Kue mama yang Berseni

Quemama yang Berseni

Berbekal resep dari sang mama, Quemama bertekad menjadi usaha kue berseni yang dikelola secara profesional. Apa resepnya?

Oleh : Rudi Kuswanto

Maraknya ‘pasar subuh’ yang menyajikan berbagai kue memang menarik hati konsumen, tapi beberapa pelaku bisnis kue menyayangkan proses membangun brand yang terlupakan pada pengelolaan kue secara tradisional. Padahal sebuah kue yang dibungkus dengan brand dan kemasan yang menarik, bisa menjadi lahan bisnis yang potensial dan prospektif. Jadi, membangun brand dan profesionalitas di bisnis kue? Tentu saja bisa.

Itulah yang Asdwin Noor lihat dari bisnis kuenya kini. Melihat kondisi bisnis kue yang dijalankan oleh ibunya hanya berjalan di tempat, Asdwin memutuskan untuk fokus membesarkan bisnis kue hasil buatan ibunya. Asdwin prihatin karena bisnis kue ibunya tidak pernah berkembang. “Selama ini dikelola secara tradisional, kalau ada yang pesan barulah dibuatkan atau biasanya kami menitipkan ke warung-warung, tapi itu jumlahnya juga tidak banyak,” ungkap pria perintis bisnis kue bernama Quemama, ini.

Asdwin percaya diri mengatakan bahwa Quemama yang berdasarkan resep ibunya, Sartje Panigoroo Saleh, adalah kue yang rasanya disukai oleh para pelanggannya. Namun ia menyadari bahwa berkompetsi dengan rasa saja belum cukup, butuh brand dan kemasan yang berbeda dengan bisnis kue lainnya.

Brand, desain kotak serta kemasannya menunjukkan bahwa Asdwin mengelola bisnis ini dengan serius dan profesional. Bahkan Asdwin melepaskan statusnya sebagai karyawan salah satu perusahaan minyak dan gas besar di Indonesia, demi membesarkan Quemama. “Saya sudah bertekad bulat. Ibaratnya kapal sudah saya bakar sehingga tidak mungkin lagi untuk balik menjadi orang gajian,” begitu tekadnya.

Ia melihat potensi Quemama ibarat emas terpendam. Apa buktinya? “Saya dan dua saudara saya besar dan bisa kuliah dari usaha kue tersebut,” imbuh ayah dari Aziz F. Noor (8th), Zulfa F Noor (7th) dan Qonita A Noor (4th) ini. Asdwin merasa tertantang untuk mulai mengembangkan usaha keluarga yang sudah dijalani bertahuntahun ke dalam skala yang lebih besar. Ia berpendapat bahwa Quemama memiliki cita rasa yang enak. “ Bahkan kami sudah memiliki pelanggan loyal yang cukup banyak,” tambahnya. Langkah pertamanya adalah membuat kemasan yang berbeda. “Pokoknya kue ini harus naik kelas,” tekadnya.

Asdwin tidak tanggung-tanggung, ia pun berkonsultasi dengan perusahaan konsultan brand. “Di situ kami duduk bersama untuk menggodok brand, pemilihan nama, tipologi huruf, warna dan maknanya serta desain kemasan berikut outlet-nya. Asdwin rela berinvestasi besar untuk brand Quemama ini. “Saya berkeyakinan untuk bisa naik kelas dengan jalan penampilan harus berubah total,” imbuhnya.

Berbekal visi Quemama sebagai merek pilihan untuk berbagai acara keluarga, lembaga, perusahaan serta berbagai kegiatan lainnya. Misi Quemama yaitu berkomitmen pada kualitas, kuantitas penyediaan pelayanan dan akses kue pilihan. Standarisasi kualitas dan kuantitas diwujudkannya dengan cara industrialisasi proses. “Satu lagi, kami berkomitmen untuk tidak pernah menggunakan bahan pengawet untuk semua produk,” tegasnya.

Asdwin juga menyebut Quemama sebagai sebuah seni. “Kami selalu berupaya memberikan pengalaman dan sensasi baru dalam hal menyantap kue. Pengalaman puluhan tahun dalam usaha kue telah memberikan kami kepercayaan diri untuk serius melayani segmen pasar kue yang masih sangat besar. Quemama bukan sekadar komoditi, produk atau brand, namun merupakan experience pelayanan tanpa kompromi kualitas rasa,” tegasnya.

“Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda dalam menikmati kue pilihan. Pengalaman yang bicara tentang kualitas rasa, tampilan, kemasan, pelayanan, pengantaran, dan jaringan toko dan outlet yang profesional. Pola makan kue 10 tahun lalu masih sama dengan pola saat ini. Juga relatif tidak terpengaruh terhadap musim diiringi dengan inovasi jenis pilihan kue yang mengikuti selera pasar generasi muda,” jelasnya penuh percaya diri.

Setelah perjalanan hampir dua tahun, Asdwin merasa bersyukur bahwa apa yang ia rintis dengan brand baru serta cara pengelolaan membuat kue yang lebih profesional, kini mulai bisa dirasakan. “Meski dari sisi aset saya ini boleh dibilang dalam posisi titik nadir, namun melihat penerimaan masyarakat akan brand Quemama seolah telah terbayarkan semua jerih payah kami,” imbuhnya.

Kini, Asdwin bergerak bersama dengan para profesional membesut Quemama. Ia merekrut tiga manajer yaitu Waspada Tedja Bhirawa di lini produksi, Tommy Riansa pada pemasaran dan Nanda Lendi Irawan di bagian SDM. Pembentukan tim ini penting untuk mendukung Quemama sebagai usaha kemitraan untuk masyarakat luas. “Kami menargetkan 25 outlet,” katanya.

Keinginan Asdwin berhenti di angka 25 outlet, ia maksudkan untuk memberi ruang longgar dalam menata kembali internal organisasi. “Saya ingin ke-25 outlet tersebut nantinya matang dulu dan berkinerja cemerlang. Ini jelas lebih baik ketimbang saya membebaskan jumlah outlet tanpa memperhatikan dan lamalama rontok satu per satu. Saya ingin jumlahnya kecil, tapi secara performance bagus dulu,” imbuhnya.

Keputusan ini ada dasar lainnya juga. “Ini memang berangkat dari pengalaman. Kami dulu punya satu outlet yang bagus sekali omsetnya sampai-sampai saya sempat tergoda untuk masuk ke bisnis lain dengan meninggalkan outlet ini. Ternyata saya diingatkan untuk kembali ke Quemama begitu bisnis sampingan yang saya jalankan tidak sesuai harapan. Inilah pelajaran berharga bahwa saya harus fokus terus,” terangnya.

Bagaimana dengan tantang sumber daya manusianya (SDM)? Asdwin memgakui bahwa persoalan SDM menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari seiring dengan berkembangnya UKM (usaha kecil dan menengah), termasuk di Quemama. Lendi Irawan Manajer SDM Quemama membenarkannya. Lendi merasakan dinamika SDM di Quemama. Contohnya? Bagaimana mengatur jadwal kerja di unit operasional dan dapur untuk menjaga ritme persediaan barang di semua outlet. “Yang bikin pusing biasanya adalah melesetnya praktik operasional dari jadwal yang sudah disusun,” ujarnya.

“Apalagi tiap pribadi memiliki emosi, ambisi dan passion yang berbedabeda. Seninya adalah bagaimana bisa mendekati semua awak Quemama tersebut dengan keunikan karakter masing-masing,” tambah Lendi sambil mengakui memiliki trik memberdayakan karyawan-karyawan senior Quemama.

“Biasanya kami mengandalkan karyawan level supervisor untuk menularkan ilmunya dan membimbing karyawan karyawan baru. Dari sini mereka secara tidak langsung akan mendapatkan ilmu bagaimana menjadi leader di kelo mpok – kelompok kecil. Inilah jenjang karier yang kami tawarkan,” katanya.

Sedangkan kiat menjaga agar karyawankaryawan Quemama betah bekerja, Lendi berprinsip sederhana yakni ‘mengorangkan orang’. “Misalnya dengan sering mengajak ngobrol atau menjadi pendengar yang baik kalau karyawan menghadapi masalah. Dengan ‘memanusiakan manusia’, insya Allah mereka akan memberikan timbal balik yang sama kepada kita, “ ujarnya.

Asdwin menerjemahkan konsep ‘memanusiakan manusia’ ini sebagai sikap saling menghormati dan menghargai di antara karyawan. “Bagi saya karyawan-karyawan itu adalah bagian dari keluarga besar Quemama, tidak ada status lebih rendah dari saya. Saya tidak mengambil jarak dengan mereka dan saya pun sering ngobrol dengan karyawan tak ubahnya seperti dengan teman. Saya ingin menyamakan persepsi bahwa kami adalah satu tim,” imbuh Asdwin.

Melalui pembelajaran yang telah diperoleh dan tetap masih ia jalani, Asdwin pun tak lupa berpesan kepada para pelaku UKM lainnya. Asdwin mengajak para UKM agar mulai dari sekarang memikirkan terlebih dahulu bagaimana melakukan branding produk secara profesional.

“Saya paham mereka ini ingin mendapatkan uang cash secara cepat, sehingga tidak mau repot-repot, tidak mau ketemu pelanggan, tampil di publik, bahkan parahnya tidak mau ketemu orang pajak. Ini harus dihentikan karena kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita ini senang minum kopi di kedai milik orang asing, padahal ini ironis karena kita adalah negara penghasil kopi terbesar dunia,” katanya. “ Satu lagi, mari kita bangga dengan brand Indonesia, jangan hanya cinta produk Indonesia tapi ayo beli dan pakai produk Indonesia,” ajak Asdwin bersemangat. n