The Dream Team

Lupakan sejenak mengenai batalnya konser Lady Gaga karena banyak hal yang jauh lebih penting. Kali ini saya ingin membahas mengenai ributnya issue interpelasi dari DPR kepada meneg BUMN dan berkaitan dengan Kepmen BUMN No. KEP-236/MBU.2011 yang intinya memangkas birokrasi di BUMN.

Isi dari Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-236/MBU/2011 di antaranya adalah tentang Pendelegasian Sebagian Kewenangan dan/atau Pemberian Kuasa Menteri Negara BUMN sebagai Wakil Pemerintah selaku Pemegang Saham/RUPS pada Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perseroan Terbatas serta Pemilik Modal pada Perusahaan Umum (Perum) kepada Direksi, Dewan Komisaris/Dewan Pengawas dan Pejabat Eselon I di Lingkungan Kementerian BUMN.

Melalui Keputusan Menteri BUMN itu, penunjukan direksi dapat dilakukan tanpa melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS). Penunjukan direksi BUMN juga dapat dilakukan tanpa melalui Tim Penilai Akhir (TPA). Direksi BUMN dapat dipilih kembali untuk masa jabatan ketiga. Buntut dari penerbitan KepMen tersebut maka sebanyak 38 anggota Komisi VI menandatangani persetujuan hak interpelasi kepada Meneg BUMN.

The Dream Team

Mengapa Meneg BUMN mengeluarkan KepMen tersebut sebenarnya jika kita benar-benar memikirkan kemajuan Indonesia, mudah sekali dipahami alasannya, pertama adalah memangkas birokrasi, kedua karena selama ini BUMN sering menjadi sapi perahan partai dan para politikus, di samping tentunya terjadinya pertentangan kepentingan karena Tim Direksi dari suatu BUMN seringkali gagal mewujudkan performance terbaiknya sebagai tim yang solid karena direksi BUMN kebanyakan tidak dipilih oleh Direktur Utamanya melainkan didorong dari afiliasi kepentingan partai dan golongan tertentu.

Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan Meneg BUMN selalu menyuarakan bagaimana dia memimpikan BUMN Indonesia dapat menjadi The Dream Team. Istilah The Dream Team sendiri lebih banyak diperkenalkan di bidang olah raga seperti Tim Basket Amerika di Olympiade tahun 1992. Pada saat itu Amerika menurunkan hampir semua pemain terbaiknya yang diambil dari laga NBA diantaranya Michael Jordan dan Scottie Pippen dari Chicago Bulls, John Stockton dan Karl Malone dari Utah Jazz, Magic Johnson dari Los Angeles Lakers, Larry Bird dari Boston Celtics, Patrick Ewing dari New York Knicks, Chris Mullin dari Golden State Warriors, David Robinson dari San Antonio Spurs dan Charles Barkley dari Philladephia. Bisa dipahami bagaimana jika mereka bisa tampil sangat fenomenal di Olympiade tersebut.

6 Faktor High Performance Organization

Pertanyaan yang langsung terlintas di pikiran kita adalah benarkah membentuk the dream team akan menjamin kinerja yang luar biasa dari suatu perusahaan? Banyak sekali yang menulis mengenai bagaimana membentuk tim yang mampu menghasilkan kinerja yang super, setidaknya ada enam hal yang penting yang harus diperhatikan dalam membentuk high performance organization.

Yang pertama adalah memiliki common purpose atau tujuan bersama yang jelas dan selaras, kedua memliki clear roles atau kejelasan peran antar tim kerja, ketiga adalah accepted leadership berupa penerimaan kepemimpinan untuk suatu peran tertentu, keempat effective process berupa kejelasan semua proses kerja dengan hal-hal yang bersifat inovatif, kelima adalah solid relationship yaitu mengetahui dengan baik sifat dan karakter tim kerja termasuk mengerti dengan baik kelebihan dan kelemahan rekan kerja, dan keenam adalah excellent communication yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dengan sangat baik termasuk menjelaskan peran dan sasaran kerja serta menyelesaikan potensial konflik antar team dengan baik.

Dari keenam hal tersebut jelas dapat ditarik suatu benang merah bahwa kesempatan tim yang sudah saling mengerti dan sudah memiliki pengalaman dan pemahaman yang baik mengenai kelebihan dan kelemahan masing-masing yang akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi tim yang mampu menghasilkan high performance dan menjadi The Dream Team.

Mungkin itu sebabnya Meneg BUMN yang pernah secara langsung membesarkan bisnisnya di Group Jawa Pos sangat mengerti dan menjelaskan di berbagai kesempatan termasuk di PortaHR Summit 2012 bahwa yang terpenting adalah memilih Direktur Utamanya terlebih dahulu dan selanjutnya memberikan keleluasaan kepada Dirut untuk memilih team kerjanya dari talent pool yang ada di Kementrian BUMN.

Di organisasi terkemuka seperti Facebook Mark Zuckerberg membentuk dan memilih Dream Team-nya sendiri yang terdiri dari Marc L. Andreessen, Erskine B. Bowles, James W. Breyer, Donald E Graham, Reed Hastings, dan Peter A. Thiel.

Bill Gates sebagai Chairman dan ex CEO dari Microsoft juga memilih Direksi dan bahkan CEO penggantinya Steve Ballmer, disamping direksi- direksi Microsoft lain yang meskipun berasal dari berbagai organisasi terkemuka tetapi dikenal dan dipilih langsung oleh Bill Gates seperti Dina Dublon, Raymond V. Gilmartin, Reed Hastings, Maria M. Klawe, David F. Marquardt, Charles H. Noski, Helmut G. W. Panke, dan John W. Thompson.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah ada referensi perusahaan Indonesia yang memenuhi kriteria The Dream Team, saya ambil contohnya adalah Bank Tabungan Pensiunan Nasional. Kenapa saya ambil PT BTPN?  Karena saya mengetahui dengan persis sejarah terbentuknya The Dream Team yang ada di BTPN saat ini karena memang tugas saya membantu terbentuknya The Dream Team BTPN pada era baru BTPN di sekitar tahun 2008.

The Dream Team BTPN memang dipilih dan diseleksi secara sadar oleh Direktur Utamanya Jerry Ng, yang secara langsung mendesain dan memilih boardnya yang memiliki keahlian masing masing secara khusus dan ia kenal dengan latar belakang karakter pribadi dan kinerjanya dengan sangat baik. Timnya terdiri dari Ongki W. Dana, Djemi Suhenda, Anika Faisal, Karim Siregar, Arief Haris, Hadi Wibowo, Mahdi Syahbuddin, Mulia Salim dan Asep Nurdin.

Dari proses take over BTPN di tahun 2008 kinerja BTPN sangat dahsyat bergerak meroket dari asset yang hanya sekitar 13.67 trilyun menjadi hampir 46.65 trilyun rupiah pada akhir tahun 2011 dan pencapaian asset 48.87 trilyun pada bulan April 2012 lalu. Atas pertumbuhan kinerjanya yang prima, pada akhir 2011 BTPN memperoleh penghargaan Asean Business Award : Most Admired Enterprise untuk kategori “Growth” yang dianugerahkan oleh ASEAN Business Council. BTPN menempati posisi kedua setelah Charoen Phokphand.

Akhirnya saya ingin menggaris bawahi kembali merujuk kepada buku The Wisdom of Teams: Creating the High-Performance Organization (Collins Business Essentials) yang ditulis oleh Jon R. Katzenbach , Douglas K. Smith bahwa unsur utama yang paling penting dari pembentukan suatu tim yang berkinerja super adalah pemimpinnya atau leadernya, kemudian leader harus mampu memilih, membentuk hingga memfasilitasi timnya dengan baik. Untuk hasil terbaik memang akan lebih baik membentuk tim yang sangat solid di area yang sangat memberikan impact kinerja yang paling dahsyat untuk Perusahaan.

Saya terus mengamati pergantian-pergantian Direksi BUMN besar mulai dari Garuda yang menuai perdebatan karena perpanjangan Dirutnya, PTPN yang diarahkan berbentuk holding, Pertamina yang menuai banyak sekali perdebatan, Telkom dan anak perusahaannya Telkomsel yang akhirnya diputuskan setelah lama terkatung katung, Merpati yang diributkan dan dianggap kontroversial sangat menyadari bahwa pertarungan keinginan untuk membentuk The Dream Team yang diharapkan oleh pak Dahlan kelihatan akan terus menuai badai melawan kepentingan dari kekuatan-kekuatan politik dan golongan.

Sebagai pengamat HR dan organisai saya tentunya sangat berharap semoga suatu saat ada keinginan kuat dari Presiden Indonesia untuk benar-benar mengerti bagaimana pentingnya membuat suatu Tim yang berkinerja kuat dan dilepaskan dari kepentingan kelompok dan golongan untuk pada akhirnya menjadikan BUMN Indonesia mampu menjadi organisasi kelas dunia yang dapat dibanggakan oleh bangsa, negara dan rakyatnya. Kalau Malaysia dengan Khasanahnya dan Singapore dengan Temasek-nya mampu, kenapa kita tidak? Semoga!

*Penulis, N. Krisbiyanto adalah Senior Partner pada People Consulting

Tags: , , ,