Karir Melesat karena “Dekat” dengan Bos

Pertanyaan :

Bagaimana cara menghadapi pegawai yang untuk meningkatkan jenjang karirnya dengan cara "mendekati" pimpinan perusahaan, dan hal itu berhasil. Bagaimana saya (bidang HRD), harus bersikap karena begitu banyak aturan jenjang karir pegawai yang telah ada sama sekali tidak berlaku. Hal ini juga menimbulkan kecemburuan pegawai lain, sehingga membuat lingkungan kerja jadi tidak nyaman. Karena perlakuan peningkatan karir ybs sangat mencolok dan dirasa tidak adil. 1.    Bagaimana menghadapi pimpinan seperti ini? 2.    Bagaimana menghadapi ybs, karena "kedekatan" mereka sudah menjadi "rahasia umum." 3.    Bagaimana menghadapi ybs, yang seringkali memanfaatkan jabatannya yang baru meminta hasil kerja pegawai lain dan mengakui bahwa "itu hasil kerjanya pribadi" kepada pimpinan? Saya sangat mengharapkan saran dari Bapak, untuk itu saya ucapkan terima kasih. Salam,


Jawaban :

Jawaban:

Permasalahan seperti ini sering kali terjadi di berbagai organisasi, tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia. Kami rasa permasalahan ini dikarenakan sifat alamiah hubungan antar manusia itu sendiri yang pada titik tertentu dapat mempengaruhi atasan dalam memberikan penilaian kepada bawahannya.

Potensi masalah ini dapat diperkecil jika saja perusahaan sudah dengan benar menentukan parameter penilaian kinerja dengan objektif yang tentu akan menjadi dasar peningkatan jenjang karir.

Penanganan kasus hubungan industrial seperti ini perlu dengan benar-benar melakukan dokumentasi dengan baik serta komunikasi yang “clear” kepada para pelaku dan para pihak terkait maupun seluruh karyawan atas masalah tersebut sehingga tidak terjadi salah persepsi hingga menimbulkan masalah baru.

Jika masalah ini telah menggangu kinerja karyawan yang ada, karyawan lainnya dapat membuat aduan kepada manajemen tertinggi atau unit terkait untuk menjadi masukan manajemen dalam melakukan langkah-langkah selanjutnya seperti memanggil pihak-pihak terkait untuk meminta pertanggungjawaban serta membuat komitmen perubahan sikap/perilaku.

Dan apabila komitmen dalam jangka waktu tersebut tidak dipenuhi, tentu ada konsekuensi yang juga dapat diajukan manajemen terhadap perilaku tersebut. Dalam hal ini, pengalaman saya, para “pelaku” dapat mendapatkan konsekuensi berupa rotasi/mutasi ke divisi atau tempat kerja yang berjauhan antara satu dengan yang lain, hingga konsekuensi terberat yakni pemecatan salah satu dan/atau keduanya jika benar-benar tidak menunjukkan perubahan ke arah positif dan telah mengganggu kenyamanan lingkungan kerja dalam organisasi.

Tags: , ,