tingkat interaksi antar budayanya adalah bicultural person atau yang lazim disebut blasteran,” tutur Hana.

Dari berbagai upaya interaksi antar budaya yang disebut di atas, pembahasan diskusi lebih dititikberatkan pada pendidikan di luar negeri. Dalam presentasinya, Hana juga menjelaskan bahwa melanjutkan pendidikan di luar negeri memungkinkan kita menikmati berbagai keuntungan antara lain, pengalaman baru di lingkungan internasional, kualitas pendidikan yang lebih baik, career competitive advantage di negara asal, dan bahkan kesempatan berkarir di luar negeri. Meskipun demikian, untuk mendapatkan manfaat berharga tersebut, tidak sedikit tantangan yang harus ditaklukkan.

Berdasarkan survey tentang komunikasi antar budaya, di mana Hana tergabung sebagai tim periset, para siswa yang bersekolah di luar negeri menghadapi tantangan antara lain, home sickness, iklim yang ekstrim, kendala komunikasi, sistem pendidikan yang berlainan dengan Indonesia dan tentunya perbedaan budaya. Ada semacam grafik yang menunjukan fluktuasi kondisi psikologi siswa yang belajar di luar negeri yakni kecenderungan memiliki semangat tinggi ketika baru berangkat, dan harus melewati masa represif akibat culture shock sebelum akhirnya bisa beradaptasi di negara baru.

Meskipun dibutuhkan kesiapan mental yang kuat sebelum memutuskan bersekolah di luar negeri, tidak sedikit nilai lebih yang akan kita peroleh. Selain pemahaman yang lebih mendalam mengenai budaya host country, kecenderungan menjadi lebih kritis terhadap negara asal dan munculnya sikap mengandalkan diri sendiri (self-reliance), yang paling utama adalah kesempatan berkarir yang cukup bagus di negara asalnya.

“Hasil riset menunjukan bahwa 52,1% dari posisi BOD di perusahaan bonafid Indonesia (LQ45-BEI) dijabat oleh orang-orang yang pernah mengecap pendidikan luar negeri. Sehingga meskipun yang bersekolah di luar hanya sekitar 1 persen dari total populasi, kesempatan berkarir mereka relatif lebih bagus,” ungkap Hana.

Studi di luar negeri memang sangat menguntungkan. Hanya saja, tidak semua lulusan luar negeri dapat menikmati keuntungan tersebut. Menurut Hana, sukses atau tidaknya studi kita di luar negeri dipengaruhi oleh beberapa hal yakni intensitas dan lamanya kita memperoleh pengalaman intercultural, interaksi sosial dengan warga negara destinasi, dan toleransi orang tersebut terhadap zona aman. “Semakin seseorang itu berani keluar dari zona aman, semakin besar kesempatannya untuk mendapatkan pengalaman intercultural,” ujarnya.

Pada akhirnya, lepas dari seberapa pandai kita beradaptasi dengan budaya internasional, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mampu mempertahankan identitas diri. “Ketika kita belajar di Amerika, bukan kita akhirnya menjadi seperti Amerika, tetapi tetap mempertahankan identitas kita sebagai orang Indonesia,” demikian diungkapkan oleh Hana. Ia menambahkan bahwa yang terpenting adalah kita tetap berbudaya Indonesia tetapi mampu memahami pemikiran bangsa lain sehingga tidak ada lagi masalah yang timbul hanya karena perbedayaan budaya. (tw)

Tags: , ,