Digital IQ dan Peran HR

Badai resesi, krisis ekonomi dan berbagai issue menerpa perusahaan-perusahaan di dunia. Banyak yang tumbang karena terlambat menyadari pentingnya Digital IQ.

Perusahaan di dunia saat ini menghadapi kenyataan pahit dalam menghadapi resesi dunia yang terus menerpa. Banyak sekali perusahaan yang tumbang maupun tenggelam dalam menghadapi badai krisis ekonomi, tetapi pada saat yang sama tidak sedikit perusahaan yang secara konsisten dalam tiga tahun terakhir tetap menjadi perusahaan papan atas sekaligus menjadi impian para pencari kerja.

Perusahaan-perusahaan tersebut sebagian sangat kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Infografik di bawah ini menunjukkan 15 perusahaan dunia papan atas dan bagaimana mereka berkontribusi di dalam menciptakan lapangan pekerjaan di awal tahun 2012 ini:

Di sisi lain beberapa perusahaan yang tadinya termasuk perusahaan papan atas yang sangat solid mulai goyah menghadapi berbagai tekanan resesi dan issue-issue strategis, beberapa contoh di antaranya Bank of America yang terkena imbas dari bangkrutnya Lehman Brothers, British Petroleum yang berkali-kali terkena issue mengenai lingkungan di Alaska, Texas City dan Teluk Mexico, juga Mc Donald yang mulai diterpa issue tentang bagaimana bahan makanannya berkontribusi terhadap meningkatnya obesitas dan penyakit jantung di dunia.Banyak sekali yang menganalisa dan memberikan opini bahwa perusahaan-perusahaan tersebut terlambat bereaksi dalam berinvestasi di beberapa komponen Digital IQ. Mc D contohnya, masih mengandalkan kampanye-kampanye secara tradisional dalam membantah dan menjernihkan issue di era dunia yang sudah berkomunikasi melalui social media.

Bagaimana dengan Digital IQ di Asia?

Saya sudah mencoba mencari berbagai referensi mengenai Digital IQ di Asia dan khususnya di Indonesia dan kelihatannya hingga saat ini belum ada pengukuran mengenai Digital IQ di Indonesia.

Untuk skala Asia hasil survey mengenai Digital IQ Asia yang terakhir dilakukan bulan July 2010, mencatat perusahaan seperti Lancome, BMW, Estee lauder, Audi, Clinique, Mercedes Benz, Clarins, Acura dan Cadillac adalah top brand dengan top digital IQ di China.

Salah satu perusahaan China Wuliangye mulai masuk di papan atas Digital IQ. Wuliangye bergerak dalam berbagai bisnis terutama dalam bisnis minuman keras kelas dunia, farmasi, printing, dan electronics. Wuliangye memang masuk ke dalam list minuman di hampir semua restoran China terkemuka di dunia dan sangat aktif berkampanye untuk memasarkan produk-produknya.

Survey mengenai Peran Digital IQ yang dilakukan oleh PWC

PricewaterhouseCoopers (PWC) pada bulan Januari yang lalu telah merilis hasil survey yang menemukan adanya korelasi yang sangat kuat antara perusahaan yang menunjukkan digital IQ yang tinggi dengan kinerja perusahaan. Survey ini dilakukan terhadap 489 perusahaan dari seluruh industri dengan pendapatan per tahun lebih dari US$ 500 juta.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa Digital IQ adalah kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan teknologi dan melakukan berbagai integrasi dan pemanfaatan secara optimal ke dalam bisnis mereka.

Pencerminan kemampuan Digital IQ di dalam suatu perusahaan adalah lebih dari sekedar mengadopsi alat terbaru tetapi lebih jauh lagi adalah tentang bagaimana perusahaan memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam rencana bisnis perusahaan, berinovasi, serta secara tepat membantu proses pengambilan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan bisnis strategis, berinteraksi dengan pelanggan, berinteraksi terhadap karyawannya dan akhirnya menciptakan nilai tambah dan hasil kinerja yang nyata bagi pertumbuahan perusahaan.

Memiliki Digital IQ tinggi adalah penting karena dapat memperdalam tingkat keterlibatan yang akan diperoleh perusahaan dengan karyawan, pelanggan dan mitra bisnis, dimana pada akhirnya akan membantu perusahaan untuk meningkatkan pengembalian dari investasi teknologi yang dilakukan.

Banyak sekali organisasi yang mengadopsi solusi-solusi digital baru seperti contohnya social media platform tanpa memahami nilai bisnis dan apa yang seharusnya dapat diperoleh perusahaan secara stretagis.

Tujuh komponen strategis dalam Digital IQ menurut PWC

Berikut ini adalah tujuh komponen dalam mengukur Digital IQ dari suatu organisasi

1. Mengintegrasikan Teknologi ke dalam Perencanaan Strategis

Secara alami, menciptakan rencana strategis adalah langkah pertama dalam menerapkan apapun di dalam skala besar usaha perusahaan. Namun, efektivitas dari strategi ini adalah yang terpenting. 89% dari perusahaan top performer yang disurvey merasa yakin tentang strategi mereka dibandingkan lainnya. Dari perusahaan yang unggul, 86% mengatakan bahwa CEO mereka adalah CEO yang sangat paham dan aktif dalam penggunaan teknologi informasi untuk mencapai strategi perusahaan. Angka itu turun menjadi 56% untuk responden yang tersisa.Selain itu perusahaan-perusahaan ini kebanyakan memposisikan CIO langsung di bawah CEO-nya.

2. Mengatur dan Berbagi, Roadmap IT jangka pendek, menengah dan panjang untuk Strategi Bisnis Keseluruhan

Dalam tahapan mobilisasi, para level eksekutif perusahaan membuat cetak biru yang terintegrasi secara strategis. Banyak perusahaan memotong langkah-langkah integrasi yang penting dalam perencanaan IT mereka. Perusahaan yang sukses 77% melakukan perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang di dalam implementasi stretegi IT mereka. Angka tersebut berkurang menjadi 54% di antara perusahaan yang bekerja rata-rata.

Selanjutnya, berbagi strategi IT ke seluruh karyawan juga penting untuk keberhasilan perusahaan. 76% dari perusahaan yang top performer mengatakan bahwa strategi mereka dengan baik dikomunikasikan di seluruh perusahaan. Selain itu, 78% dari perusahaan tersebut mengatakan bahwa pemimpin bisnis mereka dan pemimpin IT berbagi pemahaman tentang strategi yang akan dijalankan oleh perusahaan.

3. Menjalankan Proyek  IT secara Tepat Waktu Dalam Perencanaan Anggaran Yang Termonitor dengan Baik.

Memiliki strategi saja ternyata tidak cukup, perusahaan top performer mengatur strategi penerapan proyek IT secara tepat waktu dan sasaran dijalankan oleh hampir 67 % top performer dibandingkan dengan hanya 38 % perusahaan yang bukan top performer yang gagal mengimplementasikan proyek-proyek IT nya sesuai dengan blue print yang sudah dicanangkan dengan disiplin dan tepat waktu.

4. Berinvestasi di Tenaga Kerja Mobile

Perusahaan top performer menghabiskan usaha pemberdayaan mereka dengan prioritas kepada tenaga kerja dengan perangkat mobile. 44% dari perusahaan berkinerja tinggi akan berinvestasi antara $ 250.000 dan $ 1 juta dan 33% lainnya akan berinvestasi lebih dari $ 1 juta. Untuk sisa responden, angka-angka adalah 37% dan 27% masing-masing.

5. Berinteraksi dengan Pelanggan Menggunakan Teknologi Mobile

Hanya 44% dari perusahaan yang disurvei melakukan interaksi dengan pelanggan melalui perangkat mobile “cukup atau sangat signifikan.” Angka itu melompat menjadi 66% di antara top performer.

Sebanyak 50% perusahaan top performer yang sebelumnya menempatkan uang mereka untuk keperluan interaksi langsung berencana untuk menginvestasikan lebih dari 1 juta US$ dalam solusi mobile untuk pelanggan mereka di tahun 2012.

6. Merebut pasar dari Social Media

Perusahaan top performer mengaku melihat lebih banyak manfaat dari usaha mereka dari jaringan lingkungan sekolah dan rekan-rekan social media mereka. 41% dari perusahaan top performer mengatakan manfaat dari investasi mereka di social media dibandingkan dengan 24% perusahaan lainnya yang tersisa dalam survey.

Untuk memperoleh keunggulan yang lebih besar, 40% dari top performer berharap untuk meningkatkan penggunaan social media. Bahkan, 36% dari perusahaan top performer merencanakan untuk berinvestasi hingga US$ 1 juta dalam social media untuk komunikasi internal pada tahun 2012.

7. Investasi di Cloud Computing

Perusahaan top performer berinvestasi lebih agresif di sarana cloud computing dibandingkan dengan yang lain. 52% dari top performer berencana untuk menginvestasikan lebih dari $ 1 juta pada aplikasi cloud computing. Untuk investasi cloud computing 58% dari perusahaan top performer akan menginvestasikan lebih dari US $ 1 juta dollar dibandingkan dengan lainnya.

Secara keseluruhan perusahaan-perusahaan top performer memonitor dengan ketat implementasi strategi IT dan mengambil tindakan-tindakan khusus untuk secara aktif memobilisasi organisasi dalam keberhasilan pelaksanaan seluruh strategi tersebut

Bagaimana pengaruhnya terhadap fungsi HR di organisasi ?

HR secara naluri tradisionalnya cenderung agak lambat meresponse hal-hal yang berbau IT. Fungsi HR cenderung tertinggal di belakang fungsi-fungsi lainnya di dalam kecepatan akselerasi IT. HR cenderung mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati untuk berbagai teknologi baru. Akan tetapi sebenarnya dalam satu dekade ini dunia sudah dihujani oleh banyak teknologi terutama di dalam teknologi komunikasi.

Suka atau tidak suka HR tidak akan memiliki banyak pilihan karena berbagai perubahan telah gencar terjadi di organisasi dewasa ini. Berbagai sumber daya teknologi yang begitu mudah digunakan dan mudah diakses telah deras mengubah bagaimana, di mana dan dengan siapa kita bekerja. Teknologi ini sekarang berdampak langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tempat kerja dengan fungsi HR yang terlibat secara langsung di dalam pengelolaan manajemen kerja.

Chuck Hamilton yang merupakan pakar social learning & smart play leader, IBM Center for Advanced Learning, mengatakan bahwa HR tidak dapat lagi menghindarkan diri untuk melihat teknologi sebagai sesuatu sarana perekat dalam organisasi dan HR juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi pendorong utama bisnis, yang berarti HR saat ini diharapkan dapat berperan aktif menjadi enabler dari suatu organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan strategis bisnis.

Pada akhirnya Digital IQ adalah suatu syarat yang tidak dapat dihindari oleh suatu perusahaan. Untuk itu fungsi HR juga harus dapat menyesuaikan diri untuk dapat segera membuat blue print yang terintegrasi untuk memacu akselerasi bisnis kepada perusahaan, paling tidak HR akan memulai melalui pemenuhan Enterprise Social Media, e-learning dan modul-modul lainnya serta mulai mempertimbangkan beberapa aplikasi yang dapat di-share melalui HR Cloud. Jadi bagi praktisi HR Indonesia, akan bertambah satu lagi kompetensi yang harus dimiliki oleh praktisi HR yaitu kemampuan Digital IQ. Selamat berlomba di era Digital IQ !!

*Penulis, N. Krisbiyanto adalah Senior Partner pada People Consulting

Tags: , , ,