Handry Satriago: Menjadikan Change Management Sebagai Budaya

Perubahan adalah sesuatu yang selalu terjadi, apalagi belakangan ini teknologi mendorong perubahan signifikan pada industri. Bagaimana organisasi beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya? Handry Satriago, CEO General Electric (GE) Indonesia mengatakan Change Management seharusnya menjadi culture di sebuah perusahaan, bukan hanya sebagai strategi saja.

“Saya melihat change sebagai suatu kultur, dan sebaiknya menjadi corporate culture, karena change pada dasarnya adalah tentang people,” ujar Handry.

Apa saja kegiatan dari Change Management? Ada dua aspek change yang perlu kita jalankan. Aspek pertama yaitu aspek teknis, yaitu semua yang berkaitan dengan peningkatan fasilitas, perbaikan organisasi, penambahan aset, dsb. Sementara aspek kedua adalah aspek penerimaan dari change tersebut.

Menurut Handry lucunya, banyak yang merasa semua aspek teknis tersebut adalah inti dari change management, padahal banyak kegagalan change justru terletak dari aspek kedua, yaitu aspek penerimaan (acceptance) people dari change tersebut,” kata Handry.

Yang sering kita ragukan, apakah semua karyawan mau accept dengan perubahan tersebut? Menurut Handry hal itu menjadi tugas leader, manajemen organisasi mempunyai kewajiban untuk memberikan knowledge mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana agar people mau melakukan change, sehingga aspek acceptance dari change berhasil diterapkan. Jadi kesuksesan change adalah Technical X Acceptance = change efficiency.

“Jika people selalu accept terhadap perubahan, maka perusahaan akan mampu melakukan

change dengan cepat dan adaptif terhadap change,” ujarnya.

Salah satu cara akurat agar berhasil menjalankan CM, yaitu buatlah visi perusahaan yang terukur, dimengerti orang banyak dan real. Handry menyayangkan, banyak perusahaan merumuskan visi perubahan dengan kata-kata panjang dan sukar dimengerti atau hanya dimengerti oleh para leadernya saja.
“Kalau people nggak ngerti kenapa harus berubah, mereka nggak mau berubah,” tegasnya.

Elemen penting lainnya dalam change management adalah speed. Banyak rencana perubahan sudah dibuat dari dulu, tapi takut untuk mengimplementasiannya. Dan ketika implementasi siap dilakukan, kondisi lingkungan sudah berubah lagi, sehingga rencana Change-nya menjadi kadaluarsa. Alumnus Institut Pertanian Bogor ini menyarankan, “Ketika perubahan sudah harus dilakukan, lakukanlah secepatnya, kalaupun gagal sekurangnya ada pelajaran yang didapatkan, learn from best practice adalah cara cepat untuk melihat risk,” terangnya.

Bahkan Handry menambahkan, “Sepanjang pengalaman saya, the cost of late change lebih besar dibandingkan the cost of failure change,” ujar Presiden GE yang beralamat kantor di BRI Sudirman itu.

Sekali lagi Handry menekankan, dalam change management, faktor terpenting yaitu agar semua orang dapat menerima perubahan dan belajar dari perubahan itu sendiri. “Acceptance of change, bukan proses instant, bukan pula hal yang bisa dikasih resep management, ini hal yang harus dijalani langsung,” tegas Handry.

Untuk itu, peranan Leader untuk mensosialisasikan perubahan tersebut sampai ke tingkat bawah dari pegawainya sangat perlu dilakukan. Kebijakan ini bukan dalam arti otoritas pimpinan, melainkan membuka interaksi antar sesama karyawan. “Berdemokrasilah sebelum keputusan diambil oleh Leader, Listen very well, acknowledge perbedaan pendapat and make sure semua boleh bicara,” saran Handry.

zp8497586rq
Tags: , ,