Pursuit of "Happyness"

Beberapa waktu lalu, tak sengaja, saya menonton tayangan wawancara Will Smith di televisi kabel HBO. Dia sedang ditanyai wartawan seputar film terbarunya, <I>The Pursuit of Happyness</I>. Tertarik dengan judul film yang menurut saya aneh (sengaja dieja dengan salah: <I>happyness</i>), saya berharap bakal menemukan “kalimat yang layak kutip” dari mulut bintang film yang pernah memerankan Muhammad Ali ini.

<I>Bingo!</i> Rupanya saya tak cuma menemukan “kalimat yang layak kutip”. Setelah menyimak wawancara, menyaksikan potongan film juga komentar dari mereka yang terlibat dalam film tersebut saya mendapatkan sebuah “cerita utuh” yang sangat <I>inspiring</i>.

<I>The Pursuit of Happyness</i> adalah film arahan sutradara kelahiran Italia, Gabriele Muccino –lahir 20 Mei 1967 di Roma. Film yang dikategorikan sebagai <I>dramatic commedy</i> ini dibikin berdasarkan kisah nyata seorang pria kulit hitam bernama Chris Gardner.

Siapakah Chris Gardner? Dia hartawan dan pialang saham terkenal di Amerika. Jabatan resminya CEO Gardner Rich LLC. Biasanya kita mengenal seseorang setelah dia sukses atau kaya raya. Tapi, di balik kesuksesan dan kekayaannya, Chris Gardner mempunyai sejarah kepedihan hidup yang ingin ia bagi.

<I>The Pursuit of Happyness</i> menuturkan pahit getirnya perjalanan hidup Chris Gardner. Ia lahir dan tumbuh dalam kemiskinan, namun kemiskinanlah yang kemudian melecutnya untuk bangkit menjadi seorang pria dan ayah yang tangguh sekaligus sukses.

Kegagalan demi kegagalan yang dia alami saat membangun karir tidak mematahkan semangatnya, walau kemudian mematahkan semangat isterinya yang akhirnya meninggalkannya. Keadaan memaksanya menjadi orang tua tunggal bagi anak lelakinya yang ketika itu berusia lima tahun. Kehidupan yang semakin sukar tidak menyurutkan langkahnya. Kehilangan tempat tinggal dan hutang yang menggunung tidak pula membuatnya berputus asa.

Seperti diduga, pada akhirnya, Chris Gardner berhasil mengatasi berbagai rintangan dalam hidupnya dan tampil sebagai “pemenang”. Lelaki asal Milwaukee Wisconsin yang merantau ke Golden Gate City lalu hidup menggelandang di jalanan San Frasisco pada awal 80-an itu, kini menjadi pemilik perusahaan pialang saham beromset jutaan dollar dan disegani di Wall Street.

Walaupun <I>happy ending</i>, seperti lazimnya film besutan Hollywood, ini bukanlah kisah rekaan. Apa yang diceritakan di sini benar-benar terjadi. Alhasil, <I>The Pursuit of Happyness</I> bukan semata kisah gelandangan menjadi miliuner. Ini kisah tentang “manusia terpilih” yang mengejar impiannya dan sukses meraih kebahagian, walau jalan yang harus ditempuh tidak selalu mulus melainkan panjang dan berliku. Inilah yang saya sebutkan sebagai “cerita utuh” tadi.

<I>The Pursuit of Happyness</i> meyakinkan saya bahwa hidup tidak selalu mudah. Hidup tidak selalu menjanjikan kenyamanan. Kadang hidup sangat keras. Apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan harapan. Dalam hidup, ada saatnya kita merasa lelah, kehilangan harapan bahkan menyerah. Chris Gardner mencoba menunjukkan kepada kita bahwa untuk meraih sukses kita harus berani mencoba dan mencoba lagi. Yakin dengan apa yang dilakukan. Pantang menyerah. Bersabar. Dan, terus berusaha.

Dalam salah satu cuplikan film yang ditayangkan di sela wawancara Will Smith di HBO tadi, Chris Gardner menyampaikan sebuah pesan sarat makna kepada anaknya. Barangkali pesan ini disampaikannya pula untuk kita. Begini katanya, “<I>You got a dream, you gotta protect it. People can’t do something themselves, they wanna tell you that you can’t do it. You want something? Go get it. Period</I>.”

Boleh jadi saya sedang terpesona oleh Chris Gardner. Apa boleh buat. Tapi, saya setuju 100% dengannya; kalau Anda menginginkan sesuatu, kejar dan dapatkan.