Social Network Analysis untuk Mendeteksi Penyakit Perusahaan

Social Network Analysis (SNA) diyakini dapat membantu perusahaan mendeteksi sumber masalah. Dengan begitu, manajemen dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Wahyudi baru beberapa minggu bergabung di suatu perusahaan. Namun, ia mengamati bahwa karyawan di tempatnya bekerja sulit mencapai key performance indicator (KPI) yang baik. Ia juga merasakan bahwa teamwork di perusahaannya sangat lemah. Melihat kondisi tersebut, Wahyudi tak tinggal diam. Ia mulai berkomunikasi dengan para staf dan manajer di perusahaan tersebut. Hasil yang diperoleh cukup mengagetkan. Staf baru ini menemukan bahwa karyawan merasa tidak nyaman untuk bertanya apalagi meminta nasihat kepada atasannya masing-masing.

Setelah diselidiki, ternyata struktur organisasi di perusahaan tersebut hanya berfungsi sebagai reporting level atau performance evaluation. Sementara untuk penyelesaian tugas-tugas dan fungsi seperti coaching dan mentoring, bisa dikatakan tidak berjalan lagi. Untuk mengetahui lebih jauh masalah yang sebenarnya, Wahyudi tergerak untuk menelusuri siapa orang-orang kunci di perusahaannya. Bisa jadi, orang yang dimaksud tidak menduduki jabatan struktural di organisasi tetapi punya pengaruh yang sangat kuat. Upaya yang dilakukan Wahyudi disebut social network analysis atau disingkat SNA.

Apa yang dimaksud dengan SNA? Mathias Dharmawirya dari KM Plus Learning-Lead menjelaskan, SNA adalah tool yang bisa diibaratkan seperti alat diagnosa. Alat diagnosa ini akan menghasilkan sebuah corporate x-ray berupa network map yang merepresentasikan hubungan kerja karyawan dalam lingkup pekerjaannya sehari-hari. Untuk lebih memahaminya, Anda bisa membayangkan SNA seperti proses pemeriksaan kesehatan (medical checkup). Selesai melakukan medical checkup, biasanya pasien akan memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatannya. Bila memang ada penyakit yang membahayakan pasien, dokter akan segera memberitahu jenis penyakit dan cara menyembuhkannya.

Demikian pula dengan SNA yang menurut Mathias dapat membantu perusahaan mengetahui masalah (penyakit) di organisasinya. Salah satu masalah yang bisa dideteksi melalui SNA adalah mencari orang-orang sentral di suatu departemen yang menjadi penghubung dengan orang-orang lainnya. ”Orang ini bisa digambarkan seperti konektor, yang memiliki pengaruh sangat kuat ke orang-orang di sekitarnya sehingga pendapatnya selalu didengar,” ujar Mathias menjelaskan. Dalam banyak kasus, bila banyak pekerjaan menumpuk di orang ini, maka akan terjadi bottleneck.

Managing Partner KM Plus Learning- Lead Alvin Soleh menambahkan, SNA juga bisa dimanfaatkan untuk proses regenerasi. Dalam hal ini pemilik perusahaan menggunakan SNA untuk mendapatkan talent yang dikehendaki, sekaligus memetakan orang-orang di posisi kunci. ”Biasanya perusahaan mampu memotret karyawan terbaik atau yang dianggap sebagai talent. Barangkali ada karyawan di luar talent dan tidak menduduki jabatan struktural yang – bisa jadi – selama ini melakukan pekerjaan penting (kritikal) namun terabaikan,” ungkap Alvin. Selain itu, SNA juga dapat digunakan untuk menentukan champion dan mengevaluasi tingkat efektivitas aliran informasi dalam sebuah Community of Practice (CoP).

Mathias menimpali dengan memberi sebuah contoh. ”Misalnya orang yang sudah bekerja selama puluhan tahun di sebuah perusahaan. Mungkin saja orang ini tidak memegang jabatan penting, tetapi keberadaannya sangat diperlukan oleh perusahaan,” katanya. Orang-orang seperti ini kendati tidak masuk dalam kategori talent, di mata Mathias tetap memiliki peran yang besar sehingga perusahaan perlu memerhatikan dan mempertahankannya.

Selanjutnya, perusahaan dapat memberdayakan orang-orang tersebut untuk meningkatkan motivasi karyawan lain. Umpamanya, membuat suatu kegiatan atau acara yang melibatkan seluruh karyawan. Karena itu Mathias optimistis hasil pemetaan SNA dapat mendorong manajemen mengajukan pertanyaan yang tepat kepada karyawan.

Mengingat pentingnya kebijakan dalam menempatkan orang yang benar di posisi yang tepat, dan pentingnya peningkatan efektivitas CoP, tak berlebihan bila Mathias merekomendasikan perusahaan untuk menerapkan SNA di lingkungan masing-masing.