Bayang-bayang Sulit Ketenagakerjaan 2006

Tulisan tentang kisah sedih tentang karyawan yang terkena PHK di media massa sudah menjadi bacaan sehari-hari di republic ini. Jauh sebelum kenaikan harga BBM awal Oktober lalu, gelombang PHK telah melanda industri perkayuan karena kayunya habis dan industri padat karya macam tekstil, garmen, dan sepatu kalah bersaing dengan produk Cina. Setelah harga BBm dinaikkan, gelombang PHK diperkirakan kembali meningkat karena dampaknya yang sangat signifikan terhadap biaya produksi atau operasional perusahaan. Hampir seluruh biaya operasional perusahaan naik pasca kenaikan harga BBM, mulai dari bahan baku hingga tenaga kerja dan transportasi. Ditambah lagi dengan kenaikan suku bunga, maka lengkaplah kenaikan biaya di dalam menjalankan usaha.

Tidak ada data resmi PHK yang bisa dijadikan patokan. Menurut konsultan hokum ketenagakerjaan Kemalsjah Siregar dari Kemalsjah Cemby & Avriline, mencari data PHK di Indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. “Belum banyak yang peduli tentang hal ini,” ungkapnya. Walaupun firma hukumnya banyak menangani kasus PHK, Kemal merasa tidak enak menghitung jumlah orang yang di PHK.

Data dari Biro Pusat Statistik (BPS) sebagai satu-satunya sumber data resmi di Indonesia hanya mengungkapkan tentang tingkat pengangguran terbuka yang terus meningkat. BPS mencatat , seperti yang disampaikan Kepala BPS Choiril maksum kepada pers, Jumlah pengangguran terbuka pada bulan Oktober diperkirakan mencapai 11,6 jutaorang atau 10,84% dari total angkatan kerja yang ada, yakni 106,9 juta orang.

Dibandingkan kondisi Maret 2005, jumlah pengangguran terbuka itu meningkat 700.000. Pada saat itu, jumlah pengangguran terbuka baru 10,9 juta orang atau 10,26% dari angkatan kerja saat itu sebesar 105,8 juta orang.

Kenaikan Jumlah pengangguran terbuka sebesar 11.6 juta orang itu diperhitungkan setelah adanya kenaikan BBM bulan Oktober 2005. Tanpa memperhitungkan dampak kenaikan harga BBM, lanjutnya, jumlah pengangguran bulan Oktober hanya 11,2 juta orang. “Kenaikan harga BBM berpotensi menciptakan tambahan pengangguran baru 426.000 orang,” ujarnya.

Berdasarkan prognosa ini, jumlah pengangguran terbuka bisa terus bertambah mencapai 12 juta orang sepanjang 2005. Kemungkinana naiknya jumlah pengangguran terbuka ini sangat besar karena banyak perusahaan yang mengaku kesulitan menghadapi kenaikan biaya-biaya langsung maupun tak langsung. Dari Jawa Barat dilaporkan, 60 industri tekstil yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor TPT (tekstil dan produk tekstil) Indonesia berenvana melakukan PHK sebanyak 45.000 tenaga kerja hingga akhir 2005. Jumlah tersebut sekitar 6 % dari total karyawan yang bekerja di industri propinsi itu sebesar 700.000 orang.