Tetap Produktif Bekerja di Tengah Bencana Alam

Tetap Produktif Bekerja di Tengah Bencana Alam

Pernahkan terpikir jika harus bekerja di tengah bencana? Bagaimana menyikapinya jika memang terjadi? Mungkinkah perusahaan tetap produktif dalam suasana ini?

Oleh : Rina Suci Handayani

Bangsa Indonesia menyambut tahun 2011 dengan banyak pekerjaan rumah (PR). Tepatnya PR pasca beberapa bencana alam yang terjadi pada 2010 lalu. Masih segar di ingatan kita, gempa di Pulau Mentawai, letusan Gunung Sinabung di Propinsi Sumatera Utara, juga Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Propinsi Jawa Tengah.

Bencana memang tidak terhindarkan namun bukan berarti produktivitas perusahaan berhenti total. Perusahaan bisa menyikapinya sambil terus melakukan aktivitas produksi, bahkan karyawan bisa saja lebih bersemangat bekerja, dan memicu produktivitasnya di tengah kondisi bekerja yang tidak biasanya. Apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkannya?

”Sesuatu yang harus terjadi, kita hadapi dengan tenang. Kalau dengan kepanikan tidak menghasilkan apa-apa,” jawab Buntoro pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK) perusahaan yang memproduksi pelengkapan rumah sakit, yang pabrik dan kantor pusatnya berada di sekitar radius 22 KM dari Gunung Merapi, Jawa Tengah. Letusan Gunung Merapi adalah bencana alam kedua yang dampaknya terasa untuk MAK. ”Bencana gempa Yogya tahun 2006 jauh lebih besar dan berdampak pada MAK, karena sekitar 60 rumah karyawan hancur,” tambahnya.

Debu Merapi yang konon berbahaya bagi kesehatan, rupanya juga berbahaya bagi mesin-mesin di pabrik MAK. Debu-debu hasil letusan Merapi bisa mengakibatkan mesin-mesin produksi konslet. Maka para operator pun harus lebih rajin lagi membersihkan dan melindungi bagian penting dari mesin-mesin tersebut. ”Debu itu bahaya buat mesin bisa konslet semua. Kita bersihkan debunya pakai vacum cleaner dan bagian-bagian yang harus dilindungi, ditutup pakai plastik,”kata Buntoro yang menginformasikan juga bahwa ada karyawannya yang rumahnya hilang tertutup debu Merapi.

Buntoro mengatakan agar produktivitas terus berjalan, maka perlu mengamankan persediaan bahan baku. Maksudnya adalah agar bahan baku ini tidak sampai terlambat, bila terjadi hal-hal di luar kendali. ”Kedua, kita terus menerus memantau kesehatan karyawan. Karyawan harus pakai masker, supaya kalau ada apa-apa produktivitas karyawan tidak menurun. Saya pikir yaitu menjaga tempat kerja agar selalu sehat. Hal-hal normatif saja yang kita lakukan,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman lalu menangani dampak gempa di Yogyakarta, Buntoro mengatakan bahwa karyawan MAK sudah tahu apa yang perlu dilakukan dalam situasi seperti ini. Salah satunya adalah tetap bekerja, bahkan karyawan yang kena dampak bencana langsung, juga tetap bekerja. ”Buat apa juga bengong di pengungsian, mendingan kerja saja,” komentar Buntoro. Menurutnya, MAK mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa diakibatkan oleh dampak abu Merapi itu. Begitu pula dengan produktivitas perusahaan. ”Kita tekankan perlu lebih rajin lagi dan mereka juga tahu dari pengalaman gempa,” tegas Buntoro.

Titik pengungsian tersebar di banyak tempat, namun ada pula yang tidak tersentuh bantuan pemerintah atau Satkorlak. ”Kita kan swasta menyumbang Rp 10 atau 20 juta juga sudah banyak. Tapi kebutuhan begitu besarnya, jadi berapa pun yang kita sumbangkan tidak mempunyai dampak signifikan. Mungkin untuk memperingankorban-korban bencana yang kita pilih, korban yang betulbetul di luar jangkauan donatur dan satkorlak,” ujar Buntoro.

”Kita melibatkan karyawan untuk ikut berperan serta membagikan logistik. MAK Working Grup on Disaster. Jadi kita terangkan bahwa di saat bencana seperti ini, kita musti kerja lebih keras lagi supaya bisa menghasilkan uang lebih banyak, dan menyumbang lebih banyak lagi,” MAK mendistribusikan keperluan logistik antara lain selimut, sarung, pakaian dalam wanita, pembalut wanita, susu bayi, pampers, alat dapur umum (dandang, penggorengan besar), dan sembako.

Menurut Buntoro, Bangsa Indonesia harus belajar dari Jepang karena alam Jepang jauh lebih berisiko dibandingkan ring of fire (gugusan gunung berapi/aktif) di Indonesia ini. Sedangkan di Jepang, selain rawan gempa bumi juga rawan terhadap taifun atau topan. ”Jepang ini bisa survive menghadapi begitu banyak ancaman alam. Kalau kita belajar bagaimana hubungan industrial karyawan di Jepang. Ini yang saya ketahui dulu, tidak tahu sekarang ya. Begitu eratnya ikatan antara karyawan dan perusahaan,” kata Buntoro.

”Jadi, bagaimana orang-orang Jepang bekerja seolah-olah tanpa kenal lelah. Itu bukan tanpa tujuan dan bukan sekadar loyalitas, tapi juga mempersiapkan diri jika terjadi bencana, perusahaan sudah punya tabungan,” jelas Buntoro. Ia berkisah, pernah ada satu pabrik hancur karena gempa di Jepang namun perusahaan tersebut masih bisa menggaji karyawannya di saat masa rekonstruksi pabriknya.

”Kalau tidak punya tabungan yang cukup kan tidak mungkin. Nah, kerja keras itu kan bukan hanya untuk memperkaya karyawan saja, tapi juga untuk memperkuat cadangan perusahaan, agar bisa menjadi sumber penghasilan bagi karyawan yang mengalami disaster juga,” Buntoro mengutarakan alasannya, menurutnya segala sesuatu itu harus dipersiapkan.

”Saya lihat di Jepang menerapkan hal seperti itu, sehingga terjadi disasterpun, selama perusahaan punya tabungan untuk menggaji karyawannya ya mereka lakukan. Tampaknya karyawan tahu akan hal itu sehingga karyawan pun bekerja sepenuh hati dan sekuat tenaga, agar perusahaan bisa punya tabungan yang nantinya berguna bila terjadi disaster,” komentar Buntoro.

Begitu pun dengan MAK, Buntoro mengatakan bahwa MAK pasti punya tabungan untuk keadaan terjelek. ”Misalnya MAK bangkrut, kita masih bisa kasih pesangon mereka dan itu (tabungan, red) tidak bisa diganggu gugat. Kita siapkan, dengan niat yang baik maka segala sesuatunya akan mulusmulus saja, akhirnya pun akan baik-baik saja,” katanya dengan optimis.

Bencana alam adalah kejadian yang tidak terhindarkan. Penyebabnya beragam, bisa karena ulah manusia atau memang sudah seharusnya terjadi. Namun, apa pun bentuknya, ternyata ketenangan menghadapi dampak bencana alam tetap bisa membuahkan produktivitas. ”Walaupun dalam keadaan bencana tetap biasa saja, tetap tenang, biasa- biasa saja. Seperti biasa saja bekerja. Wajar saja,” tutup Buntoro dengan santai.

“Bangsa Indonesia harus belajar dari Jepang karena alam Jepang jauh lebih berisiko dibandingkan ring of fire di Indonesia” –Buntoro–