Pekerja Indonesia Terlalu Dimanjakan

Hal ini dinilai Ahmad S. Ruky, seorang konsultan sumber daya manusia (SDM) yang kini menjabat sebagai managing partner Mitra Cipta Solusi, sebuah biro konsultasi organisasi dan pengembangan SDM. Keresahan bagi perusahaan mengingat yang dampak kenaikan BBM berpengaruh kepada beban perusahaan. Ujung-ujungnya adalah uang.

“Apalagi industri yang menggunakan BBM sebagai sumber energi,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Direktur PT. Daimler Chrysler Indonesia, produsen mobil Mercedez Benz. Sementara dari pihak pekerja, kondisi ini semakin memperburuk mengingat biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan yang diterima tidak mencukupi. Untuk transportasi, mereka terpaksa mengeluarkan biaya hampir dua kali lipat dari sebelum BBM naik. “Jangankan pada level bawah, pada level menengah saja biaya ini sangat dirasakan juga.”

Padahal, sudah 2-3 tahun belakangan ini, Ruky mengamati bahwa lebih dari 75% perusahaan di Indonesia sudah melakukan gerakan efisiensi seperti restrukturisasi atau rasionalisasi yang intinya pengurangan pegawai. Belum lagi persaingan yang demikian ketat. Perusahaan pun juga banyak melakukan aspek operasional perusahaan. Misalnya, dengan meng-outsource pekerjaan yang bukan core business-nya sehingga beban biaya bisa ditekan seminim mungkin. Semua hal yang terkait dengan strategi bisnis juga dilakukan oleh beberapa perusahaan, misalnya dengan melakukan perubahan struktur organisasi. Menurutnya, jika hal ini terus terjadi, tingkat menjadi tinggi selama pemerintah tidak berusaha memperbaikinya.

Beberapa hal yang harus dikerjakan pemerintah di tahun depan di antaranya adalah revisi UU tenaga kerja dan UU perpajakan, dan menciptakan lapangan kerja. Sayangnya, lapangan kerja di Indonesia hingga kini masih terbatas. Persaingan yang ketat mengingat sekitar 200.000 orang pencari kerja setiap tahunnya. Belum lagi persaingan global sudah diberlakukan. Mau tidak mau perusahaan harus berusaha seefisien mungkin.

Karena itu, investor harus ditumbuhkan semangat untuk investasi di Indonesia. “Kalau investor datang dan membuka pabrik baru, maka akan banyak terserap tenaga kerja,” imbuh peraih gelar Doktor dari Technological University of The Philippine. Tugas pemerintah saat ini adalah memasarkan Indonesia mengingat banyak kesulitan investor berinvestasi seperti perijinan, keamanan, infrastruktur, perlindungan hukum. “Sekarang ini banyak investor yang lebih memilih tempat yang lain seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, atau India.”

Belum dari segi aspek regulasi yang dianggap terlalu protektif dan memberatkan pengusaha. Bahkan menurut International Labor Organization (ILO), Peraturan di Indonesia di mata para investor asing sama buruknya dengan Spanyol dan Portugal, kedua negara yang dianggap paling terbelakang di Eropa dalam hal regulasi. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lain, seperti Singapura, Malaysia atau India, Indonesia jauh di bawah negara-negara tersebut.

Hasil penelitian ILO pula, produktivitas tenaga kerja Indonesia juga terendah di Asia. Sebagai perbandingan, untuk sebuah pekerjaan yang sama jenisnya, memerlukan waktu 8 jam untuk Indonesia, Thailand hanya menghabiskan waktu 4 jam, Malaysia 1,5 jam, dan Singapura hanya 30 menit.

Ia mengakui, selama ini tenaga kerja Indonesia terlalu dilindungi sehingga membuat tenaga kerja Indonesia “dimanjakan” oleh pemerintah, dalam hal perlindungan hukum.” Siapapun yang terlalu dilindungi, cenderung akan manja sehingga produktivitas tenaga kerja menjadi kurang.”