Mempertahankan Keuntungan Lewat Vaksin

Asal tahu saja, alasan terbanyak karyawan tidak masuk kerja, lantaran terserang penyakit flu atau influenza. Sebab, penyakit yang disebabkan oleh virus itu ternyata penyumbang angka absensi terbesar di banyak perusahaan. Sekitar sepuluh hingga dua belas persen dari total absensi karyawan di seluruh dunia dikarenakan penyakit yang identik dengan musim hujan tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Sudirto, Chief Human Capital Officer Charoen Pokphand Group Indonesia saat acara seminar Corporate Life Enrichment di Hotel JW Marriott, Jakarta awal bulan lalu. “Flu atau influenza adalah penyebab 10-12% absensi karyawan di seluruh dunia,” ungkapnya. Hal ini diakui pula oleh ahli pulmonology dari Universitas Indonesia, dr Tjandra Yoga Adhitama. “Survei di lima perusahaan di Indonesia, prevalence infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sampai 41,5 persen,” katanya pada kesempatan acara yang sama.

Flu adalah salah satu penyakit yang termasuk dalam ISPA. Tjandra mengatakan dampak ekonomi akibat flu sangat besar.  Perusahaan merugi akibat karyawannya tidak masuk kerja. “Biaya tidak langsung karena flu adalah absen dan hilangnya produktivitas,” ungkapnya.

Sementara CEO PortalHR.com Nukman Luthfie menyampaikan bahwa perusahaan asuransi di luar negeri sudah meng-cover mengenai vaksinasi. Sedangkan di Indonesia sendiri diakuinya belum. Pemberian vaksin ini, menurut Nukman, janganlah dipandang dari kacamata kesehatan semata. Dengan karyawan yang sehat maka produktivitas dan proses produksi perusahaan bisa terus terjaga. “Ini ilmu baru. Kesehatan bisa dikaitkan dengan benefit perusahaan,” katanya.

Nukman mengatakan prevalensi flu di perusahaan di Indonesia adalah 40 persen per tahun. Jika ada 100 karyawan di suatu perusahaan maka, 40 diantaranya pernah tidak masuk bekerja karena flu. Efektivitas vaksinasi flu sudah terbukti. Nukman mencontohkan, di Indonesia ada perusahaan makanan unggas yang absensinya turun hingga lebih dari 40 persen.

“Sebelum vaksin 72 persen absen dalam setahun. Sesudah divaksin turun jadi 27,72 persen,” ujarnya. Nukman sekali lagi menekankan pentingnya vaksinasi bagi keuangan perusahaan. Pemberian vaksin yang hanya 1 kali setahun lebih hemat daripada mengeluarkan biaya berobat bagi karyawan. “Sekali suntik hanya Rp 121 ribu. Coba bandingkan dengan satu kalo biaya berobat spesialis sekitar Rp 100 ribu. Belum lagi obatnya. Malah lebih mahal kan,” tuturnya.

Bagi Johny Sulistio selaku dokter perusahaan PT Unilever menyatakan selain manfaat ekonomi, vaksinasi flu juga membawa manfaat sosial. Karyawan akan merasakan kepuasan saat bekerja. “Ada sentuhan di sana. Bagaimana agar karyawan bisa puas dan bertahan lebih lama,” katanya.

Johny lalu mencontohkan perusahaannya yang sudah menjalankan kebijakan rutin vaksinasi flu rutin tiap tahunnya. Waktu itu vaksinasi dilakukan sebelum Jakarta dilanda banjir tahun ini. Di kala banyak orang terkena flu karena efek banjir, Johny mengatakan, rekan-rekannya di tempat bekerja sehat-sehat saja. “Di Unilever juga diadakan acara-acara seperti Fruit Day dan Vegetable Day, yang tujuannya untuk meningkatkan kesehatan karyawan,” ujarnya.

Saatnya Corporate Life Enrichment

Dewasa ini, ada kecenderungan yang menggembirakan dalam upaya umat manusia terus-menerus meningkatkan kualitas kehidupan, di mana kesadaran tersebut tidak hanya tumbuh dalam taraf individu melainkan juga perusahaan. Semakin banyak perusahaan yang lebih menyadari bagaimana memanfaatkan perspektif dan pengetahuan baru untuk kehidupan yang sejahtera, terutama bagi karyawan mereka.

Tingginya tingkat absensi karyawan merupakan salah satu indikator kualitas hidup yang rendah. Selama hal itu masih menjadi isu besar di tempat kerja, perusahaan harus menyadari, bahwa sudah saatnya melakukan corporate life enrichment.

Corporate life enrichment adalah upaya meningkatkan baik produktivitas maupun anggaran agar perusahaan mendapatkan keuntungan dan nilai tambah. Life enrichment sendiri juga merupakan investasi bagi masa depan perusahaan. Dunia bisnis perlu mengupayakannya untuk mengurangi angka absensi karyawan yang disebabkan sakit, dan mengurangi gangguan-gangguan lain dalam proses bisnis.

“Health economy adalah ilmu baru yang harus diperkenalkan kepada perusahaan. Karena kesehatan dan pencegahan penyakit selalu dipandang oleh perusahaan sebagai cost. Padahal kalau dihitung, kerugian dan biaya akan lebih besar bila karyawan sakit. Selain biaya pengobatan yang tidak murah, perusahaan juga menderita kerugian dengan turunnya produktivitas apabila karyawan tidak masuk,” ujar Johnie Sulistio, dokter perusahaan Unilever Indonesia yang menjadi moderator diskusi panel pada acara seminar bertajuk ”Corporate Life Enrichment” yang diadakan oleh PortalHR.com dan Majalah HC di Hotel JW Marriott Jakarta pada awal bulan lalu.

Acara seminar dan exhibition yang dihadiri lebih dari 150 peserta itu dibuka oleh Malla Latif dari majalah Human Capital. Sesi awal diisi oleh David Tampubolon dari Unilever Indonesia yang menyampaikan makalah Optimizing Workforce Productivity with Healthy Working Life, Camille de Lataillade dari Sanofi Pasteur, Prancis dengan presentasi tentang Health Economics Principle: Cost Saving Through Prevention Program; dan, dr Tjandra Yoga Adhitama SpP, Pulmonologist dari FK-UI yang membagi ilmu kedokteran yang berhubungan dengan kesehatan di tempat kerja.

Sesi selanjutnya adalah testimony dari beberapa perusahaan yang sudah menerapkan vaksinasi kepada karyawan yang dilanjutkan dengan diskusi panel. Sudirto, Chief Human Capital Officer Charoen Pokphand Group Indonesia dan Elaine C. Engel, HR Director Schneider Indonesia memberikan berbagai fakta menarik yang ditemui di lapangan dalam pelaksanaan vaksinasi kepada karyawan. Diskusi panel tersebut dimoderatori oleh dr Johny Sulistio dari Unilever Indonesia.

Sudirto memaparkan bahwa program vaksinasi, khususnya vaksinasi flu yang dilakukan di Charoen Pokphan berhasil mengurangi jumlah absen sakit sebesar 44%. Pada tahun 2006 sebelum vaksin, sebanyak 579 karyawan absen sakit (72,28% dari 801 karyawan). Setelah vaksin angka itu turun menjadi 222 karyawan absen sakit. Vaksinasi flu dipilih karena flu atau influenza adalah penyebab 10-12% absensi karyawan di seluruh dunia.

Penurunan jumlah absensi ini juga diikuti dengan peningkatan produktivitas. Hasil penelitian di Charoen Pokphan menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 38,51% sesudah vaksin, yang ditunjukkan dengan jelas oleh meningkatnya produksi telur per hari.

Terakhir, seminar yang disponsori perusahaan farmasi Sanofi Pasteur ditutup dengan Interactive Talkshow yang sangat menarik dengan narasumber Alexander Sriewijono, pendiri Daily Meaning dan juga penyiar di Cosmopolitan FM untuk acara Cosmo Career Program. Alex menceritakan hasil survey kecil yang dilakukannya di Cosmopolitan FM yang menemukan fakta-fakta menarik tentang karyawan yang sering tidak masuk kantor.