Kasus Unik Berkaitan dengan THR

Pertanyaan :

Ada karyawan kami yang sebelumnya beragama Hindu dan sudah menerima THR pada saat Nyepi, Maret lalu. Kemudian dia menikah dan pindah agama mengikuti suami menjadi Islam. Kebetulan perpindahan agama ini terjadi pada Mei, sehingga pada September ini namanya muncul kembali dalam daftar karyawan beragama Islam yang menerima THR. Apakah karyawan ini tetap entitle untuk THR Lebaran? Apabila tidak, bagaimana seandainya keadaan ini dibalik, apabila pada 2009 dia bergama Kristen dan menerima THR pada Desember (Natal), kemudian menikah dan pindah agama ke Hindu, apakah dia entitle lagi untuk menerima THR pada saat Nyepi (Maret 2010)?


Jawaban :

Ketentuan THR mengacu pada Peraturan Menaker per 04/Men/1994. Pada Pasal 2 ayat 2 disebutkan bahwa THR diberikan satu kali dalam 1 tahun. Implementasinya:

— Untuk kasus yang pertama, karyawan yang pada Maret 2009 telah mendapat THR maka dia tidak mendapatkan THR pada September 2009. Dia akan mendapat THR Lebaran untuk tahun berikutnya (2010)
— Untuk kasus kedua, misalnya karyawan telah mendapat THR Natal pada Desember 2009 dan dia pindah ke agama Hindu, maka pada Maret 2010 saat Nyepi dia mendapat THR untuk Nyepi (karena tidak pada tahun yang sama)

Sekaligus menjawab pertanyaan dari Lusy – Petrolink, Jakarta:

Bagaimana menghitung THR untuk karyawan yang menerima THR secara pro-rate? Misalnya karyawan bekerja pada 6 November 2008; berapa THR yang akan diterimanya sebagai THR 2009? Apakah yang dipakai sebagai dasar penghitungannya? Maksud saya, apakah 6 November dihitung sampai dengan 20 September atau bagaimana? (Bukan metode penghitungannya).

Jawab:

— Penghitungan THR pro-rata dihitung dari karyawan mulai bekerja s/d tanggal hari raya.
— Dasar penghitungan THR adalah gaji pokok ditambah tunjangan tetap.
— THR diberikan selambatnya seminggu sebelum hari raya
— Selengkapnya bisa Anda lihat di Keputusan Menteri no 04 tahun 1994.