Jangan Langsung Buang Ballpoint Sekali Buangmu

Setiap kali selesai mengajar di ruang-ruang yang menyediakan ballpoint dan notes berjumlah halaman tanggung, ballpoint-ballpoint yang ditinggalkan oleh peserta biasanya saya kumpulkan dan saya pakai kembali atau saya bagikan buat yang butuh. Bukan karena kikir atau tidak mau rugi, tapi rasanya sayang saja kodrat ballpoint-ballpoint itu hanya berumur sehari-dua, dan tintanya baru terpakai sedikit.

Di buku-buku business dressing & professional manner, konon katanya dosa besar bagi professional untuk menggunakan ballpoint sekali buang di hadapan mitra bisnis karena tidak menunjukkan ‘kelasnya’. Saya mem’balelo’kan diri bila itu dianggap sebagai hukum wajib, mungkin karena saya memang tidak berkelas, atau saya tidak meyakini alasan di balik statement tersebut.

Anyway, ballpoint-ballpoint sekali buang itu selalu saya perpanjang kodrat pengabdiannya hingga gurat tinta terakhir. Kemarin saat satu ballpoint hendak saya buang karena sudah almarhum, tiba-tiba terlintas pertanyaan ‘sederhana’: "ballpoint ini sudah saya pakai buat apa saja ya?"

Pikir punya pikir, saya mulai bisa menyebutkan beberapa diantaranya; tandatangan dokumen kantor, mencatat point-point meeting dengan klien, mereview draft kerjaannya team Daily Meaning, corat-coret tidak jelas tapi seru sama si kecil Kay, dan menulis notes untuk gurunya si sulung Zoe di kertas PRnya. Sejauh ini sih untuk kodrat si ballpoint yang akan saya buang itu, terisi dengan hal-hal yang penting dan bermanfaat.

Mudah-mudahan si ballpoint bisa rest in peace di peristirahatan terakhirnya karena tintanya tidak saya pakai untuk tanda tangan dokumen illegal, atau menuliskan kata-kata bodoh tidak ada juntrungannya, hujatan-hujatan kasar, atau bahkan gambar-gambar tidak senono Paling tidak (mudah-mudahan) saya bisa jadi ‘tuannya’ si ballpoint yang tidak akan diomongin di nerakanya para ballpoint.

Kalau si ballpoint tidak punya kontrol atas guratan-guratan tinta yang ditorehkan pemakainya, tidak demikian dengan hidup, pekerjaan dan hari-hari kita. Sempatkan waktu sejenak saat hari sudah akan habis berganti, untuk berpikir, sama seperti ketika akan membuang ballpoint yang sudah habis.

"Waktu yang saya punya hari ini sudah saya pakai buat apa saja ya?"
Seringkali kita mempermasalahkan bahwa waktu yang ada kurang untuk banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun jalan keluarnya ternyata bukan menambah waktu per harinya (yang tidak mungkin juga terjadi), tapi bagaimana menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya.
Hayooo…, pagi-pagi waktu sampai kantor, apa yang Anda lakukan terlebih dahulu? Hayooo…, balik ke kantor sesudah makan siang biasanya jam berapa?

Lanjutkan lagi dengan pertanyaan yang lain; "Kreativitas yang dianugrahkan ke dalam sel abu-abut otak saya sudah diwujudkan jadi apa saja ya hari ini?" Jangan-jangan sel kelabu kita memang tidak pernah dipakai. Atau, jangan-jangan……, dipakainya buat kreativitas yang tidak-tidak, seperti mencari solusi instan yang tidak dibenarkan.

Bagaimana dengan enerji hati yang sebetulnya ada di dalam diri masing-masing? Sudahkah dimanfaatkan untuk lebih membuat suasana kerja lebih nyaman dengan saling menghargai satu sama lain? Sudahkah dimanfaatkan untuk lebih peka dan berempati?

Daftar pertanyaan ini bisa diteruskan sendiri oleh masing-masing dari kita sebagai aktivitas penutup hari. Tujuannya sederhana, untuk memeriksa apakah"tinta-tinta" yang kita miliki sudah ditorehkan dengan benar atau belum.

Selamat menorehkan tinta Anda dengan benar.

Penulis adalah founder Daily Meaning, People Development Consultant.