Lagu Indonesia Raya di Kejuaraan Dunia Hoki Es

 

(Oleh : Yurizal Firdaus)*

Hari belum begitu gelap. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Dibelahan bumi bagian utara, bulan Oktober memang merupakan bulan terakhir di musim gugur. Matahari sore masih cukup panjang untuk dapat dinikmati, sebelum mulai memasuki musim dingin untuk 5-6 bulan ke depan. Saya mempercepat langkah, memenuhi janji untuk bertemu seorang teman sore ini. ‘The best seats ever and we got it for free!’ begitu bunyi pesan singkat di facebook saya dua malam sebelumnya.

Malam itu memang akan menjadi malam yang istimewa buat saya dan teman saya. Baru dua minggu yang lalu saya menetap di kota ini. Pekerjaan membawa saya dan keluarga bertugas di Calgary, sebuah kota di Canada dengan penduduk (hanya) 1 juta jiwa. ‘Kamu tiba di saat yang sangat tepat. Beberapa hari lagi kejuaraan dunia hoki es akan dimulai‘ ujarnya ketika kami bertemu. Hoki es memang merupakan pertandingan paling populer di negara ini. Jauh melebihi popularitas American Football. Bahkan, hampir menyerupai agama sebagaimana diamini bagi para penggemar sepakbola di Brasil dan Argentina. Segera pikiran saya membayangkan suasana euphoria ketika demam piala Asia di Jakarta dua tahun lalu. Mengingat kembali bagaimana 80.000 orang memenuhi Gelora Bung Karno untuk memberikan dukungan bagi Bambang Pamungkas dkk.

Jauh lebih istimewa buat teman saya! Karena inilah kali pertama dalam seumur hidupnya yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di kota ini, dia akan menyaksikan tim kesayangannya (Calgary Flames) berlaga melalui tribune VVIP. ‘Saya akan memerlukan waktu 7 tahun jika ingin mendapatkan tiket ini, karena daftar tunggu yang begitu panjang. Orang-orang super kaya di kota ini telah memborong seluruh kursi yang disediakan di tribune ini untuk 2 musim sekaligus’ ujarnya. Ada sekitar 1000 kursi yang disediakan khusus di kelas VVIP ini dan 1 kursinya berharga 250 CAD (Dollar Canada). Artinya, ada 2,5 milyar rupiah yang dihabiskan oleh orang-orang tersebut setiap malam minggunya untuk menonton tim kesayangan mereka berlaga.

Suasana begitu meriah ketika kami tiba. Atmosfir fanatisme dan keceriaan menghangatkan lebih dari 15.000 penonton yang memenuhi Scotiabank Saddledome. Warna merah mendominasi stadion karena setiap orang datang memberikan dukungan dengan mengenakan kostum kebesaran tim mereka. Sebelum pertandingan dimulai, saya menyempatkan diri mampir ke counter yang menjual official jersey mereka. ‘Bagaimana caranya saya memastikan bahwa kostum ini orisinal?’ tanya saya kepada penjaga toko. Lalu dia menunjukkan hologram yang terdapat di kostum seharga 3 juta rupiah tersebut. Saya terkejut bukan karena harganya, namun karena mendapati bahwa seluruh official jersey yang dijual secara resmi sebagai bahan pemasukkan bagi klub hoki es di kota ini tertera ‘made in Indonesia’.

Sungguh hal yang sudah sangat langka, ketika seluruh merek-merek terkenal dunia seperti GAP, Zara, Boss, Calvin Klein sudah begitu didominasi oleh produk-produk buatan Cina, Vietnam, India, Mauritius, Thailand ternyata saya masih bisa mendapati label Indonesia di tempat ini. Imajinasi saya melayang ke sebuah kota bernama Bandung. Hari ini saya menyaksikan ribuan orang, yang tinggal 25,000 km jauhnya dari Bandung begitu bangga mengenakan (bukan hanya) sebuah kostum, namun juga simbol identitas yang dibuat oleh tangan-tangan terampil dari kota tersebut. Ditengah ketatnya persaingan akan upah buruh yang jauh lebih murah di China dan Vietnam. Serta persyaratan super ketat yang ditetapkan bagi sebuah produk negara lain untuk dapat memasuki teritori negara-negara G8. Ternyata, masih ada tempat terhormat bagi produk-produk buatan Indonesia.

Malam itu saya memutuskan, bahwa saya akan menikmati momen malam ini, bukan karena ini adalah pertandingan hoki es pertama saya, bukan pula karena kursi VVIP seharga 2 juta rupiah yang saya duduki. Namun, karena sebuah kepercayaan yang masih diberikan bagi produk Indonesia untuk dapat ikut menjadi bagian, simbol dan identitas dari sebuah kota.

Tepat, sebelum kick-off dimulai, ketika semua orang berdiri untuk menyanyikan God Save The Queen, saya hanya diam dan mengumandangkan Indonesia Raya di dalam hati.

Calgary, 20 Oktober 2011

 

* Praktisi HR, saat ini tinggal dan bekerja di Canada pada sebuah perusahaan minyak dan gas internasional. Selama 10 tahun belajar dan mendapatkan pengalaman praktis di dunia SDM dengan bekerja pada beberapa perusahaan di Indonesia antara lain Nestle, Nielsen dan Freeport.

Tags: ,