Tika Bisono Senior Partner PT. Solusi Dua Sisi

Untuk mengetahui apa sebenarnya latar belakang wanita sukses ini melakukan semua hal tersebut, berikut tanya jawab dengan Tika:

1. Apa alasan Anda sering berpindah kerja?
Itu bukannya tanpa alasan, namun merupakan salah satu career planning strategy saya. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak ingin menjadi seorang pernsiunan. Misalnya suatu saat ia ingin mempunyai usaha sendiri, strategi dia adalah terus pindah, jadi tidak sampai belasan tahun untuk mempelajari banyak hal. Jadi strategi itu ia terapkan, pada akhirnya ia akan mempunyai karir yang tinggi. Begitu semua selesai, semua pengalaman akan dia terapkan di perusahaannya sendiri.

2. Apa sejak dulu pekerjaan Anda selalu dalam jalur yang sama?
Saya selalu melihat semua pekerjaan itu ada aspek psikologinya. Semua hal yang saya geluti selalu baru tetapi tidak kehilangan hubungan dengan psikologi, itu merupakan syarat utama saya. Saya merencanakan ini sebenarnya sejak lulus S1, tahun 1985. Rencana saya adalah saat itu saya masih berusia 24 tahun, saya menghitung enam tahun, hingga usia 30 tahun itu adalah proses belajar di perusahaan sambil berjualan kompetensi. Dan perusahaan yang saya masuki itu harus MNC untuk mengejar relasi di tingkat internasional juga. Usia 30-40 itu harus yang mulai naik, start doing-doing something. Harusnya usia 40-50 itu adalah masa usaha sendiri. Nah baru sekarang hal itu terwujud, so far in place meski agak mulur waktunya. Yang penting grand plan berjalan. Nah ini selalu saya beritahu kepada teman-teman muda, make a vision for your own career.

3. Apa tidak ada complain dari perusahaan yang Anda tinggalkan?
Selama ini tidak ada. Makanya kita jangan lupa dengan kontribusi. Kita jangan berwawasan perusahaan yang berinvestasi kepada kita, tapi juga what can you give to the company. Saya selalu berpikir untuk memberikan big ideas untuk perusahaan. Kalau ide itu belum jadi, itu tidak apa-apa. Tapi kita bisa merasa during our time sebuah ide besar itu bisa digulirkan. Jadi saat saya tinggalkan, orang akan lihat itu, we are not just an ordinary employee. Itu yang selalu saya kejar. Jadi saya tidak pernah pindah kerja hanya karena iming-iming gaji yang besar.

4. Bagaimana pendapat Anda tentang alasan gaji dan jabatan yang digunakan untuk berpindah kerja?
Menurut saya falsafah karirnya itu tidak benar. Falsafah karir itu sangat penting bagi mereka yang sedang meniti karir.

5. Seringnya orang berpindah kerja, mengakibatkan ia mendapat julukan ‘kutu loncat’. Apa keuntungan dan kerugian yang diakibatkan dengan julukan ‘kutu loncat’?
Tergantung ‘kutu loncat’ yang seperti apa dia. Jadi sebagai masukan bagi mereka yang baru bekerja. Ada beberapa tipe misalnya tipe yang bermain aman, dia tidak akan kemana-mana, itu juga berarti dia berniat ingin menjadi pensiunan dari situ, tidak ada peningkatan karir juga tidak apa-apa. Ada juga tipe yang di satu tempat tapi ia harus mencapai level CEO atau top management. Ada juga tipe yang tidak kedua-duanya, jadi mau diapain aja ia ikut saja. Susah kalau kita kerja seperti itu karena hidup itu kan pendek. Ini sangat merugikan kita sendiri.

Jadi jalur pekerjaan itu salah satu alat Bantu untuk kita bisa planning di jalur pribadi. Misalnya rencana kearah memilih pasangan hidup, keluarga, masa depan anak. Itu butuh suatu perencanaan yang matang.

6. Bagaimana jika perusahaan Anda telah melakukan investasi manusia yang besar, namun setelah itu harus kehilangan orang tersebut?
Mungkin kualat kali ya. Tapi in my case, bagaimana mereka memandang seseorang, itulah pandangan mereka terhadap perusahaan saya. Jadi saya anggap mereka adalah public relations agent dari perusahaan saya. So if they are good, seperti itulah juga pandangan terhadap perusahaan saya. Jadi kalau ada yang keluar dari sini, saya memandang mereka sebagai my PR agents. Artinya investasi itu tidak akan kemana-mana, tidak akan hilang. Saya tidak ingin mereka do things like I did, they should do things differently than I did. Buat saya second best is not ok, it’s got to be the best, it’s got to be number one.

7. Apakah fenomena karyawan kontrak menjadi salah satu akibat seringnya karyawan berpindah kerja?
Ini seperti buah simalakama, kalau kita melihat global ekonomi memang sedang tidak menyenangkan. Dampaknya terhadap uang perusahaan itu sangat besar. Untuk memilih terus tutup juga tidak mungkin, jadi yang harus dilakukan adalah saling mensiasati. Salah satunya adalah meminimalisir permanen dan memaksimalisir kontraktor atau outsource. Tapi ada juga yang tidak suka kontraktor. Di Indonesia itu masih sangat kekurangan competitiveness. Makanya jangan pernah berpikir cari kerja itu gampang

8. Mana yang lebih baik, menetap di perusahaan atau terus berpindah?
Sebenarnya semua tergantung pada orientasi mereka bekerja. Ada tiga motivasi, pertama cari uang, tidak peduli hal lain kecuali setiap bulan kita dapat uang. Kedua sosialisasi, mereka bekerja untuk sekedar cari teman, dia tidak akan punya peningkatan, bahkan uang pun mereka tidak peduli. Ketiga yang paling benar yaitu untuk aktualisasi diri. Ini yang akan membuat semua yang ia lakukan menjadi bermotif. Berinisiatif, naik pangkat, menjadi center of attention selalu dengan motif.

9. Menurut survey yang dilakukan Watson Wyatt, bahwa loyalitas dan komitmen karyawan Indonesia itu sangat rendah. Menurut Anda, bagaimana dampaknya terhadap perusahaan?
Pengaruhnya cukup besar. Misalnya ada pembantu di rumah, kalau harus terus mengajarkan lagi pembantu baru kan tidak mengenakkan. Tapi juga di Indonesia kebijakan perusahaan itu seringkali tidak jelas. Seperti sistem kompensasi dan benefit kita masih belum layak. Jika hal-hal yang mendasari perkembangan itu tidak terpenuhi, bagaimana sebuah perusahaan dapat mengharapkan karyawan itu memberikan prestasi yang memuaskan. Corporate values itu sangat menentukan apakah seorang karyawan itu akan menetap atau pergi.

10. Apa yang harus dilakukan perusahaan untuk dapat mempertahankan karyawannya?
Take and givenya harus benar. Orang akan senang jika jenjang pendidikannya, pengalaman di belakangnya dihargai. Jika ini belum terjadi, yang penting good will perusahaan sudah dapat dirasakan.