HR Masih Berjuang Menjadi Mitra Bisnis Strategis

Hasil studi Hay Group terbaru menemukan bahwa para profesional HR masih berjuang untuk menjadi mitra bisnis strategis. Proses yang tidak efisien dan disiplin yang tidak berhubungan adalah faktor penghambat.

Penelitian yang dirilis ke publik beberapa hari yang lalu menguak fakta bahwa profesional HR bergerak lambat untuk menjadi mitra strategis bisnis dalam organisasi mereka.

Hanya 34% yang memberikan kontribusi strategis yang signifikan kepada organisasi mereka, sebagian besar (60 %) memposisikan diri  mereka di tengah-tengah, dan mengkonfirmasi bahwa masih banyak ruang untuk perbaikan.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 1400 professional SDM dan manajemen senior dari seluruh dunia, menemukan bahwa prioritas pada pemotongan biaya dan efisiensi—yang diperkenalkan untuk mengatasi badai ekonomi beberapa tahun yang lalu—kini telah berevolusi menjadi fokus pada mendorong kinerja dan pertumbuhan. Sementara itu, kekhawatiran HR untuk beberapa tahun ke depan akan berkisar pada pengembangan tenaga kerja dan memastikan orang-orang yang tepat berada dalam peran yang benar dan melakukan pekerjaan yang tepat.

Penelitian ini menyoroti bahwa membangun tenaga kerja untuk masa depan menjadi prioritas HR yang kian penting:


“Karena permintaan pasar terus berubah, keberhasilan organisasi akan bergantung pada kemampuan HR untuk menghubungkan keputusan-keputusan human capital dengan strategi bisnis. HR harus berhenti mengandalkan proses tradisonal dan silo-silo yang tidak efisien serta bergerak menuju sebuah pendekatan terintegrasi yang menghubungkan pekerjaan dan orang-orang ke dalam hasil bisnis. Perubahan tersebut sangat penting jika HR ingin bertransisi ke tempatnya yang benar yaitu sebagai mitra bisnis strategis,” kata Phil Johnson, Global Head of Work Measurement, Hay Group.

Para responden juga melaporkan masih ada kesenjangan yang signifikan pada disiplin-disiplin ilmu HR, misalnya:

1. Hanya 40% yang mengatakan pengukuran pekerjaan dan proses manajemen talent berhubungan erat

2. Bahkan lebih sedikit (36%) mengatakan manajemen talent dan efektifitas organisasi berhubungan erat

3. Lebih dari sepertiga (39%) mengatakan mereka sudah keluar dari silo tradisonal, tetapi ini berarti masih ada 61% yang belum, atau lebih buruk  lagi, tidak yakin.

Hasil penelitian ini menekankan bagaimana SDM akan tertinggal dalam memenuhi harapan manajemen apabila tidak melakukan pendekatan holistik pada people management. Pekerjaan adalah jantung proses HR, HR harus pandai menganalisa pekerjaan bila hendak menempatkan sumber daya yang tepat untuk memenuhi tujuan bisnis.

Meskipun 76% mengatakan mereka menggunakan sistem pengukuran pekerjaan yang formal, penelitian ini menunjukkan banyak organisasi yang tidak mendapatkan potensi penuh atau hasil yang maksimal dari investasi mereka.

“Sebagian besar organisasi masih membatasi sistem pengukuran kerja pada proses penetapan gaji dasar (base pay) dan untuk tujuan grading,” kata Johnson. “Kami mulai melihat lebih banyak perusahaan yang menggunakan pengukuran kerja untuk mendukung perencanaan suksesi, jenjang karir dan keputusan manajemen talenta lainnya. Bila digunakan secara maksimal pengukuran kerja dapat memberikan informasi yang sangat kuat pada pengambilan keputusan-keputusan strategis dan meningkatkan efisiensi organisasi secara menyeluruh. Memahami orang dan pekerjaan merupakan inti dari apa yang kami sebut next generation strategic HR.”

Tags: , ,